Seandainya 3 Peristiwa Monumental Nabi Musa As Ini Dibuat Jadi Film..

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bukan tanpa alasan saat #StoryNightJakarta, Nouman Ali Khan menyebut beberapa kali judul animasi bikinan Hollywood, mulai dari The Lion King hingga Finding Nemo. Beberapa penggalan penting dalam hidup Nabi Musa as memang seperti fiksi saja, sukar masuk dalam nalar pikiran manusia. Berikut aku cuplikkan tiga di antaranya, kesemuanya bersumber dari dakwah Nouman Ali Khan:

  1. Saat bayi Musa dibawa ke hadapan Fir’aun

Yang pertama nggak disinggung oleh Nouman Ali Khan saat di Balai Kartini. Aku mengetahui cerita ini melalui salah satu video, yang mohon maaf, udah lupa judulnya, hehe. Dari cerita bagian ini Nouman Ali Khan membuatku sadar betapa banyak penggalan hidup Nabi Musa As yang seperti adegan film.

Setelah bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya sendiri supaya tidak dibunuh oleh tentara Fir’aun, sampailah bayi mungil tersebut ke tangan istri Fir’aun. Pada saat bersamaan, Fir’aun sedang mengumpulkan jenderalnya terkait keinginannya membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Di tengah suasana rapat yang memanas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu masuklah istri Fir’aun dengan membawa bayi Musa yang menggemaskan.

Seketika Fir’aun langsung takjub melihat bayi Musa. Rapat terhenti sejenak lalu Fir’aun menjadi lupa bahwa ia sedang mengumpulkan jenderal untuk membunuh bayi karena melihat bayi Musa yang polos dan lucu.

  1. Saat Nabi Musa as mengkonfrontasi Fir’aun

Dengan pakaian seadanya, Nabi Musa as dan Harun as, saudaranya, memasuki istana Fir’aun. Bangunan megah dengan standar keamanan tinggi mereka lewati demi menyampaikan misi tentang Alloh swt sebagai Tuhan semesta alam dan meminta Fir’aun membebaskan Bani Israil dari perbudakan.

Keduanya nggak membawa senjata, tidak berpakaian berbalut baja atau besi. Tidak membawa kuda gagah atau pengawalan lengkap. Tetapi dua-duanya percaya diri mendatangi seorang tirani dengan reputasi bengis, otoriter dan kuat saat itu. Nabi Musa as datang bukannya tanpa masa lalu yang ia sudah lupakan, yakni pengalaman pahit saat ia tak sengaja membunuh salah satu petugas keamanan Fir’aun. Untungnya Alloh swt sudah memberikan motivasi yang singkat tapi merangkum semua kecemasan nabi Musa as saat itu, yakni QS Asy-Syura ayat 15:

قَالَ كَلَّاۚ فَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

(Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu)! Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sungguh, Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan),

Saat Nabi Musa as masuk ke singgasana Fir’aun tampak jenderal dan para pengawal mengelilingi Fir’aun. Tahta yang megah, ruangan yang begitu luas dan fasilitas tirani yang mewah. Sedangkan Nabi Musa as dan Harun as datang “hanya” bermodal mukjizat dari Alloh swt, yakni kata-kata. Secara sekilas, jurang persiapan fisik dan amunisi yang njomplang tampak dari dua kubu ini.

Yang satu terlihat superior dan yang satunya tampak mini, nggak ada apa-apanya. Siapa sangka dari pemandangan yang terlihat jauh perbedaannya ini, kata-kata Nabi Musa as mengungkirbalikkan kekuatan tirani terbesar dunia saat itu.

  1. Dari rencana pertunjukan sihir menjadi dakwah yang disponsori oleh Fir’aun

Bagian ke-3 terjadi setelah Fir’aun mulai kalah oleh Nabi Musa as. Ia memanggil beberapa tukang sihir di Mesir untuk menghadapi Nabi Musa as. Alloh swt mendokumentasikan peristiwa ini dalam surat Asy-Syura ayat 36 hingga 51. Tadinya Fir’aun berfikir para penyihir tersebut akan menang melawan Nabi Musa as sekaligus mematahkan ajaran tauhid yang ia bawa. Tak pelak, Fir’aun mengumpulkan seluruh rakyat Mesir agar mereka tahu secara langsung bahwa Nabi Musa as adalah seorang pembohong. Para penyihir juga menyepakati sebab dijanjikan imbalan uang oleh Fir’aun sendiri.

