Treasuring Al-‘Alim, Alloh’s Love for Knowledge

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“In the name of Godthe Most Graciousthe Most Merciful.”

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“And if whatever trees upon the earth were pens and the sea [was ink], replenished thereafter by seven [more] seas, the words of Allah would not be exhausted. Indeed, Allah is Exalted in Might and Wise”. (Surah Al-Luqman ayah 27)

I used the ayat for “colouring” the front part of my graduating paper. I came up with inspiring quotes from movies and authors that I loved for the part. Since I am a Muslim, I needed to complete the sweet words with an ayah from Al’Qur’an. One day, I opened a graduating paper from my friend. Her name is also Eni. Mbak Eni, as I used to call her, introduced me to the ayah.

As I read the ayah containing something about knowledge, I decided to use the ayah for the front part of the paper. In addition, the translation of the ayah read beautiful, which would suit best for my graduating paper that discusses literature.

So, I put the ayah in my paper then I didn’t bother myself to actually dig deeper into it. I read the surah for quite some time but I didn’t realize how the ayah saved me from loneliness and aimlessness in the first few weeks of November 2019.

In some of the previous blog posts, I shared how between October and November, I was half unemployed and lonely. I couldn’t rely on freelancing jobs that had been my income source for six months. I was on my own in spending the days.

I didn’t expect that Alloh swt saved from the bad situations through unthinkable ways. As I also wrote in the blog posts, He gave a job as an English private tutor. The profession that has always stirred mixed feelings for me. I took the job because I needed money. I didn’t realize the job would reopen the thing that I let it dying; knowledge.

Through recalling lessons on English Language, I began reembracing the joy of taking notes. When I was a student, I loved taking notes. I loved letting my mind memorizing what teachers or lecturers shared. Taking notes is a good way to stick lessons longer and deeper into my mind. After the English Language, I applied the same thing for learning copywriting. From one extensive source about copywriting on the internet, I took some important lessons then put them down in a book. What a joy of doing that!

Joining Indonesian Dream Worldwide 2019 with ustadz Nouman Ali Khan widened the love. Whenever I find something challenging and interesting, I imagine myself as a small girl who just finds her favourite toy. Such was I felt every time I found myself buried in the note-taking or struggling to memorize the Arabic words.

Through memorizing some words in the Arabic language, I returned to happy school days when I loved doing so. Despite the current movement on removing cognitive-based education, I love memorization. Some may consider the method doesn’t encourage for critical thinking but at least for me, the concept keeps my brain at work. The practice Insya Alloh keeps me away from dementia later.

Between taking notes and memorization, some parts of me felt alive. Studying with no purpose other than feeding the brain made me realizing how I missed embracing knowledge. Ustadz Nouman said in his Story Night “Whispers” that Alloh swt has the positive attribute “Al-‘Alim” or “the All-Knowing”. He inserts to his slaves the name so that they love studying positive things. And in Islam, Alloh swt elevates the status of those who love studying, especially for the sake of the religion.

Upon hearing the sermon, I truly and completely thank Alloh swt for his blessing that I love studying and observing. The practice “entertains” me as my singlehood period sees no end in sight yet. With internet distraction gets stronger, finding myself reading physical books for hours is very liberating and rewarding.

After I commit myself loving and learning Alqu’ran, my heart feels refreshed. Something always excites my feeling when things start looking boring and dull. Whenever I find myself unmotivated or get scared, remembering that I still have the Qur’an that awaits me on the knowledge-seeking journey erases the negative feeling.

Thanks for the video from ustadz Nouman Ali Khan that I start embarking on the trip of quenching my thirst upon knowledge from the Ultimate Source, who is Alloh swt. After two years of listening to his sermons, how delightful I am to eventually be on the life-long journey that won’t pain me, tire me or demand materialistic things in return. The Book that stands just, firm and loving.

It’s from the Qur’an that I regain my spirit to study for the rest of my life. This time around, I finally stick onto the Book that will always call me back home, to return to Him.

 

Mengapa Alloh swt Terkadang Bersumpah dalam Alqur’an?

Tak jarang kita jumpai Alloh swt bersumpah melalui sesuatu. Ambil contoh surat Al’Asr. Dalam surat ini, Dia bersumpah demi waktu atau masa. Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa sumpah secara umum mempunyai fungsi, yakni untuk mengekspresikan kemarahan, meyakinkan seseorang atau bersaksi di pengadilan. Dalam masyarakat Arab kuno, bersumpah berfungsi untuk memperoleh perhatian khalayak dan memberikan bukti.

