The Surprisingly Inspiring Figure I Never Thought Before

If I were not suffering from unrequited love two years ago, I wouldn’t have known Nouman Ali Khan..

My dearest friend introduced me to his name after I told her about the painful romance. At the end of our e-conversation, she brought up his name along with one of his videos about hope.

I thanked her on our dialogue but deep inside, I wasn’t interested at her suggestion. Never in my life did I rely on an Islamic preach to heal scars in my heart. I thought praying to Alloh swt was sufficient to get me along the rough path.

Somehow, I browsed his name on YouTube. The first of his video that I watched wasn’t about the theme that my friend suggested. That didn’t matter though. Because at an instant, I was hooked by his khutbah.

I forgot the title of his sermon but the first impression has been lingering until now. I was attracted to his straightforwardness and humility. He focused on one ayat only. From there, he drew lines from the ayat to everyday fact.

After that, I clicked on the link that was sent by my friend. The video stunned me even more. I’d like to be brutally honest here.

I have been a muslim for my entire life. I was raised in a muslim neighborhood. Ninety-nine percent of my village residents are muslims. Everything was fine until I was 24 years old. When I began experiencing serious problems in my life at 25, my faith was shaken.

I had terrible situations at work till I resigned from the job. Bit by bit, Alloh swt pulled me away from things that were hindering me closer to Him. The first thing was my profession.

I loved my job so much until I didn’t realize it became my other God, figuratively speaking. So, Alloh swt took the job away from me. After that occurred, my emotion was better although I had to move from one job to the other.

There was one thing that shocked me about Him that persisted at least until last year. It was about romance. Shortly put, I underwent devastating love experiences that I questioned Him a lot. Did He know what was happening to me? Why didn’t it work out? Why couldn’t that guy love me back? Was there something wrong with me?

The ongoing problem caused me turning into a naive person. Yes, I was performing sholat, fasting and giving alms. I read articles about the religion but my heart was putting boundaries. Something was missing.

I hadn’t fully trusted Him yet.

For years, the naivete grew larger. I felt like I was having a dual personality thingy. I couldn’t differentiate which were whispers from satan and which were my ruh statements.

I listened to dakwah from Indonesian ustadz but none of stuck onto my heart. Not because of their materials but because I thought I was naïve. I kept rejecting the truths that came from them.

But Alloh swt knew me very, very well. He knew that my ears couldn’t accept good words from Bahasa Indonesia. Yes, I was that very arrogant. Until my friend mentioned the name of ustad Nouman Ali Khan.

His sermon got into my heart right away. Some of his preaches slapped on my face. Hurtful but healing at the same time. For about two years, I watched his videos regularly. The more I watched his sermons, the more I knew that I wasn’t actually a hypocrite. But satan was whispering into my chests so loudly that his voices blocked me from listening to what my ruh said.

From his dakwah, I began looking for my own vision in life. I started learning to trust Alloh swt for smallest things He gave and gives still. Ustad Nouman is such a brilliant speaker. He really implements what the Alqur’an wants to teach. The simple, timeless guidance that answers all human being problems.

My favorite from his khutbah is when ustadz Nouman invites people to exercise pondering over Alloh’s ayat through everyday objects, including our bodies. Gazing at the stars, bird, sky, moon and sun now becomes fun experiment to replace my addiction to smartphone.

Above all else, I really admire his invitation to us coming back to the Qur’an. I got very used to the Qur’an that I didn’t think of benefiting myself from the book. I thought the book was just for knowledge. But the ustadz always reminds us to make efforts connecting to the book. By heart, not by mind.

This year, I got another terrible experience, again about love. Alhamdulillah that I survived from the heartbreak solely because of His love, forgiveness and caring. After the test, alhamdulillah Alloh swt allowed me joining #IDW2019 and #StoryNightWhisper with the ustadz.

Hang around for a bit for more details about the events. I closed the post by thanking each and every one of you who read the post. May Alloh swt grant us higher Jannah, amiin ya robbal’alamiin..

 

 

Mengapa Alloh swt Terkadang Bersumpah dalam Alqur’an?

Tak jarang kita jumpai Alloh swt bersumpah melalui sesuatu. Ambil contoh surat Al’Asr. Dalam surat ini, Dia bersumpah demi waktu atau masa. Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa sumpah secara umum mempunyai fungsi, yakni untuk mengekspresikan kemarahan, meyakinkan seseorang atau bersaksi di pengadilan. Dalam masyarakat Arab kuno, bersumpah berfungsi untuk memperoleh perhatian khalayak dan memberikan bukti.

