Harus Berhenti Menjadi Pengemis “Terima Kasih”

Saat kamu memutuskan menjadi manusia yang lebih baik, godaan akan terasa sangat nyata. Seperti ada mata batin yang terbuka lebar mengerumuni dirimu tatkala kamu ingin memperbaiki ucapanmu, perbuatanmu, hingga pikiranmu.

Aku bersyukur sekali Allah swt menekankan keseimbangan. Bahkan dalam hal beribadah, Rosulullah Muhammad swt menjadi contoh bagaimana setiap perbuatan dan pemikirannya mencerminkan Islam yang teramat sangat menekankan keadilan. Tak mengherankan beliau bisa menjaga keseimbangan antara dakwah, keluarga hingga kesehatannya. Mengapa? Karena beliau sangat memahami arti ibadah yang sesungguhnya, Islam yang menyeluruh seperti apa. Bahwa beribadah bukan hanya saat sholat atau berpuasa.

Aku belajar banyak tentang seimbang berbuat baik, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Dari kecil aku memang mempunyai empati yang tinggi. Bahkan terkadang terlampau tinggi sampai aku terlalu banyak memikirkan orang lain. Sebagai contoh, jika melihat ada penjual di jalan, usia berapa pun, aku bisa terpikirkan bagaimana jika jualan mereka nggak laku. Terkadang aku beli, jika ada uang. Tapi lebih sering aku hanya bisa berdoa dalam hati sebab banyak dari barang yang mereka jual aku tidak butuh. Belum lagi aku takut nanti menjadi mubazir.

Berhenti dulu melanjutkan membaca ini. Aku menulis ini bukan untuk sombong atau apa. Aku berbuat baik karena aku (akhirnya) memahami karena Allah swt yang memampukan aku. Berbuat baik adalah fitrah setiap orang. Setiap bayi dilahirkan suci. Setiap manusia menyukai kebaikan. Ada kebahagiaan setiap kali menolong orang lain. Itu menggugurkan dosa, memercikkan air segar di relung hati terdalam. Jadi bahwa aku berbuat baik sebenarnya aku berbuat adil buat diriku sendiri. Berbuat baik itu buatku sendiri bukan buat orang lain. Jika tidak percaya, coba saja!

Aku pernah merasa “terbebani” berbuat baik. Sampai sekarang masih demikian. Dan Masya Allah betapa Allah swt mengajarkanku aku sangat jauh dari sempurna. Bahwa sekali lagi, berbuat baik pun membutuhkan prioritas dan ukuran yang pas, menurut-Nya.

Hampir lima tahun aku bergabung dengan Ketimbang Ngemis Jakarta. Jika teman-teman belum pernah mendengar komunitas ini, silahkan mengunjungi situs kami ini. KNJ ini komunitas yang “aku banget”. Sudah lama aku mendamba aktif di organisasi yang fokus dengan lansia yang menolak mengemis. Mereka berusia lanjut yang tetap gigih mencari nafkah dengan menjual barang atau jasa.

Aku yang dulu paling malas bergaul di organisasi mendadak sangat bersemangat di sini. Aku menemukan keluarga baru dari orang yang awalnya sama sekali asing. Tetapi ada sisi gelap lain yang perlahan menemukan “panggung”, besar dan semakin membesar hingga akhirnya membuatku celaka sendiri.

Sisi gelap itu bernama kesombongan. Di KNJ, teman-teman mempercayakanku sebagai sekretaris lalu penasehat hingga sekarang. Aku yang paling menghindari popularitas pelan-pelan menjadi orang yang berpengaruh. Terlebih karena aku termasuk yang tua dan senior. Menjadilah segala keangkuhan di dalam dada.

Aku mulai marah jika tak ada teman di grup LINE yang merespons informasi yang aku bagikan. Aku berubah jengkel jika di grup tertentu aku mengatakan sesuatu tetapi hanya berakhir dengan status “dibaca” saja. Aku gampang sekali berprasangka buruk dengan teman-temanku. Aku selalu mengira diriku yang paling mulia.

Walau aku jarang mengeluh tetapi Allah swt tahu benar aku sangat terluka oleh ekspektasiku sendiri. Aku sangat kecewa mengapa mereka begini dan begitu padahal kami satu visi dalam komunitas ini. Aku tak sadar setan sangat lihai memoles egoku. Alhamdulillah, akhirnya aku sadar hikmah dari ini semua. Bahwa aku hanya bisa berbuat semampuku. Mengharap balasan dari orang lain itu hanya akan membuat kita stres sendiri. Sungguh menjadi orang ikhlas itu sulit. Ujian pujian dan kekuasaan itu sangat berat. Setelah cukup bisa mengatasi ujian tersebut, muncul ujian berikutnya. Kali ini lebih berat.

Sementara di KNJ aku sering bertemu langsung dengan teman-teman, aku tertolong dengan sikap kami saat bertatap muka langsung. Segala prasangka buruk saat komunikasi online sirna saat kami berbincang langsung yang selalu menyenangkan dan menemukan solusi setiap ada masalah.

Tahun lalu, tepatnya akhir 2019, aku aktif di komunitas lain. Kali ini murni 100% online. Kami belum pernah bertemu secara langsung, setidaknya aku belum pernah bertemu dengan mereka. Aku sudah meniatkan diri ingin berbuat baik dengan membantu menerjemahkan video hingga teks.

Tetap saja setan lihai mengusik niat baikku ini. Padahal aku berbuat baik itu pun semata karena ingin berterima kasih atas bantuan dari Allah swt atas ujian patah hati yang telah aku lalui dengan selamat.

Aku mulai menunggu pengakuan dari anggota komunitas tersebut. Sekadar terima kasih atau apresiasi apa. Memalukan ya? Aku ingin memperoleh pengakuan sama seperti dengan mereka yang berbagi catatan atau rangkuman dakwah. Menerjemahkan itu sulit loh. Beda banget dengan hasil Google Translate.

Picik sekali diriku ini. Otak dan hatiku memang murni pedagang yang hanya memikirkan untung dan rugi. Lagi-lagi Allah swt mengajarkanku sangat sulit menjadi orang yang ikhlas dan mengharap apa-apa hanya dari Dia sebagai yang Maha Adil. Alhamdulillah, Dia selalu mengingatkanku tentang bahaya setan dari depan sebagaimana pernah dibahas oleh ustadz Nouman Ali Khan.

Alasanku menulis ini adalah berbagi pengalaman bahwa sombong dalam berbuat baik bisa membuat kita lupa diri. Mudah menghakimi orang lain lalu menganggap diri kita paling benar. Padahal siapa tahu, mereka mendoakan kita diam-diam tanpa memberitahukan ke kita langsung. Siapa tahu juga mereka sedang sibuk atau sakit hingga cuek dengan chat dari kita dan sebagainya. Pada akhirnya kita juga harus bersimpati dan peka dengan kondisi orang lain.

Akhirnya, aku selalu mengingatkan diri untuk banyak mengenali serangan setan dari arah depan ini. Sambil belajar mengabaikan jika rasa sombong itu mulai menghinggapi. Sekarang baru ingat ada pepatah lama yang bilang agar jangan kita sibuk mengingat kebaikan kita.

Itu bener banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s