Nyatanya, keadaaan berbalik 180 derajat. Alloh swt justru memberikan Nabi Musa as panggung pertama sekaligus akbar untuk berdakwah. Nabi Musa as meminta para penyihir untuk melemparkan tali temali dan tongkat mereka. Kemudian Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang lalu memakan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.

Pada akhirnya, para penyihir tersebut malah sujud dan beriman kepada Alloh swt. Susah payah Fir’aun mengumpulkan para penyihir, merendahkan diri dengan segala iming-iming uang dan kekuasaan pada penyihir tersebut, mengumpulkan rakyat berharap mereka masih menganggapnya Tuhan. Hingga pada akhirnya, Alloh swt mengubah momen tersebut menjadi konvensi dakwah Nabi Musa as sendiri tanpa beliau susah payah mempersiapkannya. Fir’aun lah yang melakukan semuanya.

Advertisements

Bergelar Ulul Azmi Sekalipun, Nabi Musa AS Tetaplah Manusia Biasa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Nabi Musa as merupakan salah satu nabi dengan sematan gelar Ulul Azmi berkat ketabahannya yang luar biasa. Pun demikian ia tetaplah manusia biasa yang mempunyai rasa takut dan cemas saat menerima perintah dari Alloh swt. Nouman Ali Khan menggarisbawahi fase penting ini saat Nabi Musa as menerima perintah dari Alloh swt untuk berbicara dengan Fir’aun guna memperingatkan perilakunya yang sudah melampaui batas.

Dokumentasi tahap ini Alloh swt sebutkan dalam surat asy-Syu’ara’ (Para Penyair), surat ke-26 dalam Alqur’an ayat ke-10 hingga ke-14. Nabi Musa as tidak mengira, Alloh swt memintanya kembali ke Mesir untuk berkonfrontasi langsung dengan Fir’aun setelah beberapa tahun meninggalkan negaranya tersebut agar tidak dibunuh oleh pejabat Mesir paska pembunuhan yang tidak sengaja ia lakukan.

Ketika menerima perintah langsung tersebut, Nabi Musa as sadar betul kemampuannya. Belum lagi, beliau masih teringat dengan kesalahan di masa lalu. Sehingga terjadilah dialog antara Alloh swt dan Nabi Musa as sebagai berikut:

وَاِذْ نَادٰى رَبُّكَ مُوْسٰٓى اَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۙ

10. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu,

قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۗ اَلَا يَتَّقُوْنَ

11. (yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ

12. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku,

وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ

13. sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku).

وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ ۚ

14. Sebab aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.”

Nabi Musa as tidak langsung mengiyakan perintah dari Alloh swt. Ada lima alasan yang beliau kemukakan; takut dibilang pembohong, dadanya terasa sempit, lidahnya yang tidak lancar berbicara dikarenakan kekurangan bicaranya. Maka Nabi Musa as merekomendasikan saudaranya, Harun as, yang ia nilai lebih cakap dalam berbicara. Nabi Musa as tidak menampik takut akan dibunuh. Terlebih dari semuanya, Nabi Musa as takut akan dihinakan di hadapan rakyat Mesir akibat dosanya di masa lalu.

Nouman Ali Khan sengaja mengambil bagian ini untuk menyindir orang yang menurutnya “lebih Islami dari Islam yang sesungguhnya”. Dengan berbekal “Allohu akbar” lalu memotivasi orang untuk rela mati, sebagai contoh. Padahal Alloh swt melalui Islam sangat memaklumi rasa cemas dan takut. Tidak perlu malu pula mengakui seorang muslim butuh bantuan orang lain, terutama dari keluarga sendiri.

