Tiga Cara Receh untuk Cas-Cis-Cus Ngomong Bahasa Inggris

“Bagaimana sih, En, bisa cepat belajar ngomong bahasa Inggris?” Saya sering mendapatkan pertanyaan tersebut dari teman atau kenalan. Jawaban saya pun singkat. Saya bilang tidak ada jalan pintas untuk benar-benar bisa berbicara dalam bahasa Inggris secara menyeluruh.

Saya bilang menyeluruh dalam artian mempunyai dasar yang kuat untuk berbicara dalam bahasa ini untuk beragam topik ke depan. Saya termasuk yang kurang percaya apabila ada lembaga kursus bahasa Inggris yang menawarkan les mahir bercakap dalam bahasa Inggris hanya dalam seminggu, katakanlah.

Sebagai orang yang bukan penutur bahasa Inggris, agak sulit untuk mempraktekkan berbicara dalam bahasa ini sehari-hari, apalagi jika kita tidak mengambil kursus. Saya mempunyai tiga cara ringan agar setidaknya, semangat untuk berbicara dalam bahasa Inggris, tetap menyala walau tidak mempunyai teman untuk mitra bercakap-cakap.

  1. Berbicara Sendiri

Saya terkadang melakukannya, loh. Bahkan saya melakukannya di depan cermin. Mungkin terdengar aneh tetapi saya merasa setiap kali saya berbicara sendiri, saya jadi mempraktekkan apa yang selama ini saya ketahui. Rasanya ringan berbicara sendiri dalam bahasa ini. Seperti plong begitu, hehe.

Resikonya memang terpikirkan bagaimana jika ada yang mendengar saya ngomong sendiri. Untuk mengatasinya, saya hanya berbicara beberapa menit saja. Setelah puas, saya kembali melakukan aktivitas yang lain.

Berbicara di depan cermin memberikan efek yang lebih besar. Ada rasa percaya diri yang bertambah setiap kali melihat diri ini langsung berbicara dalam bahasa Inggris. Selain mendengar bagaimana perkembangan penuturan dan sebagainya, berbicara dalam bahasa ini dapat menolong dalam mengecek pendengaran ucapan kita sendiri.

Sehingga jika ada yang keliru, kita bisa memperbaikinya. Apabila ada kata yang terdengar salah, bisa dicari yang benar. Saat berbicara, kita bisa sekalian belajar dan memperbaiki kata-kata yang dirasa salah atau aneh. Kalau nggak percaya, coba sendiri deh!

  1. Membaca Artikel Sendiri

Terkadang, saya membaca artikel berita dalam bahasa Inggris sendiri untuk mengetahui apakah pengucapan saya salah atau tidak. Terkadang saya bahkan membaca seperti seorang pembaca berita tatkala situs yang baca memang situs berita, seperti BBC.com.

Sekali lagi, mungkin terdengar lucu tetapi lumayan membantu saya untuk sekadar mengingatkan saya masih mempunyai bakat untuk kembali belajar berbicara dalam bahasa Inggris. Melakukan hal ini membuat rasa percaya diri lumayan bertambah juga.

  1. Membayangkan Sedang Membuat Vlog

Sebenarnya saya belum pernah mencoba tetapi tak ada salahnya mempraktekkan hal ini di kemudian hari. Ide ini muncul setelah saya cukup sering menyimak beberapa kanal YouTube influencer favorit, seperti Aida Azlin dan Gita Savitri.

Sepertinya tampak menarik berbicara seperti mereka. Jadi mungkin lain kali bisa dicoba memilih satu topik lalu berlagak layaknya seorang vlogger di depan kamera. Saya sempat terpikir ingin membuat konten vlog soal tips berbicara dalam bahasa Inggris. Hmm, mungkin bisa dipraktekkan lain hari, ya? Hehe..

Demikian dari saya. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Mohon maaf atas segala kesalahan ya..

Advertisements

Tiga Latihan Awal Menulis dalam Bahasa Inggris

Sebelum melompat, kita terlebih dahulu berjalan. Sebelum bisa menulis artikel panjang dalam bahasa Inggris, kita lebih dulu menulis memulai dari tema terkecil. Bagi kawan-kawan yang baru mulai belajar menulis, coba yuk tiga latihan awal ini:

  1. Menulis Profil Diri Sendiri

Paling mudah adalah menuangkan profil diri ke dalam bahasa Inggris. Apabila belum bisa, kalian bisa menulis dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu. Beberapa komponen yang bisa ditulis mencakup nama lengkap, tempat tanggal lahir, usia, profesi, hobi, tempat tinggal dan riwayat pendidikan.

Contoh:
My name is Eny Wulandari. I was born on 15 January 1984 or is 35 years old. I love reading and writing. I work as an in-house content writer and English language tutor. I currently live in Palmerah Selatan, Central Jakarta. I graduated from English Literature of Gadjah Mada University in Yogyakarta. I graduated in May 2007. My origin is Karanganyar, Central Java.

  1. Menulis Kegiatan Sehari-hari

Tentunya tidak sulit kan menulis kegiatan sehari-hari? Entah sebagai pekerja atau siswa, kalian dapat menuangkan aktivitas ke dalam kata-kata sembari mempelajari bahasa Inggris. Ini contohnya:

I work as a full-time freelancer. I start writing for an interior design blog at 9 am. I take breaks for one hour, from 12 to 1 pm. After that, I resume writing until 5 pm. Sometimes, I extend working until 8 or 9 pm when there remains unfinished articles. On Tuesdays and Thursdays, I start writing for the same blog from 9 am to 12 the noon. After that, I visit my students’ office to teach them English Language speaking skills. I teach from 3 pm to 4.30 pm. After that, I return home or rented a room in Palmerah. Usually, I don’t resume writing for the blog. I get to relax and sleep after teaching.

