Seandainya 3 Peristiwa Monumental Nabi Musa As Ini Dibuat Jadi Film..

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bukan tanpa alasan saat #StoryNightJakarta, Nouman Ali Khan menyebut beberapa kali judul animasi bikinan Hollywood, mulai dari The Lion King hingga Finding Nemo. Beberapa penggalan penting dalam hidup Nabi Musa as memang seperti fiksi saja, sukar masuk dalam nalar pikiran manusia. Berikut aku cuplikkan tiga di antaranya, kesemuanya bersumber dari dakwah Nouman Ali Khan:

  1. Saat bayi Musa dibawa ke hadapan Fir’aun

Yang pertama nggak disinggung oleh Nouman Ali Khan saat di Balai Kartini. Aku mengetahui cerita ini melalui salah satu video, yang mohon maaf, udah lupa judulnya, hehe. Dari cerita bagian ini Nouman Ali Khan membuatku sadar betapa banyak penggalan hidup Nabi Musa As yang seperti adegan film.

Setelah bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya sendiri supaya tidak dibunuh oleh tentara Fir’aun, sampailah bayi mungil tersebut ke tangan istri Fir’aun. Pada saat bersamaan, Fir’aun sedang mengumpulkan jenderalnya terkait keinginannya membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Di tengah suasana rapat yang memanas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu masuklah istri Fir’aun dengan membawa bayi Musa yang menggemaskan.

Seketika Fir’aun langsung takjub melihat bayi Musa. Rapat terhenti sejenak lalu Fir’aun menjadi lupa bahwa ia sedang mengumpulkan jenderal untuk membunuh bayi karena melihat bayi Musa yang polos dan lucu.

  1. Saat Nabi Musa as mengkonfrontasi Fir’aun

Dengan pakaian seadanya, Nabi Musa as dan Harun as, saudaranya, memasuki istana Fir’aun. Bangunan megah dengan standar keamanan tinggi mereka lewati demi menyampaikan misi tentang Alloh swt sebagai Tuhan semesta alam dan meminta Fir’aun membebaskan Bani Israil dari perbudakan.

Keduanya nggak membawa senjata, tidak berpakaian berbalut baja atau besi. Tidak membawa kuda gagah atau pengawalan lengkap. Tetapi dua-duanya percaya diri mendatangi seorang tirani dengan reputasi bengis, otoriter dan kuat saat itu. Nabi Musa as datang bukannya tanpa masa lalu yang ia sudah lupakan, yakni pengalaman pahit saat ia tak sengaja membunuh salah satu petugas keamanan Fir’aun. Untungnya Alloh swt sudah memberikan motivasi yang singkat tapi merangkum semua kecemasan nabi Musa as saat itu, yakni QS Asy-Syura ayat 15:

قَالَ كَلَّاۚ فَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

(Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu)! Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sungguh, Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan),

Saat Nabi Musa as masuk ke singgasana Fir’aun tampak jenderal dan para pengawal mengelilingi Fir’aun. Tahta yang megah, ruangan yang begitu luas dan fasilitas tirani yang mewah. Sedangkan Nabi Musa as dan Harun as datang “hanya” bermodal mukjizat dari Alloh swt, yakni kata-kata. Secara sekilas, jurang persiapan fisik dan amunisi yang njomplang tampak dari dua kubu ini.

Yang satu terlihat superior dan yang satunya tampak mini, nggak ada apa-apanya. Siapa sangka dari pemandangan yang terlihat jauh perbedaannya ini, kata-kata Nabi Musa as mengungkirbalikkan kekuatan tirani terbesar dunia saat itu.

  1. Dari rencana pertunjukan sihir menjadi dakwah yang disponsori oleh Fir’aun

Bagian ke-3 terjadi setelah Fir’aun mulai kalah oleh Nabi Musa as. Ia memanggil beberapa tukang sihir di Mesir untuk menghadapi Nabi Musa as. Alloh swt mendokumentasikan peristiwa ini dalam surat Asy-Syura ayat 36 hingga 51. Tadinya Fir’aun berfikir para penyihir tersebut akan menang melawan Nabi Musa as sekaligus mematahkan ajaran tauhid yang ia bawa. Tak pelak, Fir’aun mengumpulkan seluruh rakyat Mesir agar mereka tahu secara langsung bahwa Nabi Musa as adalah seorang pembohong. Para penyihir juga menyepakati sebab dijanjikan imbalan uang oleh Fir’aun sendiri.