Nouman juga menyebut terkadang ketakutan terbesar dalam diri manusia adalah memperoleh penghinaan, seperti yang dialami oleh Nabi Musa as di atas. Beliau takut Fir’aun akan mengungkit pembunuhan yang dia lakukan di masa lalu dan menjadikannya senjata untuk menyerang balik sebelum ia melaksanakan misi mulianya.

#StoryNightJakarta Nouman Ali Khan (Bagian I) Pentingnya Mengakrabi Kisah Nabi Musa AS Lagi dan Lagi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Hmm.. Nabi Musa lagi ya?”

Begitu yang sigap terlintas di benakku tatkala Nouman Ali Khan membuka #StoryNightJakarta di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Minggu (10/3/2019). Beliau memang khas banget orangnya. Langsung ke pokok cerita tanpa banyak basa-basi. Seolah bisa membaca pikiranku, Nouman Ali Khan menyebut sendiri mengapa sih harus berkisah tentang Nabi Musa as, lagi dan lagi.

Sebelum menyimak malam dongeng itu, aku sudah beberapa kali melahap video Nouman tentang Nabi Musa as, baik yang khusus ataupun penggalan dari kisah hidup nabi ini. Jadi wajar kan jika aku bertanya-tanya apalagi yang mesti aku ketahui dari kisah hidup nabi yang satu ini.

Salah satu aspek yang paling aku kagumi dari Nouman adalah beliau terstruktur dalam berkhutbah. Bahkan saat bercerita super panjang, seperti 3,5 jam malam itu pun, Nouman tetap lurus menjaga maksud dakwah walaupun ia menyisipkan banyak sekali cerita kelakar dan himbauan introspeksi diri. Istilahnya, Nouman bisa menjaga agar nggak ngalor ngidul berkepanjangan.

Langsung saja Nouman mengajakku meninjau kembali mengapa sih harus Nabi Musa as lagi?

Jawabannya ada di kemiripan kisah Nabi Musa as dengan Rosululloh Muhammad saw. Jalan hidup dua nabi ini secara garis besar mengandung banyak persamaan meski hidup pada zaman yang berbeda jauh.

Nouman menyebutkan Nabi Musa as menghadapi dua ujian berat dalam hidupnya, yang pertama dari Fir’aun yang mengaku Tuhan. Kedua datang justru dari kaumnya sendiri, Bani Israil. Sama dengan Nabi Muhammad saw, dimana ujian pertama datang dari suku Quraisy lalu berikutnya datang dari kaum muslimin sendiri saat Islam sudah meraih reputasi.

Menghadapi Fir’aun dan suku Quraisy sama-sama membuat dua utusan Alloh swt ini berjuang mati-matian membuktikan siapa Tuhan yang sebenarnya, bahwa mereka tak lain hanya makhluk ciptaan Tuhan yang tidak berhak mengklaim diri sebagai pencipta langit dan bumi.

Sementara menghadapi kaum sendiri yang munafik lain soal. Baik Nabi Musa as dan Muhammad saw mengalami masalah ini saat mereka terbebas dari persoalan pertama. Istilah umumnya, ada musuh dalam selimut. Untuk kasus Nabi Muhammad saw, Alloh swt sampai menurunkan beberapa surat Madaniyah atau surat yang memang diturunkan di Madinah setelah Nabi Muhammad saw hijrah. Saat itu Islam sudah meraih banyak pengikut tetapi bukan berarti tanpa masalah. Yang ada malah golongan muslim munafik yang merongrong citra baik Islam. Surat Al-Munafiqun (ke-63) adalah salah satu contoh surat yang Alloh swt rekam tentang hal ini.

Poin yang kedua tidak Nouman sebut saat #StoryNightJakarta melainkan dalam salah satu videonya. Rasanya pas bila aku sebut di sini. Persamaan antara dua nabi ini adalah Alloh swt memberikan mukjizat terbesar dalam hidup masing-masing nabi ini justru dari kelemahan mereka.

Nabi Musa as dikenal mempunyai masalah dengan pengucapannya. Tak heran ia malah merekomendasikan saudaranya, Harun as, untuk mengemban misi berbicara dengan Fir’aun. Tetapi Alloh swt berkehendak lain. Ia memberikan mukjizat terbesar berupa kata-kata dalam dialog Nabi Musa AS dengan Fir’aun yang membuat sang tirani tak berkutik.

