Sembilan Tema dalam Struktur Surat Albaqarah

Hal semacam ini yang paling saya suka setiap kali mendengarkan ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Beliau sering berbagi ilmu yang tidak terdeteksi oleh muslim minim ilmu seperti saya.

Sebagai contoh, beliau berbagi struktur surat Albaqarah saat #IDW2019. Saya ikut tertarik tentang struktur suatu surat setelah mendengarkan penuh surat Maryam yang beliau bagi melalui akun Facebook-nya.

Selama ini setiap membaca Alqur’an rasanya hanya sebatas wejangan, larangan atau kalimat motivasi saja. Ternyata dalam ceramahnya tentang surat Maryam, saya jadi paham sedikit bahwa surat tersebut mempunyai organisasi pemikiran yang mengagumkan.

Begitu halnya, dengan surat Albaqarah. Surat terpanjang dalam Alqur’an ini oleh pak Nouman terbagi ke dalam sembilan aspek:

  1. Orang beriman, orang yang tidak beriman dan orang munafik
  2. Kisah nabi Adam as, manusia terpilih
  3. Kisah Bani Israil, bangsa terpilih
  4. Kisah nabi Ibrahim
  5. Ka’bah
  6. Bagaimana orang muslim menghadapi cobaan
  7. Hukum dalam Islam, seperti puasa, perceraian
  8. Ketamakan
  9. Sholat

Dari poin pertama hingga terakhir kesemuanya saling berkaitan dimana pusat dari surat ini ada pada bagian Ka’bah. Urutannya seperti ini: Nabi Adam as dan Bani Israil mewakili perjuangan muslim menghadapi cobaan semasa hidup mereka.

Dalam kasus nabi Adam as, beliau gagal melawan bujuk rayu setan akan tetapi berhasil menebus kesalahannya hingga akhirnya kembali menghuni surga. Nasib berbeda dialami oleh Bani Israil yang gagal menebus kesalahannya.

Setelah bisa mengalahkan bisikan setan, nabi Adam as merintis Ka’bah yang dilanjutkan oleh nabi Ibrahim as. Setelah umat muslim selesai bertarung melawan cobaan, ia dihadapkan dengan hukum halal dan haram. Satu penyakit yang ditekanan di sini adalah kerakusan umat muslim.

Mengapa Alloh swt Terkadang Menyebut Dirinya “We” dan “He”?

Saya pernah berpikir Alloh swt berjenis kelamin laki-laki sebagaimana melihat terjemahan Alqur’an yang terkadang menuliskan sebagai “He”. Ternyata ada orang yang bukan penutur bahasa Arab sependapat dengan saya.

Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menyebutkan bahwa “He” dalam bahasa Arab mempunyai arti lain yakni tidak bergender selain merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Pak Nouman menjelaskan oleh sebab itulah kebingungan apakah Alloh swt berjenis kelamin laki-laki atau tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bukan penutur bahasa Arab.

Selain itu, terkadang dalam terjemahan bahasa Inggris, Alloh swt disebut sebagai “We”. Apa itu artinya Alloh swt lebih dari satu? Atas pertanyaan ini, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata “We” lazim digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan otoritasnya. Biasanya kata “We” dipakai dalam kalimat formal dan meski yang mengucapkannya satu saja. Dengan demikian, kata “We” tidak ada hubungannya dengan jumlah Alloh swt yang lebih dari satu melainkan lebih merujuk pada sifat unik-Nya yang Maha Kuasa.

Belajar Bareng Ustadz Nouman Ali Khan yang Sulit Tapi Bikin Ketagihan

Kamis, 21 November 2019

Pukul 20.00 WIB

Suhu pendingin ruangan di ruang Nusa Dua Theatre, Balai Kartini, Jakarta Selatan, mulai menusuk tulang. Kaki dan tangan saya mulai membeku. Hati kecil ingin segera meninggalkan ruangan ini mumpung tempat duduk saya di bagian atas, hanya beberapa meter dari pintu keluar yang kebetulan terbuka.

