“Jika Alloh Swt Tahu Segalanya, Mengapa Aku yang Bersalah?”

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

“Bukan pertanyaan yang asing buatku”.
Suatu ketika, ada seorang peserta khutbah yang menanyakan judul tersebut kepada ustadz Nouman Ali Khan. Beliau menceritakan kisah tersebut dalam #StoryNightWhisper di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Jumat, 29 November 2019.

Dalam #StoryNightWhisper itu, ustad Nouman Ali Khan mengangkat kisah turunnya nabi Adam As ke bumi dan sejarah setan menjadi musuh nyata bagi kita. Ada banyak sub tema dari khutbah yang ingin sekali aku tulis. Aku ingin memulai isi khutbah beliau tentang pertanyaan di atas. Alasannya sederhana. Suatu waktu aku pernah menanyakan hal tersebut pada diriku sendiri dan Alloh swt saat rencana tak berjalan sesuai harapanku.

Ustadz Nouman menggunakan surat Al-Mujadilah ayat 11, Al-Baqarah ayat 30, surat Sad ayat 71, surat Sad ayat 72 dan surat Al Araf ayat 12 sebagai pijakan atas dakwahnya malam tersebut.

Menyalahkan Alloh swt seperti judul di atas ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Kesemuanya bermula saat Alloh swt mengadakan pertemuan dengan iblis dan malaikat tentang rencana-Nya menurunkan manusia sebagai khalifah ke muka bumi.

Bumi, binatang, malaikat dan iblis telah ada sebelum Alloh swt menciptakan manusia. Dalam konvensi bersama malaikat dan iblis tersebut, nabi Adam as belum ada.

Alloh swt menciptakan malaikat dari cahaya sedangkan iblis berasal dari api. Malaikat selalu mematuhi perintah Alloh swt dengan tetap mempunyai intelektualitas. Sedangkan iblis mempunyai pilihan berbuat baik atau buruk.

Para malaikat kaget mendengar rencana Alloh swt yang akan mengutus seorang manusia sebagai khalifah di bumi. Mereka menanyakan mengapa Alloh swt menurunkan manusia yang nantinya akan menjadi makhluk yang merusak bumi dan membuat pertumpahan darah.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 30)

Alloh swt pun menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang malaikat tidak pahami.

Alloh swt menambahkan Dia akan menciptakan manusia yang mempunyai empat kualitas; terbuat dari tanah liat, seimbang, indah dan mempunyai ruh.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 71).

Saat itu iblis diam. Dia tidak berkata apa pun, hanya melihat semua yang terjadi. Hingga akhirnya Alloh swt mengumpulkan kita semua, malaikat dan iblis. Saat itu kita berada di surga. Di hadapan malaikat dan iblis, Alloh swt menunjuk nabi Adam as sebagai manusia pertama di muka bumi. Alloh swt mengajari nabi Adam as semua nama, termasuk kita. Setelah itu, Alloh swt meminta malaikat dan iblis untuk bersujud atas terciptanya nabi Adam as dan manusia.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 72).

Malaikat melakukannya. Walau sempat protes di awal, mereka bersujud sebab menyadari kebijaksanaan atas rencana dari Alloh swt. Malaikat juga bersujud sebab mengagumi ciptaan Alloh swt, yakni manusia dengan empat kualitas di atas. Di lain pihak, iblis hanya diam dan seperti yang teman sudah ketahui, iblis menolak bersujud.

Lalu bagaimana kondisi kita saat itu di surga? Kita menyepakati dengan segala kesadaran diri bahwa kita bersedia diturunkan ke dunia. Kita melihat bagaimana indahnya surga yang akan menanti apabila kita telah melewati tes di dunia. Kita mau mengemban amanah sebagai khalifah ke dunia tanpa paksaan.

Di lain pihak, Alloh swt membiarkan iblis mengambil sikap akan menghalangi manusia berada di jalan yang lurus untuk ke surga sebab Alloh swt memang ingin mengetahui hamba-Nya yang berhak memperoleh tiket ke surga.

Terkait judul di atas, saya ingin teman mengelik tautan ini. Ini adalah penggalan khutbah dari Nouman Ali Khan atas tema yang sama. Saya mengambil ini karena menurut saya lebih jelas untuk menjawab persoalan di atas.

Di video ini, pak ustadz menyebutkan iblis merasa cemburu saat mengetahui nabi Adam as yang bukan siapa-siapa malah mengemban amanah menjadi khalifah. Baik iblis dan nabi Adam as sama-sama melanggar perintah Alloh swt. Tapi keduanya mengambil sikap yang berbeda karena mempunyai kemampuan untuk memilih.

Dalam ceramah malam itu, ustadz Nouman menggarisbawahi sikap iblis yang diam melihat sesuatu yang mengusik nuraninya. Ini berbeda dengan malaikat yang bertanya langsung kepada Alloh swt.

Pikiran iblis tersebut menggumpal, apalagi setelah iblis mengetahui bahwa Alloh swt menciptakan manusia dari tanah liat. Iblis menganggap tanah liat sebagai tak berharga, tidak seperti dirinya yang terbuat dari api. Mereka menggunakan logika bahwa mereka yang berhak memimpin bumi, bukan nabi Adam as dan kita.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Alqur’an surat Al-Araf ayat 12).

Prosesnya sehingga seperti ini: diam saja →membuat realita di kepala sendiri dalam waktu lama →mengeluh kepada Alloh swt →membangkang.

Nabi Adam as dan Hawa juga berbuat salah yakni memakan buah dari pohon terlarang. Akan tetapi nabi Adam as tidak mengeluh atau menyalahkan Alloh swt mengapa diturunkan dari surga meski pun dia tahu bahwa Alloh swt memang berencana menurunkannya sebagai manusia pertama di muka bumi.

Nabi Adam as tetap melakukan pertobatan sebab bagaimana pun dia melanggar perintah dari Alloh swt.

Ustad Nouman menyebut menyalahkan sesuatu, terutama saat terjadi musibah dan sebagainya, hanya kepada Alloh swt menyerupai sikap iblis. Dan persoalan tentang takdir kita, semuanya berakar pada mau tidak kita bertanggung jawab atas segala kesalahan yang kita pernah lakukan.