Nyatanya, keadaaan berbalik 180 derajat. Alloh swt justru memberikan Nabi Musa as panggung pertama sekaligus akbar untuk berdakwah. Nabi Musa as meminta para penyihir untuk melemparkan tali temali dan tongkat mereka. Kemudian Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang lalu memakan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.

Pada akhirnya, para penyihir tersebut malah sujud dan beriman kepada Alloh swt. Susah payah Fir’aun mengumpulkan para penyihir, merendahkan diri dengan segala iming-iming uang dan kekuasaan pada penyihir tersebut, mengumpulkan rakyat berharap mereka masih menganggapnya Tuhan. Hingga pada akhirnya, Alloh swt mengubah momen tersebut menjadi konvensi dakwah Nabi Musa as sendiri tanpa beliau susah payah mempersiapkannya. Fir’aun lah yang melakukan semuanya.

Advertisements

Orang Beriman Tidak Mengenal Sekat Urusan Duniawi dan Akherat

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ

الْحَكِيْمِ

Alqur’an surat Al Jumuah ayat 1

Orang yang benar-benar mempercayai adanya Alloh swt tidak akan semata melihat hidup perkara mencari pahala atau menghindari maksiyat. Mereka tak melihat dunia tempat berlomba mengumpulkan pahala sebagai syarat poin tertentu mencapai surga atau menghindari neraka.

Mereka yang teguh meyakini kebaikan Alloh swt tidak pula memandang Islam sebagai rentetan aturan dan larangan, yang harus mereka jalankan atau hindari dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan landasan tulus dan ikhlas agar mereka tidak melihat Alloh swt sebagai Tuan yang serba menakutkan, penuh hukuman, sangat mengerikan yang akan terus menghantui hari-hari jika mereka berbuat dosa.

Di lain pihak, orang yang benar-benar beriman akan kasih saying Alloh swt juga tidak melulu melihat Dia sebagai teman yang terlampau dekat sehingga kehilangan kebijaksanaan dan kewibawaan di hadapan hamba-hambaNya. Jika hanya menganggap Alloh swt sebagai sahabat saja, orang-orang beriman akan malas dan menganggap remeh segala perintah dan larangan-Nya.

Penceramah ternama Nouman Ali Khan menyebut ayat pertama surat di atas menggambarkan hubungan Alloh swt dengan hamba-Nya melalui empat sifat dari Alloh swt yang Ia sebut sendiri: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Maha Raja dan Maha Perkasa menggambarkan kedudukan Alloh swt yang tak terbandingi kekuasaannya. Mengingat dua sifatNya ini membuat hamba sangat menghormati, takut akan siksaan dariNya jika kita melanggar perintahnya. Akan timbul rasa segan, hormat untuk mentaati segala yang Dia perintahkan.

Maha Suci dan Maha Bijaksana menggambarkan kedekatan Alloh swt dengan orang yang beriman. Dalam hati mereka, Alloh swt adalah yang Paling Mengerti kondisi yang tampak mau pun yang ghaib. Alloh swt pun menjadi yang paling dekat, utama dan pertama dalam hidup mereka.

Empat sifat ini menjelaskan hubungan Alloh swt dengan orang beriman yang “terkadang jauh, terkadang dekat.” Saat jauh di sini maksudnya orang yang beriman memperlakukan Alloh swt sebagai Tuan yang mempunyai otoritas penuh atas diri mereka. Tiada yang bisa mereka lakukan selain menaati dan menjauhi apa yang Alloh swt sudah gariskan.

Sedangkan dekat di sini berarti menginternalisasikan sifat Alloh swt yang sangat menyayangi manusia, bukan hanya orang yang beriman, melebihi siapa pun di dunia ini. Alloh swt pun menjadi yang pertama tempat mengadu, sekadar bercerita hingga mengeluhkan tentang persoalan hidup.