Kepala saya saat itu turut pusing. Tidak tahu akhwat di sekeliling saya bagaimana bisa dengan cepat menghafalkan kata-kata muslimun, muslimaan, muslimatin dan sebagainya. Sebelum mengikuti sesi hari ini saya telah membaca catatan yang dikirimkan oleh pihak Bayyinah. Saya pikir itu cukup sebagai bekal mengganti materi di hari pertama yang tidak saya ikuti karena harus bekerja.

Ternyata, walau sudah membaca catatan tersebut pun, saya masih plonga-plongo seperti anak kerbau. Berulang kali saya ingin cepat-cepat angkat kaki dari ruangan itu tetapi niat tersebut urung terlaksana sebab pak ustadz mengeluarkan jurus andalannya yang selama ini selalu saya nantikan di tiap ceramahnya.

Seolah gayung bersambut. Pada hari pertama tersebut, cerita sisipan yang lucu pak Nouman paling banyak jika dibandingkan pada sesi Jumat dan Minggu. Beliau mengambil analogi deskripsi tentang broken plural dalam bahasa Arab dengan pengalamannya menjadi murid profesor Wang yang mengeluhkan bahasa Inggris beliau sedangkan pada saat yang bersamaan sang profesor mengeluhkan broken plural bahasa Inggris.

Ketegangan yang awal menyusup otak saya perlahan mulai santai. Sepertinya pak Nouman mempunyai alasan mengapa harus memasukkan cerita yang beberapa agak ngalor ngidul demi menurunkan level kebingungan di otak saya ini. Alhamdulillah, sesi belajar pertama bisa saya lalui tanpa meninggalkan ruangan lebih awal. Buat saya ini menjadi prestasi tersendiri.

Jumat, 22 November 2019

Agar tidak sok tahu seperti hari Kamis, saya menghabiskan Jumat pagi sampai sore dengan menghafal kata-kata dalam kertas kecil yang dibagikan relawan pada bagian registrasi. Ditambah pula saya menghafalkan pronoun. Malu bila kepala kosong seperti hari Kamis. Karena saya sudah bisa menebak gaya pengajaran dari ustadz Nouman, kali ini saya lebih santai dan tenang.

Hanya saja, cara bicara pak ustadz yang memang terkenal cepat membuat otak saya bekerja cukup keras. Peralihan dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab terasa melelahkan sehingga keluar dari ruangan kepala terasa pusing.

Minggu, 23 November 2019

Untuk hari ini, sesi dibuka mulai dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore dengan jeda makan siang selama satu jam. Setelah membahas tentang kata, beliau mulai membedah soal fragmen. Walau hingga sekarang pun, saya masih berjuang menghafal rumus linguistik bahasa Arab, saya sangat terbantu dengan metode pengajaran beliau.

Bisa dimulai dari catatan lengkap yang pertama kali dikirimkan melalui surat elektronik masing-masing peserta dimana di situ tergambar bagaimana upaya beliau menyederhanakan tata bahasa Arab menjadi sangat sistematis dan singkat. Beliau membuat alasan-alasan aturan tata bahasa Arab dengan bahasa yang populer. Seperti “ya karena orang Arab bilang begitu” atau “tidak bisa berhubungan jarak jauh alias no long distance relationship” untuk mengacu pada kata-kata harus berdekatan.

Mungkin hingga akhir #IDW2019 pun, saya belum bisa menghafalkan semua rumus dan kata-kata dalam ilmu nahw. Namun sulitnya belajar linguistik ini membuat otak saya kenyang. Seperti ada teriakan, “aku mau lagi dan lagi. Ayo kasih makan aku terus seperti ini.”

Saya jadi ingat dulu saat belajar Pragmatik dan Linguistik bahasa Inggris saat kuliah betapa saya dan teman-teman takjub dengan diagram pohon linguistik bahasa asing itu. Kami kagum ternyata bahasa Inggris bisa seperti matematika. Hal ini berlaku juga untuk bahasa Arab yang harus saya akui lebih kompleks dari bahasa Inggris.

