Pelajaran dari Arca: Benang Merah Sejarah, Budaya dan Agama

Sementara saya bisa menarik keterikatan antara budaya dan agama, tidak demikian dengan sejarah dan budaya. Apalagi faktor penghubung ketiga elemen tersebut hingga akhirnya saya mengetahuinya secara tak sengaja pada Sabtu, 29 Februari 2020, bersama kawan kental saya. Ovi Harum Wulan.

Kami mengunjungi Museum Nasional di bilangan Medan Merdeka Barat. Hampir dua jam kami habiskan menelusuri ribuan koleksi di museum tersebut. Mungkin kami hanya melewatkan lantai 2 saja. Bagian yang paling menarik perhatian kami adalah Gedung A yang berisikan arca, prasasti dan relief yang mewakilkan periode klasik nusantara.

Kami asyik sekali mengasah rasa penasaran kami bagaimana orang zaman dahulu bisa mengekspresikan jiwa seni dengan cara yang teramat sulit kami bayangkan sebagai manusia modern. Pertanyaan yang muncul di benak kami seperti ini: bagaimana mereka bisa tahu batu ini akan tahan sampai ribuan tahun? Dimana mereka mencari batu jenis tersebut? Darimana mereka memperoleh gambaran Dewa Siwa, Durga atau Ganesha? Apa hanya dari cerita-cerita orang Hindu dan Budha yang pernah mampir ke tanah air?

Di tengah pergulatan pertanyaan yang tidak terjawab tersebut, pikiran saya menangkap satu hal penting sebagaimana menjadi judul unggahan ini. Melalui pengamatan a la kadanya tersebut saya menjadi paham tali pengikat antara agama, budaya dan sejarah yang sampai sekarang masih terlacak jejaknya.

Entah kita ketahui atau tidak, buat saya sendiri percikan pengaruh Hindu dan Budha masih bisa secara gampang kita temui melalui beberapa nama yang masih dipakai. Sebut saja, Airlangga, Durga, Agni hingga Agastya. Secara sepintas, nama-nama tersebut terkesan sangat Jawa dan menarik. Tahu kah bahwa nama tersebut merupakan nama-nama berpengaruh yang terbentang ribuan tahun ke belakang dari pengaruh Hindu dan Budha di nusantara?

Sebagai manusia modern, mayoritas dari kita mungkin hanya mencecap “cita rasa Jawa” melalui nama-nama tersebut. Jika kita benar-benar mau mempelajarinya, nama-nama tersebut menggambarkan betapa kuatnya pengaruh Hindu dan Buddha di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Nama Durga, misalnya, sosok yang disucikan oleh penganut agama Hindu. Ia adalah salah satu pasangan dari Dewa Siwa, salah satu dewa dalam Hindu selain Wisnu dan Brahma. Di museum tersebut, kami menemukan banyak arca Dewi Durga yang digambarkan memiliki delapan tangan, ada yang beberapa di antaranya menunggangi hewan.

Oleh nenek moyang, Dewi Durga cukup populer, ditandai dengan adanya Candi Prambanan yang mendedikasikan bangunan ini untuk sang dewi. Dewi Durga digambarkan sebagai dewi yang cantik dan pemberani.

Melihat arca Dewi Durga, kami sangat terkesima dengan tebak-tebakan buah manggis mengenai apa maksud arca tersebut. Mengapa tangannya ada delapan? Di arca selain dewi ini, kami melihat pula arca manusia setengah lelaki dan setengah perempuan. Ini tergambar dari arca Dewa Siwa yang setengahnya penggambaran Dewi Parvati, salah satu pasangan dewa ini.

Saya terus mencari benang merah dari melihat arca ini dengan menghubungkan antara material tempat membuat arca, makna di balik arca tersebut dan simbol yang ada di arca tersebut. Hingga akhirnya saya menarik beberapa benang merah dari pelajaran hari itu dan beberapa artikel dari sumber terpercaya.

Yang pertama, agama Hindu dan Budha gampang diterima oleh masyarakat Nusantara saat itu yang menganut paham animisme dan dinamisme. Nenek moyang kita memuja hewan dan alam sebelum dua agama ini masuk ke Indonesia. Tak mengherankan dalam banyak arca kami jumpai lambang hewan, seperti gajah dan lembu. Bunga sebagai aksesoris telah menjadi penghias banyak arca perempuan di museum itu pula.

Dari keterangan yang terpampang jelas di selasar Gedung A, kami memperoleh informasi bahwa para seniman saat itu memperoleh deskripsi Dewa Siwa, Wisnu dan lainnya dari Ramayana dan Mahabharatha yang diceritakan oleh orang Hindu dan Budha yang mampir lalu berbaur dengan penduduk lokal.

Lagi-lagi, saya belajar pentingnya menggunakan budaya untuk menyebarkan suatu paham atau agama. Hal yang sebenarnya digunakan oleh Wali Songo untuk memperkenalkan agama Islam di Jawa.

Sementara agama Budha terlihat lebih sederhana tanpa banyak penghias seperti arca berbasis agama Hindu. Saya pernah memperoleh informasi dari seorang arkeolog bahwa mengetahui peran dan jenis pendeta Budha dapat diketahui dari posisi tangan mereka.

Di museum tersebut terdapat beberapa arca pendeta Budha yang meski jumlahnya tak sebanyak dewa Hindu, arca tersebut terlihat besar. Ada patung Buddha Tathagata Ratna Amoghasiddhi dengan posisi tangan naik seperti memberi restu. Posisi tangan yang disebut mudra ini berarti sikap yang tidak gentar.

Selain arca atau patung yang khusus berisikan dewa Hindu atau pendeta Buddha, kami menjumpai patung Bhairawa, yang bisa dibilang ikon dari museum ini. Dengan tinggi sekitar 4 meter, Bhairawa diduga merupakan perwujudan raja Adityawarman. Beliau pernah menjadi perdana Menteri Kerajaan Majapahit lalu dikirim sebagai raja bawahan Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi atau nama lain dari pulau Sumatera pada 1339. Pada 1347, Adityawarman membuat kerajaan baru bernama Malaypura. Namanya termahsyur bagi warga Sumatera hingga tercipta Museum Adityawarman di Padang, Sumatera Barat.

Patung ini sungguh mengusik pikiran saya. Selain ukurannya yang sangat besar, patung tersebut berdiri di atas seonggok tengkorak dengan salah satu tangan memegang seperti pisau. Bhairawa adalah dewa raksasa dalam aliran sinkretisme Tantrayana yang memanifestasikan Siwa sekaligus Buddha sebagai raksasa menakutkan.

Ada begitu banyak di kepala yang ingin saya tumpahkan. Mungkin akan bersambung di kemudian hari. Unggahan kali ini saya sengaja tidak terlalu mendalam sebab ingin berbagi hal besar sebagai penanda identitas kita sebagai bangsa dari kacamata seorang yang memang awam.

Begitu banyak pelajaran penting dari arca, yang bagi seorang awam seperti saya pun bukan semata batu berisikan gambar orang zaman dulu. Dari arca tersebut, terbentang sejarah yang menggambarkan pengaruh budaya dan agama Hindu dan Buddha hingga memasuki ranah raja dan rakyat kecil masa itu.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s