Memaknai secara betul sifat hubungan di atas berarti menyelami makna beriman yang sebenarnya dimana iman atau kondisi keyakinan tiap orang bermain bisa berubah-ubah, jadi bisa “terkadang jauh, terkadang dekat”.

Dibutuhkan perekat dua sifat hubungan seperti ini dan sebaik-baiknya lem adalah rasa bersyukur. Berterima kasih kepada Alloh swt bukan karena ingin Dia mengabulkan doa kita yang lain tetapi berucap syukur dan menghargai segala pemberianNya tanpa syarat. Sudah sepantasnya bersyukur setulus yang kita mampu agar pembatas urusan duniawi dan akherat pupus.

Saat orang yang beriman sedang bekerja dia tak lagi menganggap sedang mengejar hal duniawi. Ketika mereka hendak sholat, tak ada perkataan ingin melakukan urusan akherat. Karena sesungguhnya mereka memahami benar semua yang Alloh swt beri, titipkan pada mereka sudah selayaknya mereka laksanakan dengan baik sebagai seorang abdi yang berterima kasih secara ikhlas.

Perkara apakah akan menambah ganjaran atau tabungan untuk akheratnya kelak, seorang hamba yang beriman tak lagi mempedulikan hal tersebut. Sebab baginya mengabdi dengan sepenuh hati dengan landasan bersyukur itulah yang terpenting.

Merefleksikan Surat Al Kahfi Ayat 109 melalui pekerjaan yang kita lakukan

{قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109) }

Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS: Al Kahfi ayat 109)

Jika kamu bekerja di sebuah bidang, bukan hal yang kebetulan kamu pun akan bertemu dengan orang yang seprofesi. Katakanlah, guru bertemu dengan guru lainnya, berbeda mata pelajaran tetapi intinya tetap mengajar.

Lalu bagaimana jika pekerjaan kamu sendiri tergolong pekerja lepas dan kamu bisa mengerjakan beberapa pekerjaan? Bukan hal yang mengejutkan jika pada akhirnya kamu akan bertemu sesama pekerja lepas lintas sektor.

Seperti itulah yang aku rasakan saat menjadi jurnalis lepas untuk Gizmologi.id dan penerjemah untuk situs Kementerian Keuangan yang khusus memuat berita Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 Oktober lalu di Bali.

Saat aku meliput, misalkan, aku bertemu dengan banyak orang dengan ragam profesi lepas. Sebagai contoh, pembawa acara di konferensi pers yang aku liput. Belum lagi kreator konten yang saat ini lagi populer seiring dengan perkembangan media sosial.

Saat aku bekerja di Bali selama acara IMF-Bank Dunia tersebut, aku bekerja juga dengan rekan yang juga sesama pekerja lepas. Ada yang menjadi konsultan media, admin media sosial hingga orang administrasi dan keuangan.

Semakin teknologi berkembang, aku semakin paham akan ada banyak profesi baru yang menggantikan profesi lama. Salah satunya diriku sendiri yang menulis bukan buat pembaca koran saat aku di The Jakarta Post melainkan buat penikmat media digital. Begitu pula dengan teman atau kenalan di atas, profesi mandiri yang tercipta seiring perubahan zaman dan teknologi.

Lalu aku pun teringat dengan Surat Al Kahfi ayat 109 di atas. Sesungguhnya aku malu sebab aku pernah memilih surat tersebut untuk halaman kutipan di skripsi aku tanpa aku paham maksudnya apa. Waktu itu aku hanya ingin memasukkan kutipan dari Alqur’an dan pas aku membaca ayat itu di lembar skripsi teman kostku, aku pun memilihnya.

Sekarang, setelah puluhan tahun barulah aku sadar betapa ayat tersebut sungguh menakjubkan menggambarkan warisan ilmu Alloh swt dalam Alqur’an yang menuliskan kebesaranNya yang tidak akan habis oleh zaman. Sebagai sumber mencari ilmu, rezeki dan penghidupan bagi hamba-hambaNya.

Maha Kuasa Alloh swt yang dalam ayat tersebut menyebut ciptaan-Nya diibaratkan sebagai lautan. Lautan yang memiliki lapis demi lapis yang tidak akan pernah habis digali oleh seberapa banyak manusia, lintas bidang hingga melewati rentang zaman.