Sayangnya, untuk saat ini saya belum akan menseriusi linguistik bahasa Arab lantaran otak yang sudah penuh dengan urusan pekerjaan dan pribadi. Yang pasti, baru tiga hari belajar bersama pak Nouman saja saya sudah bisa melihat Alqur’an sebagai bahan eksperimen selanjutnya yang nggak akan pernah habis buat digali. Maaf jika bahasa saya kurang sopan. Berhubung saya orang yang penasaran, sungguh ajaib kali ini rasa penasaran saya jatuh kepada Alqur’an sebab selama ini rasa penasaran saya didominasi oleh ilmu sastra, media dan sejarah. Apakah saya sudah hijrah? Entahlah.. sebab buat saya tidak ada ilmu yang sia-sia meski ada yang mengecapnya sebagai ilmu duniawi sekali pun.

Membuka Pintu Menikmati Manisnya Alquran Bersama Ustad Nouman Ali Khan

Saya sudah membaca kalimat Bismillahirohmanirrohim entah berapa kali dalam sehari. Saya yakin teman-teman juga demikian. Kita pasti membaca itu setiap kali melakukan hal baik. Saking terbiasanya, saya jadi mengabaikan artinya. Lebih tepatnya sih masa bodoh karena sudah sangat biasa.

Siapa sangka salah satu video dakwah yang paling sering saya putar ulang adalah saat ustaz Nouman Ali Khan membahas tentang Bismillahirohmanirrohim. Saat saya sedih, kurang bersyukur dan membutuhkan dakwah positif sekadar mengingatkan sayangnya Alloh swt sama saya, jari saya mencari dakwah beliau tentang topik tersebut.

Ustad Nouman sering menyinggung arti dari ism, arrohman dan arrohim yang selalu membuat saya kagum. Saya yakin beliau sudah sering membahas soal tersebut tetapi setiap kali membawakannya lagi, rasa takjub beliau akan makna ketiga kata tersebut tak pernah luntur. Ada energi yang seolah tak pernah habis menyengat beliau yang lalu menular ke saya yang hanya menyaksikan melalui internet.

Saya berpikir mungkin begitulah jika seorang hamba sudah mencintai Alloh swt sedemikian besar jadi tidak akan pernah merasa lelah menceritakan Dzat yang paling ia sayangi. Sudah puluhan tahun saya hidup belajar mencintai manusia, baru kali ini saya tergerak ingin benar-benar belajar mencintai Alloh swt. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari Alqur’an secara serius.

Saya pernah mencoba mendaftar les bahasa Arab tahun lalu tetapi hanya datang satu kali. Saya merasa sudah stres karena harus menghafal banyak sekali kosakata dan tata bahasa. Akhirnya saya berhenti karena saya sebenarnya membutuhkan belajar bahasa Arab bukan untuk percakapan.

Saya sudah memimpikan ingin belajar bahasa Arab bersama pak Nouman dari lama. Setidaknya saya ingin memperoleh sengatan semangat beliau. Saya ingin merasakan sendiri nikmatnya belajar bahasa Arab yang memang sulit melalui cara yang mudah. Saya meyakini hal tersebut mengingat pak Nouman selalu bisa menyederhanakan topik sulit melalui cara yang sederhana dan mengena. Sering beliau mengambil contoh peristiwa sehari-hari sebagai bahan dakwah.

Oleh sebab itu, saya senang sekali saat NAK Indonesia mengadakan Dream Worldwide. Dream Worldwide adalah program belajar bahasa Arab klasik (tingkat dasar) untuk memahami Alquran. Jadi berbeda dengan belajar bahasa Arab untuk percakapan sehari-hari. Jadwal program dibuat untuk mengakomodasi profesional yang bekerja, pelajar atau mahasiswa dan anak-anak di atas usia 9 tahun.