Terkait dalam surat Al’Asr, beliau menjelaskan bahwa Alloh swt menjadikan waktu sebagai bukti kerugian umat manusia. Kita bisa menjaga uang kita tetapi tidak akan bisa menggenggam waktu yang terus bergulir.

Sembilan Tema dalam Struktur Surat Albaqarah

Hal semacam ini yang paling saya suka setiap kali mendengarkan ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Beliau sering berbagi ilmu yang tidak terdeteksi oleh muslim minim ilmu seperti saya.

Sebagai contoh, beliau berbagi struktur surat Albaqarah saat #IDW2019. Saya ikut tertarik tentang struktur suatu surat setelah mendengarkan penuh surat Maryam yang beliau bagi melalui akun Facebook-nya.

Selama ini setiap membaca Alqur’an rasanya hanya sebatas wejangan, larangan atau kalimat motivasi saja. Ternyata dalam ceramahnya tentang surat Maryam, saya jadi paham sedikit bahwa surat tersebut mempunyai organisasi pemikiran yang mengagumkan.

Begitu halnya, dengan surat Albaqarah. Surat terpanjang dalam Alqur’an ini oleh pak Nouman terbagi ke dalam sembilan aspek:

  1. Orang beriman, orang yang tidak beriman dan orang munafik
  2. Kisah nabi Adam as, manusia terpilih
  3. Kisah Bani Israil, bangsa terpilih
  4. Kisah nabi Ibrahim
  5. Ka’bah
  6. Bagaimana orang muslim menghadapi cobaan
  7. Hukum dalam Islam, seperti puasa, perceraian
  8. Ketamakan
  9. Sholat

Dari poin pertama hingga terakhir kesemuanya saling berkaitan dimana pusat dari surat ini ada pada bagian Ka’bah. Urutannya seperti ini: Nabi Adam as dan Bani Israil mewakili perjuangan muslim menghadapi cobaan semasa hidup mereka.

Dalam kasus nabi Adam as, beliau gagal melawan bujuk rayu setan akan tetapi berhasil menebus kesalahannya hingga akhirnya kembali menghuni surga. Nasib berbeda dialami oleh Bani Israil yang gagal menebus kesalahannya.

Setelah bisa mengalahkan bisikan setan, nabi Adam as merintis Ka’bah yang dilanjutkan oleh nabi Ibrahim as. Setelah umat muslim selesai bertarung melawan cobaan, ia dihadapkan dengan hukum halal dan haram. Satu penyakit yang ditekanan di sini adalah kerakusan umat muslim.

Mengapa Alloh swt Terkadang Menyebut Dirinya “We” dan “He”?

Saya pernah berpikir Alloh swt berjenis kelamin laki-laki sebagaimana melihat terjemahan Alqur’an yang terkadang menuliskan sebagai “He”. Ternyata ada orang yang bukan penutur bahasa Arab sependapat dengan saya.

Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menyebutkan bahwa “He” dalam bahasa Arab mempunyai arti lain yakni tidak bergender selain merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Pak Nouman menjelaskan oleh sebab itulah kebingungan apakah Alloh swt berjenis kelamin laki-laki atau tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bukan penutur bahasa Arab.

Selain itu, terkadang dalam terjemahan bahasa Inggris, Alloh swt disebut sebagai “We”. Apa itu artinya Alloh swt lebih dari satu? Atas pertanyaan ini, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata “We” lazim digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan otoritasnya. Biasanya kata “We” dipakai dalam kalimat formal dan meski yang mengucapkannya satu saja. Dengan demikian, kata “We” tidak ada hubungannya dengan jumlah Alloh swt yang lebih dari satu melainkan lebih merujuk pada sifat unik-Nya yang Maha Kuasa.

Belajar Bareng Ustadz Nouman Ali Khan yang Sulit Tapi Bikin Ketagihan

Kamis, 21 November 2019

Pukul 20.00 WIB

Suhu pendingin ruangan di ruang Nusa Dua Theatre, Balai Kartini, Jakarta Selatan, mulai menusuk tulang. Kaki dan tangan saya mulai membeku. Hati kecil ingin segera meninggalkan ruangan ini mumpung tempat duduk saya di bagian atas, hanya beberapa meter dari pintu keluar yang kebetulan terbuka.

Kepala saya saat itu turut pusing. Tidak tahu akhwat di sekeliling saya bagaimana bisa dengan cepat menghafalkan kata-kata muslimun, muslimaan, muslimatin dan sebagainya. Sebelum mengikuti sesi hari ini saya telah membaca catatan yang dikirimkan oleh pihak Bayyinah. Saya pikir itu cukup sebagai bekal mengganti materi di hari pertama yang tidak saya ikuti karena harus bekerja.