Hal ini seperti halnya Alqur’an yang mempunyai banyak lapis yang tidak akan tamat digali saking kayaknya ilmu yang terkandung di sana.

Ilmu Alloh swt mencakup langit, bumi, udara, hutan, bintang, matahari, atmosfir, dan masih banyak lagi. Di setiap ciptaan-Nya di situlah Alloh swt menitipkan ayat, yang mengandung banyak kearifan, ilmu, peringatan, dan lainnya. Bahkan kita sebagai manusia pun adalah ciptaan-Nya yang dibekali dengan anugerah luar biasa berupa akal.

Dari akal kitalah kita dibekali rasa keingintahuan untuk menggali apa pun yang Dia tinggalkan untuk sarana kita hidup. Dari langit saja sudah tak terkira beragam turunan ilmu dan profesi yang terbentuk. Belum lagi media berita dan media sosial yang memdedikasikan diri mengulas segala hal tentang langit, termasuk planet, asteroid, awan, kabut, dan lainnya. Lalu dari situ, terbentuklah komunitas pencinta astronomi hingga media sosial tersebut tak kuasa hanya menjadi sekadar lapak amatir. Dari situ ia berkembang menjadi media profesional dengan mempekerjakan admin atau bahkan wartawan hingga penulis dengan latar belakang pendidikan terkait agar media tersebut tak hanya jadi ajang kumpul berbagi informasi tetapi sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Sungguh tak terhingga dari satu bagian ciptaan Alloh swt bisa menjadi lahan dengan fungsi yang tak terbatas bagi manusia melalui akal yang Dia titipkan. Subhanalloh.. hal yang sama berlaku juga pada pada bidang yang lain. Aku sendiri selalu kagum, tak henti-hentinya mengagumi kandungan Alqur’an yang meski dibuat sudah lebih dari 1,600 tahun yang lalu, tetapi kearifan dan wejangan di dalamnya tak pernah kadaluwarsa.

Dipikir-pikir saat Rosulluloh Muhammad saw menerima wahyu ini, beliau tidak mengenal telepon, apalagi internet. Tetapi ayat dari Alloh swt tetap relevan hingga zaman dimana teknologi begitu canggih.

Aku juga selalu takjub betapa Alqur’an sanggup menyegarkan cara pandangku tentang hal-hal yang dulu aku tahu  tetapi aku abaikan, contohnya ya tentang ilmu ini. Tentu saja aku tahu tentang ciptaan Alloh swt yang menjadi bahan kajian hingga lapangan kerja bagi umat manusia, katakanlah hutan. Hanya saja aku alfa mensyukuri tersebut sebab aku tidak benar-bena melihatnya dari sudut pandang Alqur’an.

Alhamdulillah.. Sekarang berkat Alqur’an, aku diajari melihat hal yang sama dengan kacamata yang lebih jernih dan sesuai. Yang tersisa pun pada akhirnya kalimat: alhamdulillahirobbil’alamiin..

 

 

Alqur’an Menyelamatkanku dari Ketagihan Membaca Artikel Motivasi & “Self-Help”

Aku mulai kembali mengakrabi tulisan tentang motivasi dan self-help beberapa tahun yang lalu karena sebelumnya aku pernah suka membaca buku seperti ini saat zaman kuliah.

Ceritanya, saat itu aku mengintip salah satu akun artis di Twitter lalu melihat si selebriti ini membagikan tautan thoughtcatalog.com. Aku kemudian langsung mengelik tautan tersebut dan jatuh cinta sekali baca. Topik yang begitu nyata buatku dan mungkin buat pembaca secara umum dengan gaya kepenulisan yang sederhana tetapi mengandung pesan yang kuat sangat cocok dengan seleraku.

Bahkan aku mempunyai beberapa penulis favorit, salah satunya Brianna Wiest. Aku paling suka dengan Brianna sebab sudut pandang dia yang agak filosofis dan reflektif. Pada awalnya hanya membaca sebentar tetapi kemudian aku mulai kecanduan.