Ustad akan mengajar langsung selama 8 hari untuk dasar Nahw. Bagi peserta yang datang lebih awal, bisa berinteraksi langsung dengan ustaz seputar materi Dream Worldwide dan lainnya.

Dream Worldwide Jakarta akan diselenggarakan antara 20 dan 28 November 2018. Kursus ini akan berlangsung dari Senin hingga Jumat mulai pukul 7 malam hingga 10 malam. Libur pada hari Sabtu lalu berlanjut pada hari Minggu mulai jam 10 pagi hingga 3 sore.

Kursus ini akan dipandu langsung oleh ustaz Nouman Ali Khan plus ada sesi tanya jawab bagi yang datang lebih awal. Saya sendiri menanti sesi ini supaya bisa sekadar “mencuri dengar” pertanyaan peserta yang lain dan ikut belajar. Saya senang acara akan dilakukan di Nusa Dua Theatre, Balai Kartini, sebab aksesnya yang gampang dari seluruh penjuru Jakarta.

Saya pernah mengikuti Story Night bulan Maret 2019 di tempat yang sama. Di situ saya merasa nyaman sebab tempat yang luas dan disediakan ruang sholat berjamaah. Bentuknya yang teater membuat saya tetap bisa melihat pak Nouman dengan jelas meski berada di bagian atas.

Saya sempat kecewa sebab saat awal dibuka, Dream Worldwide Jakarta sudah ludes. Alhamdulillah, saya ada rezeki saat Dream Worldwide Jakarta dibuka kembali. Langsung saya membeli tiket tersebut karena takut kehabisan lagi. Bagi teman yang ingin membeli, tiket masih tersedia di http://bayyinah.id/ Bisa menghubungi 0812-9062-1429 untuk keterangan lebih lanjut.

Sampai bertemu di Balai Kartini teman-teman!

Seandainya 3 Peristiwa Monumental Nabi Musa As Ini Dibuat Jadi Film..

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bukan tanpa alasan saat #StoryNightJakarta, Nouman Ali Khan menyebut beberapa kali judul animasi bikinan Hollywood, mulai dari The Lion King hingga Finding Nemo. Beberapa penggalan penting dalam hidup Nabi Musa as memang seperti fiksi saja, sukar masuk dalam nalar pikiran manusia. Berikut aku cuplikkan tiga di antaranya, kesemuanya bersumber dari dakwah Nouman Ali Khan:

  1. Saat bayi Musa dibawa ke hadapan Fir’aun

Yang pertama nggak disinggung oleh Nouman Ali Khan saat di Balai Kartini. Aku mengetahui cerita ini melalui salah satu video, yang mohon maaf, udah lupa judulnya, hehe. Dari cerita bagian ini Nouman Ali Khan membuatku sadar betapa banyak penggalan hidup Nabi Musa As yang seperti adegan film.

Setelah bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya sendiri supaya tidak dibunuh oleh tentara Fir’aun, sampailah bayi mungil tersebut ke tangan istri Fir’aun. Pada saat bersamaan, Fir’aun sedang mengumpulkan jenderalnya terkait keinginannya membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Di tengah suasana rapat yang memanas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu masuklah istri Fir’aun dengan membawa bayi Musa yang menggemaskan.

Seketika Fir’aun langsung takjub melihat bayi Musa. Rapat terhenti sejenak lalu Fir’aun menjadi lupa bahwa ia sedang mengumpulkan jenderal untuk membunuh bayi karena melihat bayi Musa yang polos dan lucu.

  1. Saat Nabi Musa as mengkonfrontasi Fir’aun

Dengan pakaian seadanya, Nabi Musa as dan Harun as, saudaranya, memasuki istana Fir’aun. Bangunan megah dengan standar keamanan tinggi mereka lewati demi menyampaikan misi tentang Alloh swt sebagai Tuhan semesta alam dan meminta Fir’aun membebaskan Bani Israil dari perbudakan.