Terkait dalam surat Al’Asr, beliau menjelaskan bahwa Alloh swt menjadikan waktu sebagai bukti kerugian umat manusia. Kita bisa menjaga uang kita tetapi tidak akan bisa menggenggam waktu yang terus bergulir.

Sembilan Tema dalam Struktur Surat Albaqarah

Hal semacam ini yang paling saya suka setiap kali mendengarkan ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Beliau sering berbagi ilmu yang tidak terdeteksi oleh muslim minim ilmu seperti saya.

Sebagai contoh, beliau berbagi struktur surat Albaqarah saat #IDW2019. Saya ikut tertarik tentang struktur suatu surat setelah mendengarkan penuh surat Maryam yang beliau bagi melalui akun Facebook-nya.

Selama ini setiap membaca Alqur’an rasanya hanya sebatas wejangan, larangan atau kalimat motivasi saja. Ternyata dalam ceramahnya tentang surat Maryam, saya jadi paham sedikit bahwa surat tersebut mempunyai organisasi pemikiran yang mengagumkan.

Begitu halnya, dengan surat Albaqarah. Surat terpanjang dalam Alqur’an ini oleh pak Nouman terbagi ke dalam sembilan aspek:

  1. Orang beriman, orang yang tidak beriman dan orang munafik
  2. Kisah nabi Adam as, manusia terpilih
  3. Kisah Bani Israil, bangsa terpilih
  4. Kisah nabi Ibrahim
  5. Ka’bah
  6. Bagaimana orang muslim menghadapi cobaan
  7. Hukum dalam Islam, seperti puasa, perceraian
  8. Ketamakan
  9. Sholat

Dari poin pertama hingga terakhir kesemuanya saling berkaitan dimana pusat dari surat ini ada pada bagian Ka’bah. Urutannya seperti ini: Nabi Adam as dan Bani Israil mewakili perjuangan muslim menghadapi cobaan semasa hidup mereka.

Dalam kasus nabi Adam as, beliau gagal melawan bujuk rayu setan akan tetapi berhasil menebus kesalahannya hingga akhirnya kembali menghuni surga. Nasib berbeda dialami oleh Bani Israil yang gagal menebus kesalahannya.

Setelah bisa mengalahkan bisikan setan, nabi Adam as merintis Ka’bah yang dilanjutkan oleh nabi Ibrahim as. Setelah umat muslim selesai bertarung melawan cobaan, ia dihadapkan dengan hukum halal dan haram. Satu penyakit yang ditekanan di sini adalah kerakusan umat muslim.

Mengapa Alloh swt Terkadang Menyebut Dirinya “We” dan “He”?

Saya pernah berpikir Alloh swt berjenis kelamin laki-laki sebagaimana melihat terjemahan Alqur’an yang terkadang menuliskan sebagai “He”. Ternyata ada orang yang bukan penutur bahasa Arab sependapat dengan saya.

Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menyebutkan bahwa “He” dalam bahasa Arab mempunyai arti lain yakni tidak bergender selain merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Pak Nouman menjelaskan oleh sebab itulah kebingungan apakah Alloh swt berjenis kelamin laki-laki atau tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bukan penutur bahasa Arab.

Selain itu, terkadang dalam terjemahan bahasa Inggris, Alloh swt disebut sebagai “We”. Apa itu artinya Alloh swt lebih dari satu? Atas pertanyaan ini, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata “We” lazim digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan otoritasnya. Biasanya kata “We” dipakai dalam kalimat formal dan meski yang mengucapkannya satu saja. Dengan demikian, kata “We” tidak ada hubungannya dengan jumlah Alloh swt yang lebih dari satu melainkan lebih merujuk pada sifat unik-Nya yang Maha Kuasa.

Belajar Bareng Ustadz Nouman Ali Khan yang Sulit Tapi Bikin Ketagihan

Kamis, 21 November 2019

Pukul 20.00 WIB

Suhu pendingin ruangan di ruang Nusa Dua Theatre, Balai Kartini, Jakarta Selatan, mulai menusuk tulang. Kaki dan tangan saya mulai membeku. Hati kecil ingin segera meninggalkan ruangan ini mumpung tempat duduk saya di bagian atas, hanya beberapa meter dari pintu keluar yang kebetulan terbuka.

Kepala saya saat itu turut pusing. Tidak tahu akhwat di sekeliling saya bagaimana bisa dengan cepat menghafalkan kata-kata muslimun, muslimaan, muslimatin dan sebagainya. Sebelum mengikuti sesi hari ini saya telah membaca catatan yang dikirimkan oleh pihak Bayyinah. Saya pikir itu cukup sebagai bekal mengganti materi di hari pertama yang tidak saya ikuti karena harus bekerja.