Beberapa topik yang paling menjadi favorit adalah tentang cara mencintai diri sendiri, bersyukur, bagaimana agar bisa produktif dan sukses tak hanya dalam hal pekerjaan tetapi juga sebagai manusia seutuhnya.

Membaca tulisan seperti ini sangat menyejukkan, pada awalnya. Kalimat-kalimat mutiara yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi yang aku yakin juga dialami oleh sang penulis menjadikan tulisan semacam ini “pelarian” dari kepenatan. Biasanya ketika aku mulai kehilangan rasa percaya diri atau mulai mengeluh, tulisan-tulisan ini akan aku baca lagi. Bahkan ada beberapa judul yang aku baca berulang-ulang saking judul tersebut begitu menggambarkan pengalaman atau “menyuarakan’ masalahku saat itu.

Belum puas sampai di situ. Aku bahkan sempat membeli buku Brianna Wiest via online, mengecek terus situs pribadinya dan berlangganan blog Benjamin Hardy, salah satu penulis psikologi positif yang pernah menjadi penulis tamu di Thought Catalog.

Singkat kata, Thought Catalog membawaku ke banyak penulis, psikolog dan terapis Barat yang memang menjual jasa sebagai psikiater, psikolog dan teman untuk curhat lalu memberikan solusi. Di AS, profesi semacam ini sudah populer dan memang umum dipakai. Nggak mengherankan waktu itu pernah menonton film komedi romantis tentang seorang mak comblang profesional di AS yang jatuh cinta dengan salah seorang kliennya. Di sana bahkan mak comblang saja sudah menjadi pekerjaan resmi.

Ada hal yang menyenangkan dan “dekat” tiap kali membaca artikel motivasi atau self-help. Kalimat yang ditulis seperti dibuat khusus buatku atau buatmu, seperti lagu. Hanya saja, terlalu sering tidak baik.

Waktuku lama-kelamaan jadi habis untuk membaca artikel seperti ini. Padahal dipikir-pikir isinya sama saja, hanya bed acara penulisan karena memang beda penulis. Parahnya, waktuku untuk membaca fiksi atau novel jadi berkurang. Dan yang terburuk adalah aku nggak bergerak atau ambil tindakan atas masalahku, waktuku habis membaca artikel semacam ini.

Dari situlah aku mulai berpikir. Ada yang salah dengan kebiasaanku ini. Aku sudah mulai kecanduan tapi aku nggak tahu bagaimana menghentikan ini semua.

Aku bisa sembuh dari ketagihan ini tanpa rencanaku tetapi aku yakin semua sudah diatur oleh Alloh swt. Setelah masalah pribadi yang cukup berat tahun lalu, teman baikku bernama Vindi Kaldina mengenalkanku pada Nouman Ali Khan, yang sampai sekarang menjadi ustad favoritku.

Dari beliau inilah aku mulai mengenal kembali Alqur’an. Semacam mengakrabi Alloh swt dengan cara yang benar-benar baru melalui kata-kataNya dalam buku ini. Dari kecil aku melihat Alquran sebagai buku perintah dan larangan-Nya semata. Aku tidak mengenal dan memandang Alqur’an sebagai caraNya menuangkan seluruh nasehat selayaknya sahabat bijak penuh cinta dan kasih.

Sering mendengarkan dakwah Nouman tentang Alqur’an lalu mempraktekkan melihat Alqur’an dengan kacamata yang lebih segar dan dekat dengan Alloh swt membuat jiwaku seperti tersaring.

Nggak tahu kapan dan bagaimana ketagihanku membaca artikel motivasi berkurang, bahkan aku sudah nggak lagi mengelik Thought Catalog dan situs sejenis lebih dari setahun. Aku juga sudah berhenti berlangganan blog Benjamin Hardy dan yang lainnya.

Semakin aku memilih membaca Alqur’an dan mendengarkan dakwah Nouman, semakin ketertarikanku membaca artikel psikolog positif meredup dengan sendirinya. Memang Alloh swt adalah sebaik-baiknya teman dan paling mengerti segalanya. Dia tahu aku mulai kecanduan dan tanpa aku meminta langsung, Dia menutup segala keingintahuanku tentang isi artikel motivasi dan lainnya. Subhanalloh..