Keduanya nggak membawa senjata, tidak berpakaian berbalut baja atau besi. Tidak membawa kuda gagah atau pengawalan lengkap. Tetapi dua-duanya percaya diri mendatangi seorang tirani dengan reputasi bengis, otoriter dan kuat saat itu. Nabi Musa as datang bukannya tanpa masa lalu yang ia sudah lupakan, yakni pengalaman pahit saat ia tak sengaja membunuh salah satu petugas keamanan Fir’aun. Untungnya Alloh swt sudah memberikan motivasi yang singkat tapi merangkum semua kecemasan nabi Musa as saat itu, yakni QS Asy-Syura ayat 15:

قَالَ كَلَّاۚ فَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

(Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu)! Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sungguh, Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan),

Saat Nabi Musa as masuk ke singgasana Fir’aun tampak jenderal dan para pengawal mengelilingi Fir’aun. Tahta yang megah, ruangan yang begitu luas dan fasilitas tirani yang mewah. Sedangkan Nabi Musa as dan Harun as datang “hanya” bermodal mukjizat dari Alloh swt, yakni kata-kata. Secara sekilas, jurang persiapan fisik dan amunisi yang njomplang tampak dari dua kubu ini.

Yang satu terlihat superior dan yang satunya tampak mini, nggak ada apa-apanya. Siapa sangka dari pemandangan yang terlihat jauh perbedaannya ini, kata-kata Nabi Musa as mengungkirbalikkan kekuatan tirani terbesar dunia saat itu.

  1. Dari rencana pertunjukan sihir menjadi dakwah yang disponsori oleh Fir’aun

Bagian ke-3 terjadi setelah Fir’aun mulai kalah oleh Nabi Musa as. Ia memanggil beberapa tukang sihir di Mesir untuk menghadapi Nabi Musa as. Alloh swt mendokumentasikan peristiwa ini dalam surat Asy-Syura ayat 36 hingga 51. Tadinya Fir’aun berfikir para penyihir tersebut akan menang melawan Nabi Musa as sekaligus mematahkan ajaran tauhid yang ia bawa. Tak pelak, Fir’aun mengumpulkan seluruh rakyat Mesir agar mereka tahu secara langsung bahwa Nabi Musa as adalah seorang pembohong. Para penyihir juga menyepakati sebab dijanjikan imbalan uang oleh Fir’aun sendiri.

Nyatanya, keadaaan berbalik 180 derajat. Alloh swt justru memberikan Nabi Musa as panggung pertama sekaligus akbar untuk berdakwah. Nabi Musa as meminta para penyihir untuk melemparkan tali temali dan tongkat mereka. Kemudian Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang lalu memakan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.

Pada akhirnya, para penyihir tersebut malah sujud dan beriman kepada Alloh swt. Susah payah Fir’aun mengumpulkan para penyihir, merendahkan diri dengan segala iming-iming uang dan kekuasaan pada penyihir tersebut, mengumpulkan rakyat berharap mereka masih menganggapnya Tuhan. Hingga pada akhirnya, Alloh swt mengubah momen tersebut menjadi konvensi dakwah Nabi Musa as sendiri tanpa beliau susah payah mempersiapkannya. Fir’aun lah yang melakukan semuanya.

Bergelar Ulul Azmi Sekalipun, Nabi Musa AS Tetaplah Manusia Biasa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Nabi Musa as merupakan salah satu nabi dengan sematan gelar Ulul Azmi berkat ketabahannya yang luar biasa. Pun demikian ia tetaplah manusia biasa yang mempunyai rasa takut dan cemas saat menerima perintah dari Alloh swt. Nouman Ali Khan menggarisbawahi fase penting ini saat Nabi Musa as menerima perintah dari Alloh swt untuk berbicara dengan Fir’aun guna memperingatkan perilakunya yang sudah melampaui batas.