Ternyata, walau sudah membaca catatan tersebut pun, saya masih plonga-plongo seperti anak kerbau. Berulang kali saya ingin cepat-cepat angkat kaki dari ruangan itu tetapi niat tersebut urung terlaksana sebab pak ustadz mengeluarkan jurus andalannya yang selama ini selalu saya nantikan di tiap ceramahnya.

Seolah gayung bersambut. Pada hari pertama tersebut, cerita sisipan yang lucu pak Nouman paling banyak jika dibandingkan pada sesi Jumat dan Minggu. Beliau mengambil analogi deskripsi tentang broken plural dalam bahasa Arab dengan pengalamannya menjadi murid profesor Wang yang mengeluhkan bahasa Inggris beliau sedangkan pada saat yang bersamaan sang profesor mengeluhkan broken plural bahasa Inggris.

Ketegangan yang awal menyusup otak saya perlahan mulai santai. Sepertinya pak Nouman mempunyai alasan mengapa harus memasukkan cerita yang beberapa agak ngalor ngidul demi menurunkan level kebingungan di otak saya ini. Alhamdulillah, sesi belajar pertama bisa saya lalui tanpa meninggalkan ruangan lebih awal. Buat saya ini menjadi prestasi tersendiri.

Jumat, 22 November 2019

Agar tidak sok tahu seperti hari Kamis, saya menghabiskan Jumat pagi sampai sore dengan menghafal kata-kata dalam kertas kecil yang dibagikan relawan pada bagian registrasi. Ditambah pula saya menghafalkan pronoun. Malu bila kepala kosong seperti hari Kamis. Karena saya sudah bisa menebak gaya pengajaran dari ustadz Nouman, kali ini saya lebih santai dan tenang.

Hanya saja, cara bicara pak ustadz yang memang terkenal cepat membuat otak saya bekerja cukup keras. Peralihan dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab terasa melelahkan sehingga keluar dari ruangan kepala terasa pusing.

Minggu, 23 November 2019

Untuk hari ini, sesi dibuka mulai dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore dengan jeda makan siang selama satu jam. Setelah membahas tentang kata, beliau mulai membedah soal fragmen. Walau hingga sekarang pun, saya masih berjuang menghafal rumus linguistik bahasa Arab, saya sangat terbantu dengan metode pengajaran beliau.

Bisa dimulai dari catatan lengkap yang pertama kali dikirimkan melalui surat elektronik masing-masing peserta dimana di situ tergambar bagaimana upaya beliau menyederhanakan tata bahasa Arab menjadi sangat sistematis dan singkat. Beliau membuat alasan-alasan aturan tata bahasa Arab dengan bahasa yang populer. Seperti “ya karena orang Arab bilang begitu” atau “tidak bisa berhubungan jarak jauh alias no long distance relationship” untuk mengacu pada kata-kata harus berdekatan.

Mungkin hingga akhir #IDW2019 pun, saya belum bisa menghafalkan semua rumus dan kata-kata dalam ilmu nahw. Namun sulitnya belajar linguistik ini membuat otak saya kenyang. Seperti ada teriakan, “aku mau lagi dan lagi. Ayo kasih makan aku terus seperti ini.”

Saya jadi ingat dulu saat belajar Pragmatik dan Linguistik bahasa Inggris saat kuliah betapa saya dan teman-teman takjub dengan diagram pohon linguistik bahasa asing itu. Kami kagum ternyata bahasa Inggris bisa seperti matematika. Hal ini berlaku juga untuk bahasa Arab yang harus saya akui lebih kompleks dari bahasa Inggris.

Sayangnya, untuk saat ini saya belum akan menseriusi linguistik bahasa Arab lantaran otak yang sudah penuh dengan urusan pekerjaan dan pribadi. Yang pasti, baru tiga hari belajar bersama pak Nouman saja saya sudah bisa melihat Alqur’an sebagai bahan eksperimen selanjutnya yang nggak akan pernah habis buat digali. Maaf jika bahasa saya kurang sopan. Berhubung saya orang yang penasaran, sungguh ajaib kali ini rasa penasaran saya jatuh kepada Alqur’an sebab selama ini rasa penasaran saya didominasi oleh ilmu sastra, media dan sejarah. Apakah saya sudah hijrah? Entahlah.. sebab buat saya tidak ada ilmu yang sia-sia meski ada yang mengecapnya sebagai ilmu duniawi sekali pun.