Sedangkan Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang kita tahu, seorang yang buta huruf. Tetapi sabda Alloh swt yang pertama kali turun adalah “iqra’” alias “bacalah”. Padahal Nabi Muhammad saw sama sekali tidak bisa membaca. Selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari, Alqur’an Alloh swt turunkan melalui perantara malaikat Jibril ke Nabi Muhammad saw. Alqu’ran kemudian dibuat menjadi buku untuk wahyu yang sebenarnya berwujud cerita. Menurut Nouman, alasan Alloh swt membuat Alqur’an berupa cerita adalah karena Alloh swt mengetahui manusia akan lebih mudah mengingat jika berupa cerita, bukan buku teks yang cenderung formal.

Buat aku pribadi refleksi sangat penting dari persamaan terakhir dua manusia teladan ini adalah kita nggak pernah tahu bahwa justru kekurangan kita akan menjadi kelebihan kita nantinya. Dan sebaliknya. Terkadang kita juga nggak mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu melakukan hal yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Di situlah peran Alloh swt sangat besar, untuk memampukan kita melakukan hal di luar nalar kita sendiri. Sebab memang hanya Alloh swt yang memahami apa yang Dia ciptakan. Karena hanya Alloh swt lah yang mengetahui mengapa justru kekurangan atau kelebihan kita yang akan membuat kita mengemban amanah besar dariNya.

 

 

 

 

Orang Beriman Tidak Mengenal Sekat Urusan Duniawi dan Akherat

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ

الْحَكِيْمِ

Alqur’an surat Al Jumuah ayat 1

Orang yang benar-benar mempercayai adanya Alloh swt tidak akan semata melihat hidup perkara mencari pahala atau menghindari maksiyat. Mereka tak melihat dunia tempat berlomba mengumpulkan pahala sebagai syarat poin tertentu mencapai surga atau menghindari neraka.

Mereka yang teguh meyakini kebaikan Alloh swt tidak pula memandang Islam sebagai rentetan aturan dan larangan, yang harus mereka jalankan atau hindari dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan landasan tulus dan ikhlas agar mereka tidak melihat Alloh swt sebagai Tuan yang serba menakutkan, penuh hukuman, sangat mengerikan yang akan terus menghantui hari-hari jika mereka berbuat dosa.

Di lain pihak, orang yang benar-benar beriman akan kasih saying Alloh swt juga tidak melulu melihat Dia sebagai teman yang terlampau dekat sehingga kehilangan kebijaksanaan dan kewibawaan di hadapan hamba-hambaNya. Jika hanya menganggap Alloh swt sebagai sahabat saja, orang-orang beriman akan malas dan menganggap remeh segala perintah dan larangan-Nya.

Penceramah ternama Nouman Ali Khan menyebut ayat pertama surat di atas menggambarkan hubungan Alloh swt dengan hamba-Nya melalui empat sifat dari Alloh swt yang Ia sebut sendiri: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Maha Raja dan Maha Perkasa menggambarkan kedudukan Alloh swt yang tak terbandingi kekuasaannya. Mengingat dua sifatNya ini membuat hamba sangat menghormati, takut akan siksaan dariNya jika kita melanggar perintahnya. Akan timbul rasa segan, hormat untuk mentaati segala yang Dia perintahkan.

Maha Suci dan Maha Bijaksana menggambarkan kedekatan Alloh swt dengan orang yang beriman. Dalam hati mereka, Alloh swt adalah yang Paling Mengerti kondisi yang tampak mau pun yang ghaib. Alloh swt pun menjadi yang paling dekat, utama dan pertama dalam hidup mereka.

Empat sifat ini menjelaskan hubungan Alloh swt dengan orang beriman yang “terkadang jauh, terkadang dekat.” Saat jauh di sini maksudnya orang yang beriman memperlakukan Alloh swt sebagai Tuan yang mempunyai otoritas penuh atas diri mereka. Tiada yang bisa mereka lakukan selain menaati dan menjauhi apa yang Alloh swt sudah gariskan.

