Membaca Buku Bisa Berbahaya. Ini Alasannya

Ini bukan berbicara tentang deretan buku terlarang yang selama ini kita kenal. Di balik pengetahuan umum bahwa membaca buku itu bermanfaat ada fakta yang entah disadari oleh semua pembaca buku atau tidak. Ambil contoh saya sendiri.

Walau saya suka membaca buku dari kecil, saya baru menekuni hobi ini setelah kuliah. Saya tidak menganggap kesukaan saya membaca buku saat sekolah sebagai hobi. Lebih tepatnya, hobi saya tersebut lebih untuk menaikkan nilai saya saat di kelas hingga di bangku universitas.

Berhubung saya kuliah mengambil jurusan Sastra Inggris, buku yang baca di sela bekerja adalah fiksi. Saya menyadari ada banyak buku bagus yang belum saya baca saat kuliah jadi seolah balas dendam, saya jadi melahap banyak judul. Ada benang merah dari buku yang saya. Hampir semuanya buku dengan tema sedih, bahkan depresif. Mulai dari Sastra Inggris klasik, Amerika hingga India, semua bertemakan demikian.

Beberapa tahun terakhir saya fokus ke Sastra Inggris klasik saja. Saya dulu merasa bangga dengan kegemaran membaca buku saya ini. Saya sering bilang ke teman-teman saya akan menaruh level tinggi untuk membaca, sedang atau bahkan rendah untuk menonton. Saya bilangnya sih untuk mencapai keseimbangan agar hidup nggak berat-berat amat. Padahal dipikir-pikir, film-film yang saya tonton pun mayoritas komedi satir, romantis yang terlampaui membuai hingga bali lagi, sedih.

Atas nama realistis saya melanjutkan pilihan saya tersebut. Saya fokus menikmati alur cerita, akhir kisah dan pastinya, teknik penceritaan dari masing-masing penulis. Buku dari Thomas Hardy, George Eliot dan John Steinbeck menjadi yang paling saya suka baca. Saya menyukai penulis Inggris zaman Victoria yang hidup di abad 18 dan 19. Tidak bisa dipungkiri, cara penuturan kata, level imajinasi dan kreativitas mereka sungguh detil dan indah. Seni banget, kata saya.

Bertahun-tahun, saya bergantung pada buku-buku mereka di kala waktu senggang. Saya tumbuh menjadi orang yang lebih empati, sabar (sebab satu buku bisa 800an halaman) dan tentu saja menambah kosakata saya. Kreativitas dan observasi saya menjadi lebih baik. Punya teman duduk terbaik saat sendiri atau di kost hingga menambah pengetahuan.

Tapi ada satu dampak negatif yang baru belakangan ini saya mau mengakuinya. Saya tumbuh bersama pemikiran mereka. Thomas Hardy yang cenderung murung melalui karakter-karakternya. Tidak ada yang benar-benar berakhir bahagia di mayoritas novelnya yang saya baca. George Eliot masih mendingan, setidaknya untuk Middlemarch dan Adam Bede. Tapi jangan mengharap bahagia yang eksplosif.

Jika ingin mencari akhir yang riang, mungkin bisa membaca karya-karya Jane Austen. Saya sering mendengar banyak orang mencari buku dengan akhir yang bahagia. Dulu saya suka meremehkan keinginan tersebut karena buat saya ya, itu produk yang terlalu mengikuti keinginan pasar.

Sampai sekarang saya masih berpegang pada prinsip itu, kecuali si penulis memang dari awal jujur akan seperti apa akhir buku yang dia buat. Di lain pihak, saya akhirnya mengakui kegemaran bacaan saya selama ini (ya setidaknya sampai akhir 2018) adalah untuk memberi makan nafsu saya, keinginan saya yang tidak menjadi kenyataan hingga mimpi saya yang saya tahu tidak baik.

Betapa ketidakjujuran tersebut membawa saya ke buku-buku yang ditulis oleh mereka yang sudah wafat dan mempunyai perspektif kurang lebih sama dengan saya. Ini berlaku dalam banyak aspek kehidupan. Memang benar, hidup itu harus realistis dalam artian ada senang dan sedih, kehilangan dan perjumpaan, dan sebagainya.

Dan sungguh kelihaian penulis-penulis di atas dalam menuangkan imajinasi dan pendapat mereka begitu melenakan saya. Hingga saya pun mengagumi mereka melampaui kadar yang semestinya. Saya lupa atau mengabaikan bahwa mereka juga manusia biasa. Masa lalu, mimpi, pandangan pribadi mereka sudah pasti mempengaruhi karya yang mereka tulis.

Saat saya kuliah, hal semacam tersebut sudah sering dibahas. Tapi entahlah, saya memilih menutup mata dan membaca karya mereka murni sebagai fiksi belaka. Hingga akhirnya saya terjerembab dalam jurang kesedihan dan skeptisme yang membentuk kepribadian saya selama bertahun-tahun.

Satu hal yang saya pelajari juga adalah bahwa sastra, betapa pun bagusnya itu, menampung ekspresi manusia. Susah mencari manusia yang benar-benar adil, apalagi untuk sebuah fiksi dimana dia bisa menulis apa yang dia mau.

Kabar baiknya adalah di sinilah tugas seorang pembaca yang baik. Berkaca dari pengalaman saya, sungguh saya mengajak teman-teman, baik yang doyan baca atau tidak, untuk terus mengevaluasi bacaan.

Terus pertanyakan apa tujuan membaca kalian terlebih dahulu. Apakah murni hiburan, mengumpani ego atau nafsu, menambah wawasan atau yang lainnya. Buat saya, pembaca yang baik semestinya tidak membatasi bacaan. Membuka wawasan dengan membaca banyak tulisan dari lintas pemikiran, rentang generasi hingga menembus batasan budaya.

Dan yang terpenting dari semuanya adalah sadari bahwa pada akhirnya kitalah yang harus mengolah apa pun yang kita baca. Jangan buru-buru mengambil pengaruh dari penulis tertentu. Mungkin terbaca agak melompat, tapi buat saya setiap membaca sadari bahwa si penulis tetaplah manusia biasa. Selalu kembalilah ke kata-kata Tuhan sebagai pemilik kebenaran mutlak.

Buat saya sebagai seorang muslim, ya balik ke Alqur’an, lagi dan lagi.. Semakin banyak membaca karya manusia, Alqur’an akan saya terus pegang semakin erat. Insya Alloh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s