Dokumentasi tahap ini Alloh swt sebutkan dalam surat asy-Syu’ara’ (Para Penyair), surat ke-26 dalam Alqur’an ayat ke-10 hingga ke-14. Nabi Musa as tidak mengira, Alloh swt memintanya kembali ke Mesir untuk berkonfrontasi langsung dengan Fir’aun setelah beberapa tahun meninggalkan negaranya tersebut agar tidak dibunuh oleh pejabat Mesir paska pembunuhan yang tidak sengaja ia lakukan.

Ketika menerima perintah langsung tersebut, Nabi Musa as sadar betul kemampuannya. Belum lagi, beliau masih teringat dengan kesalahan di masa lalu. Sehingga terjadilah dialog antara Alloh swt dan Nabi Musa as sebagai berikut:

وَاِذْ نَادٰى رَبُّكَ مُوْسٰٓى اَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۙ

10. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu,

قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۗ اَلَا يَتَّقُوْنَ

11. (yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ

12. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku,

وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ

13. sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku).

وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ ۚ

14. Sebab aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.”

Nabi Musa as tidak langsung mengiyakan perintah dari Alloh swt. Ada lima alasan yang beliau kemukakan; takut dibilang pembohong, dadanya terasa sempit, lidahnya yang tidak lancar berbicara dikarenakan kekurangan bicaranya. Maka Nabi Musa as merekomendasikan saudaranya, Harun as, yang ia nilai lebih cakap dalam berbicara. Nabi Musa as tidak menampik takut akan dibunuh. Terlebih dari semuanya, Nabi Musa as takut akan dihinakan di hadapan rakyat Mesir akibat dosanya di masa lalu.

Nouman Ali Khan sengaja mengambil bagian ini untuk menyindir orang yang menurutnya “lebih Islami dari Islam yang sesungguhnya”. Dengan berbekal “Allohu akbar” lalu memotivasi orang untuk rela mati, sebagai contoh. Padahal Alloh swt melalui Islam sangat memaklumi rasa cemas dan takut. Tidak perlu malu pula mengakui seorang muslim butuh bantuan orang lain, terutama dari keluarga sendiri.

Nouman juga menyebut terkadang ketakutan terbesar dalam diri manusia adalah memperoleh penghinaan, seperti yang dialami oleh Nabi Musa as di atas. Beliau takut Fir’aun akan mengungkit pembunuhan yang dia lakukan di masa lalu dan menjadikannya senjata untuk menyerang balik sebelum ia melaksanakan misi mulianya.

#StoryNightJakarta Nouman Ali Khan (Bagian I) Pentingnya Mengakrabi Kisah Nabi Musa AS Lagi dan Lagi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Hmm.. Nabi Musa lagi ya?”

Begitu yang sigap terlintas di benakku tatkala Nouman Ali Khan membuka #StoryNightJakarta di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Minggu (10/3/2019). Beliau memang khas banget orangnya. Langsung ke pokok cerita tanpa banyak basa-basi. Seolah bisa membaca pikiranku, Nouman Ali Khan menyebut sendiri mengapa sih harus berkisah tentang Nabi Musa as, lagi dan lagi.

Sebelum menyimak malam dongeng itu, aku sudah beberapa kali melahap video Nouman tentang Nabi Musa as, baik yang khusus ataupun penggalan dari kisah hidup nabi ini. Jadi wajar kan jika aku bertanya-tanya apalagi yang mesti aku ketahui dari kisah hidup nabi yang satu ini.

Salah satu aspek yang paling aku kagumi dari Nouman adalah beliau terstruktur dalam berkhutbah. Bahkan saat bercerita super panjang, seperti 3,5 jam malam itu pun, Nouman tetap lurus menjaga maksud dakwah walaupun ia menyisipkan banyak sekali cerita kelakar dan himbauan introspeksi diri. Istilahnya, Nouman bisa menjaga agar nggak ngalor ngidul berkepanjangan.