Sedangkan dekat di sini berarti menginternalisasikan sifat Alloh swt yang sangat menyayangi manusia, bukan hanya orang yang beriman, melebihi siapa pun di dunia ini. Alloh swt pun menjadi yang pertama tempat mengadu, sekadar bercerita hingga mengeluhkan tentang persoalan hidup.

Memaknai secara betul sifat hubungan di atas berarti menyelami makna beriman yang sebenarnya dimana iman atau kondisi keyakinan tiap orang bermain bisa berubah-ubah, jadi bisa “terkadang jauh, terkadang dekat”.

Dibutuhkan perekat dua sifat hubungan seperti ini dan sebaik-baiknya lem adalah rasa bersyukur. Berterima kasih kepada Alloh swt bukan karena ingin Dia mengabulkan doa kita yang lain tetapi berucap syukur dan menghargai segala pemberianNya tanpa syarat. Sudah sepantasnya bersyukur setulus yang kita mampu agar pembatas urusan duniawi dan akherat pupus.

Saat orang yang beriman sedang bekerja dia tak lagi menganggap sedang mengejar hal duniawi. Ketika mereka hendak sholat, tak ada perkataan ingin melakukan urusan akherat. Karena sesungguhnya mereka memahami benar semua yang Alloh swt beri, titipkan pada mereka sudah selayaknya mereka laksanakan dengan baik sebagai seorang abdi yang berterima kasih secara ikhlas.

Perkara apakah akan menambah ganjaran atau tabungan untuk akheratnya kelak, seorang hamba yang beriman tak lagi mempedulikan hal tersebut. Sebab baginya mengabdi dengan sepenuh hati dengan landasan bersyukur itulah yang terpenting.

Alqur’an Menyelamatkanku dari Ketagihan Membaca Artikel Motivasi & “Self-Help”

Aku mulai kembali mengakrabi tulisan tentang motivasi dan self-help beberapa tahun yang lalu karena sebelumnya aku pernah suka membaca buku seperti ini saat zaman kuliah.

Ceritanya, saat itu aku mengintip salah satu akun artis di Twitter lalu melihat si selebriti ini membagikan tautan thoughtcatalog.com. Aku kemudian langsung mengelik tautan tersebut dan jatuh cinta sekali baca. Topik yang begitu nyata buatku dan mungkin buat pembaca secara umum dengan gaya kepenulisan yang sederhana tetapi mengandung pesan yang kuat sangat cocok dengan seleraku.

Bahkan aku mempunyai beberapa penulis favorit, salah satunya Brianna Wiest. Aku paling suka dengan Brianna sebab sudut pandang dia yang agak filosofis dan reflektif. Pada awalnya hanya membaca sebentar tetapi kemudian aku mulai kecanduan.

Beberapa topik yang paling menjadi favorit adalah tentang cara mencintai diri sendiri, bersyukur, bagaimana agar bisa produktif dan sukses tak hanya dalam hal pekerjaan tetapi juga sebagai manusia seutuhnya.

Membaca tulisan seperti ini sangat menyejukkan, pada awalnya. Kalimat-kalimat mutiara yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi yang aku yakin juga dialami oleh sang penulis menjadikan tulisan semacam ini “pelarian” dari kepenatan. Biasanya ketika aku mulai kehilangan rasa percaya diri atau mulai mengeluh, tulisan-tulisan ini akan aku baca lagi. Bahkan ada beberapa judul yang aku baca berulang-ulang saking judul tersebut begitu menggambarkan pengalaman atau “menyuarakan’ masalahku saat itu.

Belum puas sampai di situ. Aku bahkan sempat membeli buku Brianna Wiest via online, mengecek terus situs pribadinya dan berlangganan blog Benjamin Hardy, salah satu penulis psikologi positif yang pernah menjadi penulis tamu di Thought Catalog.