Ternyata, walau sudah membaca catatan tersebut pun, saya masih plonga-plongo seperti anak kerbau. Berulang kali saya ingin cepat-cepat angkat kaki dari ruangan itu tetapi niat tersebut urung terlaksana sebab pak ustadz mengeluarkan jurus andalannya yang selama ini selalu saya nantikan di tiap ceramahnya.

Seolah gayung bersambut. Pada hari pertama tersebut, cerita sisipan yang lucu pak Nouman paling banyak jika dibandingkan pada sesi Jumat dan Minggu. Beliau mengambil analogi deskripsi tentang broken plural dalam bahasa Arab dengan pengalamannya menjadi murid profesor Wang yang mengeluhkan bahasa Inggris beliau sedangkan pada saat yang bersamaan sang profesor mengeluhkan broken plural bahasa Inggris.

Ketegangan yang awal menyusup otak saya perlahan mulai santai. Sepertinya pak Nouman mempunyai alasan mengapa harus memasukkan cerita yang beberapa agak ngalor ngidul demi menurunkan level kebingungan di otak saya ini. Alhamdulillah, sesi belajar pertama bisa saya lalui tanpa meninggalkan ruangan lebih awal. Buat saya ini menjadi prestasi tersendiri.

Jumat, 22 November 2019

Agar tidak sok tahu seperti hari Kamis, saya menghabiskan Jumat pagi sampai sore dengan menghafal kata-kata dalam kertas kecil yang dibagikan relawan pada bagian registrasi. Ditambah pula saya menghafalkan pronoun. Malu bila kepala kosong seperti hari Kamis. Karena saya sudah bisa menebak gaya pengajaran dari ustadz Nouman, kali ini saya lebih santai dan tenang.

Hanya saja, cara bicara pak ustadz yang memang terkenal cepat membuat otak saya bekerja cukup keras. Peralihan dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab terasa melelahkan sehingga keluar dari ruangan kepala terasa pusing.

Minggu, 23 November 2019

Untuk hari ini, sesi dibuka mulai dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore dengan jeda makan siang selama satu jam. Setelah membahas tentang kata, beliau mulai membedah soal fragmen. Walau hingga sekarang pun, saya masih berjuang menghafal rumus linguistik bahasa Arab, saya sangat terbantu dengan metode pengajaran beliau.

Bisa dimulai dari catatan lengkap yang pertama kali dikirimkan melalui surat elektronik masing-masing peserta dimana di situ tergambar bagaimana upaya beliau menyederhanakan tata bahasa Arab menjadi sangat sistematis dan singkat. Beliau membuat alasan-alasan aturan tata bahasa Arab dengan bahasa yang populer. Seperti “ya karena orang Arab bilang begitu” atau “tidak bisa berhubungan jarak jauh alias no long distance relationship” untuk mengacu pada kata-kata harus berdekatan.

Mungkin hingga akhir #IDW2019 pun, saya belum bisa menghafalkan semua rumus dan kata-kata dalam ilmu nahw. Namun sulitnya belajar linguistik ini membuat otak saya kenyang. Seperti ada teriakan, “aku mau lagi dan lagi. Ayo kasih makan aku terus seperti ini.”

Saya jadi ingat dulu saat belajar Pragmatik dan Linguistik bahasa Inggris saat kuliah betapa saya dan teman-teman takjub dengan diagram pohon linguistik bahasa asing itu. Kami kagum ternyata bahasa Inggris bisa seperti matematika. Hal ini berlaku juga untuk bahasa Arab yang harus saya akui lebih kompleks dari bahasa Inggris.

Sayangnya, untuk saat ini saya belum akan menseriusi linguistik bahasa Arab lantaran otak yang sudah penuh dengan urusan pekerjaan dan pribadi. Yang pasti, baru tiga hari belajar bersama pak Nouman saja saya sudah bisa melihat Alqur’an sebagai bahan eksperimen selanjutnya yang nggak akan pernah habis buat digali. Maaf jika bahasa saya kurang sopan. Berhubung saya orang yang penasaran, sungguh ajaib kali ini rasa penasaran saya jatuh kepada Alqur’an sebab selama ini rasa penasaran saya didominasi oleh ilmu sastra, media dan sejarah. Apakah saya sudah hijrah? Entahlah.. sebab buat saya tidak ada ilmu yang sia-sia meski ada yang mengecapnya sebagai ilmu duniawi sekali pun.