Sejak mulai mempraktekkan berlari ke Alqur’an tiap kali ada masalah, aku juga semakin tersadarkan harus bisa menyaring bahan bacaan, memilih dan memilah mana yang penting sebab waktuku di dunia terbatas. Fokus membaca pun harus dibatasi pada hal yang dibutuhkan, bukan terlena oleh kilauan kata-kata yang sebenarnya sama. Dari sinilah, akhirnya aku mulai memprioritaskan bacaan hanya pada hal yang memang aku butuhkan saja. Yang pasti fiksi masih aku geluti sampai sekarang.

Paling jenis artikel gaya hidup minimalisme yang masih aku sempat baca, itu pun tidak sesering dulu. Membaca tulisan dengan topik seperti ini bermanfaat untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan terfokus di zaman penuh pengalihan seperti saat ini.

Selebihnya, aku hanya fokus membaca pada Alqur’an, fiksi klasik dan bacaan terkait pekerjaan. Selebihnya, aku memilih kembali ke Nouman Ali Khan, yang artinya kembali belajar Alqur’an. Alhamdulillah…

 

Sebuah Undangan dari Alqur’an yang Tak Bisa Lagi Aku Abaikan

Setelah sekian puluh tahun menulis, 11 tahun terakhir di antaranya untuk mencari nafkah, tibalah aku di tahap menulis topik yang paling ingin aku hindari. Tema tersebut adalah tentang agamaku sendiri dan Alqur’an, media dimana Alloh swt melalui sunah Rosululloh saw membimbing hidupku selama ini.

Aku paling takut menulis tentang Alloh swt, Alqur’an dan Islam selama ini, setidaknya dalam tulisan panjang yang Insya Alloh akan mulai aku hadirkan di blog ini berikutnya. Aku mempunyai beberapa alasan yang ingin aku bagikan di sini.

Alasan pertama adalah aku tidak mau terlihat atau terdengar seperti penceramah. Kesampingkan dulu ilmu soal Islam dan agama yang masih sangat minim, ide memberitahu, mengarahkan orang lain untuk berbuat baik dan benar sesuai tuntunan Islam (percaya atau tidak) kadang masih terdengar munafik di telingaku. Bagi yang sudah kenal aku, mereka mungkin menganggap aku orang baik tetapi sesungguhnya aku mempunyai sifat keras kepala.

Belakangan baru sadar ternyata keras kepala dan tidak suka diperintah memang sifat alamiah manusia. Butuh waktu untuk sadar. Salah satu orang yang susah diberitahu itu aku. Aku saja susah memberitahu diriku sendiri, bagaimana mungkin aku akan mengajak orang lain pada kebajikan?

Aku juga nggak mau terdengar bijak. Senantiasa berpikir positif menurutku solusi yang terlalu pintas untuk beberapa kasus tertentu. Dunia ini penuh dengan cerita kejam, kawan. Apa cukup hanya dengan berbaik sangka kepada Alloh swt lalu segala masalah akan selesai?

Diriku yang begitu skeptis akan hidup dalam setahunan terakhir menghadapi hantaman masalah pelik hingga aku nggak punya tempat pergi selain kepada-Nya. Bahkan aku nggak bisa lagi menemukan kedamaian dengan mempercayai diriku sendiri.

Di suatu hari pada Oktober/November 2017, babak baruku bersama Alloh swt dimulai. Aku nggak bisa cerita persoalan apa yang aku hadapi saat itu. Hanya saja hal tersebut begitu berat hingga aku tak bisa lagi bercerita kepada sahabat dekatku. Aku pernah di posisi yang kurang lebih seperti ini sebelumnya tetapi kali ini rasanya lebih sulit sebab lawanku adalah kesedihan, keputusasaan dan hilangnya harapan. Sedangkan dulu musuhku adalah kemarahan pada seseorang.

Tetapi justru dari cobaan ini, babak baru hubunganku dengan Alloh swt mulai lebih mendalam dari yang sebelumnya. Melalui proses yang cukup panjang justru aku belajar melakukan hal yang paling susah untuk aku lakukan selama aku hidup selama ini: percaya pada rencana baik-Nya.