Singkat kata, Thought Catalog membawaku ke banyak penulis, psikolog dan terapis Barat yang memang menjual jasa sebagai psikiater, psikolog dan teman untuk curhat lalu memberikan solusi. Di AS, profesi semacam ini sudah populer dan memang umum dipakai. Nggak mengherankan waktu itu pernah menonton film komedi romantis tentang seorang mak comblang profesional di AS yang jatuh cinta dengan salah seorang kliennya. Di sana bahkan mak comblang saja sudah menjadi pekerjaan resmi.

Ada hal yang menyenangkan dan “dekat” tiap kali membaca artikel motivasi atau self-help. Kalimat yang ditulis seperti dibuat khusus buatku atau buatmu, seperti lagu. Hanya saja, terlalu sering tidak baik.

Waktuku lama-kelamaan jadi habis untuk membaca artikel seperti ini. Padahal dipikir-pikir isinya sama saja, hanya bed acara penulisan karena memang beda penulis. Parahnya, waktuku untuk membaca fiksi atau novel jadi berkurang. Dan yang terburuk adalah aku nggak bergerak atau ambil tindakan atas masalahku, waktuku habis membaca artikel semacam ini.

Dari situlah aku mulai berpikir. Ada yang salah dengan kebiasaanku ini. Aku sudah mulai kecanduan tapi aku nggak tahu bagaimana menghentikan ini semua.

Aku bisa sembuh dari ketagihan ini tanpa rencanaku tetapi aku yakin semua sudah diatur oleh Alloh swt. Setelah masalah pribadi yang cukup berat tahun lalu, teman baikku bernama Vindi Kaldina mengenalkanku pada Nouman Ali Khan, yang sampai sekarang menjadi ustad favoritku.

Dari beliau inilah aku mulai mengenal kembali Alqur’an. Semacam mengakrabi Alloh swt dengan cara yang benar-benar baru melalui kata-kataNya dalam buku ini. Dari kecil aku melihat Alquran sebagai buku perintah dan larangan-Nya semata. Aku tidak mengenal dan memandang Alqur’an sebagai caraNya menuangkan seluruh nasehat selayaknya sahabat bijak penuh cinta dan kasih.

Sering mendengarkan dakwah Nouman tentang Alqur’an lalu mempraktekkan melihat Alqur’an dengan kacamata yang lebih segar dan dekat dengan Alloh swt membuat jiwaku seperti tersaring.

Nggak tahu kapan dan bagaimana ketagihanku membaca artikel motivasi berkurang, bahkan aku sudah nggak lagi mengelik Thought Catalog dan situs sejenis lebih dari setahun. Aku juga sudah berhenti berlangganan blog Benjamin Hardy dan yang lainnya.

Semakin aku memilih membaca Alqur’an dan mendengarkan dakwah Nouman, semakin ketertarikanku membaca artikel psikolog positif meredup dengan sendirinya. Memang Alloh swt adalah sebaik-baiknya teman dan paling mengerti segalanya. Dia tahu aku mulai kecanduan dan tanpa aku meminta langsung, Dia menutup segala keingintahuanku tentang isi artikel motivasi dan lainnya. Subhanalloh..

Sejak mulai mempraktekkan berlari ke Alqur’an tiap kali ada masalah, aku juga semakin tersadarkan harus bisa menyaring bahan bacaan, memilih dan memilah mana yang penting sebab waktuku di dunia terbatas. Fokus membaca pun harus dibatasi pada hal yang dibutuhkan, bukan terlena oleh kilauan kata-kata yang sebenarnya sama. Dari sinilah, akhirnya aku mulai memprioritaskan bacaan hanya pada hal yang memang aku butuhkan saja. Yang pasti fiksi masih aku geluti sampai sekarang.

Paling jenis artikel gaya hidup minimalisme yang masih aku sempat baca, itu pun tidak sesering dulu. Membaca tulisan dengan topik seperti ini bermanfaat untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan terfokus di zaman penuh pengalihan seperti saat ini.

Selebihnya, aku hanya fokus membaca pada Alqur’an, fiksi klasik dan bacaan terkait pekerjaan. Selebihnya, aku memilih kembali ke Nouman Ali Khan, yang artinya kembali belajar Alqur’an. Alhamdulillah…