Langsung saja Nouman mengajakku meninjau kembali mengapa sih harus Nabi Musa as lagi?

Jawabannya ada di kemiripan kisah Nabi Musa as dengan Rosululloh Muhammad saw. Jalan hidup dua nabi ini secara garis besar mengandung banyak persamaan meski hidup pada zaman yang berbeda jauh.

Nouman menyebutkan Nabi Musa as menghadapi dua ujian berat dalam hidupnya, yang pertama dari Fir’aun yang mengaku Tuhan. Kedua datang justru dari kaumnya sendiri, Bani Israil. Sama dengan Nabi Muhammad saw, dimana ujian pertama datang dari suku Quraisy lalu berikutnya datang dari kaum muslimin sendiri saat Islam sudah meraih reputasi.

Menghadapi Fir’aun dan suku Quraisy sama-sama membuat dua utusan Alloh swt ini berjuang mati-matian membuktikan siapa Tuhan yang sebenarnya, bahwa mereka tak lain hanya makhluk ciptaan Tuhan yang tidak berhak mengklaim diri sebagai pencipta langit dan bumi.

Sementara menghadapi kaum sendiri yang munafik lain soal. Baik Nabi Musa as dan Muhammad saw mengalami masalah ini saat mereka terbebas dari persoalan pertama. Istilah umumnya, ada musuh dalam selimut. Untuk kasus Nabi Muhammad saw, Alloh swt sampai menurunkan beberapa surat Madaniyah atau surat yang memang diturunkan di Madinah setelah Nabi Muhammad saw hijrah. Saat itu Islam sudah meraih banyak pengikut tetapi bukan berarti tanpa masalah. Yang ada malah golongan muslim munafik yang merongrong citra baik Islam. Surat Al-Munafiqun (ke-63) adalah salah satu contoh surat yang Alloh swt rekam tentang hal ini.

Poin yang kedua tidak Nouman sebut saat #StoryNightJakarta melainkan dalam salah satu videonya. Rasanya pas bila aku sebut di sini. Persamaan antara dua nabi ini adalah Alloh swt memberikan mukjizat terbesar dalam hidup masing-masing nabi ini justru dari kelemahan mereka.

Nabi Musa as dikenal mempunyai masalah dengan pengucapannya. Tak heran ia malah merekomendasikan saudaranya, Harun as, untuk mengemban misi berbicara dengan Fir’aun. Tetapi Alloh swt berkehendak lain. Ia memberikan mukjizat terbesar berupa kata-kata dalam dialog Nabi Musa AS dengan Fir’aun yang membuat sang tirani tak berkutik.

Sedangkan Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang kita tahu, seorang yang buta huruf. Tetapi sabda Alloh swt yang pertama kali turun adalah “iqra’” alias “bacalah”. Padahal Nabi Muhammad saw sama sekali tidak bisa membaca. Selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari, Alqur’an Alloh swt turunkan melalui perantara malaikat Jibril ke Nabi Muhammad saw. Alqu’ran kemudian dibuat menjadi buku untuk wahyu yang sebenarnya berwujud cerita. Menurut Nouman, alasan Alloh swt membuat Alqur’an berupa cerita adalah karena Alloh swt mengetahui manusia akan lebih mudah mengingat jika berupa cerita, bukan buku teks yang cenderung formal.

Buat aku pribadi refleksi sangat penting dari persamaan terakhir dua manusia teladan ini adalah kita nggak pernah tahu bahwa justru kekurangan kita akan menjadi kelebihan kita nantinya. Dan sebaliknya. Terkadang kita juga nggak mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu melakukan hal yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Di situlah peran Alloh swt sangat besar, untuk memampukan kita melakukan hal di luar nalar kita sendiri. Sebab memang hanya Alloh swt yang memahami apa yang Dia ciptakan. Karena hanya Alloh swt lah yang mengetahui mengapa justru kekurangan atau kelebihan kita yang akan membuat kita mengemban amanah besar dariNya.