Iya, buatku khusnudzon sama Alloh swt itu paling berat. Kenapa? Sebab aku dari kecil terbiasa berjuang memperoleh yang aku mau. Usaha segini, harus dapat segini pula. Aku juga tipikal perencana. Segala harus sesuai jadwal. Kalau sedikit meleset aku stres parah. Berhubung hampir semua yang aku mau terwujud, lama-kelamaan rasa sombong itu mulai membesar. Tanpa disadari aku alfa bahwa semua karena Alloh swt yang memampukan aku.

Titik puncak itu datang di bulan tersebut. Ibarat berpegang pada seutas tali yang tadinya sangat erat, perlahan genggaman itu aku lepaskan. Tali di sini maksudnya segala hal yang di luar kendaliku, termasuk masa depanku sendiri. Segalanya (sampai sekarang) aku percayakan kepada-Nya. Aku banyak belajar meyakini-Nya. Konsep iman kepada Alloh swt seperti terlahir kembali buatku.

Semakin aku berusaha khusnudzon ke Alloh swt, cobaan tak hentinya datang. Dimulai dari kehilangan pekerjaan akhir 2017, menerima pekerjaan baru yang kurang pas, hingga ayahku sakit berbulan-bulan mampir ke timeline hidupku.

Namun malah dalam ujian besar itu aku belajar agar memfokuskan hidup pada hal yang memang penting yang sebelumnya aku abaikan, seperti keluarga dan kesehatan. Di situ aku merasa sangat terharu saat tetangga dan saudara menjenguk bapakku yang sedang sakit. Subhanalloh.. kalau bukan karena Alloh swt yang menguatkan aku, entah apa jadinya aku waktu itu, yang di tengah bapakku yang sakit aku masih harus bekerja dari jarak jauh. Ajaib dipikir aku bisa sekuat itu.

Aku turut membaca dan mempelajari Alqur’an dengan mata yang baru. Aku memang beberapa kali khatam membaca Alqur’an tetapi jujur, aku nggak merasa apa-apa selain kalimat perintah dan larangan.

Alhamdulillah, ceramah dari Nouman Ali Khan mengajakku mempelajari Alqur’an dari dalam hati. Dari proses ini aku jadi paham mengapa belajar Alqur’an yang sesungguhnya hingga memperoleh manfaatnya secara langsung itu teramat sangat sulit. Hingga sekarang aku terus berusaha menjadikan Alqur’an obat penyejuk hati dengan proses refleksi diri. Masih kesulitan sebab memerlukan hati yang bersih dan ikhlas agar bisa benar-benar terhubung langsung ke Alloh swt via Alqur’an ini.

Atas khutbah-khutbah Nouman pula lah serial tulisan ini ada. Jika atas alasan ingin meninggalkan jejak baik di dunia maya, rasanya aku terlalu mulia. Padahal ilmu nggak seberapa. Jika hanya ingin memanfaatkan hadiah titipan dari Alloh swt berupa menulis dan membaca kok rasanya terlalu pendek jika aku hanya berhenti di situ.

Akhirnya, aku menemukan alasan yang pas akhirnya berbagi tulisan seperti ini. Lagi-lagi terinspirasi oleh Nouman Ali Khan (terima kasih banyak pak Nouman), aku memilih menulis serial tulisan ini sebab ingin berbagi kearifan Alloh swt dalam Alqur’an melalui hal-hal kecil yang aku amati, rasakan, dan refleksikan. Tentang hidupku sendiri atau orang lain.

Sebab setiap dari kita adalah bagian dari rencana besar-Nya. Tiap dari yang ada di muka bumi, langit, laut dan seisinya adalah bukti keadilan, kekuasaan dan kehendak-Nya. Ayat-ayat dari-Nya bisa kita rasakan dan saksikan setiap saat, jika kita benar-benar menggunakan akal kita. Dan akan lebih baik lagi jika kita mengimani-Nya.

Bismillahirohmanirrohim.. semua yang benar datang dari Alloh swt, yang salah semuanya murni dariku, hamba yang serba lemah dan penuh khilaf.