  1. Menuliskan Hobi

Setiap dari kalian sudah pasti punya hobi, dong? Coba deh dijabarkan hobi kalian ke dalam tulisan pendek seperti ini:

I really love reading and writing. I like reading articles about Islam. Sometimes, I love reading articles on positive values in life, like simplicity and minimalism. After I read, I typically pour my thoughts and opinions on this blog. Once in a while, I write on papers. I always have a small pocket book to carry. It’s hard to choose one over the other. After I read, I have to write. After I write, I need to read again. They truly can’t live without one another.

Nah, demikian tiga contoh tulisan sederhana dalam bahasa Inggris yang bisa kalian coba. Tinggal dimodifikasi atau dirombak jika lebih ingin tertantang lagi susunannya. Selamat mencoba!

Tiga Alasan Belajar Menulis Bahasa Inggris Selain untuk Status di Medsos

Selama ini banyak yang lebih ingin mempelajari Bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan berbicara terlebih di zaman dengan batasan yang semakin berkat teknologi. Rasanya berteman dengan warga dunia berbekal bahasa Inggris terasa menyenangkan dan bermanfaat.

Sementara berbicara bahasa Inggris memberikan kepercayaan diri, menulis dalam bahasa ini memberikan efek yang sangat positif. Hadirnya media sosial membuat banyak yang kepincut ingin bisa menulis bahasa Inggris, setidaknya untuk status. Memang sih tujuan tersebut bagus tetapi menulis dalam bahasa Inggris memberikan dampak yang lebih bermanfaat dalam jangka panjang dan mendalam.

Menulis Itu Terapi Jiwa

Saat sedang kalut atau galau, coba deh menuangkannya ke dalam tulisan. Pada zaman serba sibuk sekarang, semakin mudah kita terjebak dalam beragam keinginan, jadwal dan kegiatan yang malah membuat kepala terasa penuh. Salah satu andalan saya saat berada di kondisi tersebut adalah dengan menulis.

Bisa di kertas atau di ponsel pintar, menulis itu bagi saya seperti menguraikan benang kusut di otak atau di hati. Terkadang banyak masalah yang solusinya itu sesederhana berdamai dengan otak atau hati melalui kata-kata. Atau setidaknya dengan menulis, masalah atau kekhawatiran tidak seberbahaya yang kita bayangkan sebelumnya.

Nah, menulis dalam bahasa Inggris memberikan dampak ganda. Selain membantu menguraikan benang kusut di otak atau hati, menulis dalam bahasa Inggris mengalihkan apa pun masalah yang membelenggu ke level yang lebih tinggi lagi. Dalam menulis bahasa Inggris terkadang ada kosakata yang membuat kita macet. Ingin menuliskan kata tersebut tetapi kita mendadak lupa atau memang tidak tahu.

Nah, otomatis otak kita akan fokus mencari tahu apa yang sedang kita butuhkan sebab pada dasarnya manusia memang suka mencari tahu alias kepo, hehe. Lumayan kan dari yang tadinya sedih atau pusing berubah menjadi mengikuti rasa keingintahuan akan kata yang dibutuhkan tadi. Asal rasa kepo-nya nggak berlebihan saja ya, hehe..

Menulis Itu Membuang “Sampah” dengan Cara Cerdas

Ada yang cenderung melankolis (seperti saya), ada yang gampang naik pitam. Setiap orang mempunyai kecenderungan masalah mental yang berbeda-beda. Dan hal tersebut SANGAT WAJAR. Asal tahu saja cara melampiaskannya agar tidak membuat kepala semakin stres hingga sakit darah tinggi.

Apabila kalian gampang marah atau sebal, coba deh menyalurkannya dalam bentuk tulisan. Tulis apa yang membuat kalian benci terhadap orang tersebut atau hal tersebut. Bagi saya, menulis itu membantu saya belajar untuk menahan diri. Terkadang, saat perasaan benci tersebut menyerang, dada terasa sempit atau darah dalam tubuh terasa memanas, ya kan? Di saat itu, mulut sudah kehilangan kendali. Ada yang bahkan sampai susah menahan tangan atau kaki.

Padahal, terkadang yang kita butuhkan adalah beberapa detik saja untuk menahan diri. Dalam Islam kita sangat dianjurkan untuk berdzikir. Buat yang masih belum bisa puas dengan berdzikir, bisa dicoba deh dengan menulis. Menurut saya, menulis itu cara membuang “sampah” dengan cerdas dengan catatan tulisan sebaiknya TIDAK DIBAGIKAN KE MEDIA SOSIAL.

Melampiaskan kemarahan dalam bahasa Inggris itu lebih kreatif. Sebagai contoh, kalian ingin mencoba cara baru menuliskan kemarahan dengan menulis dalam bahasa Inggris. Seperti halnya poin pertama, akan ada momen dimana kalian akan terantuk pada kosakata baru yang tidak kalian ketahui.

Awalnya ingin menulis dengan luapan emosi, eh kalian malah terasah keingintahuan akan kata dalam bahasa Inggris untuk meluapkan kemarahan. Marahnya jadi sedikit reda deh, hehe..

Harap dicatat bahwa betapa pun kalian telah mengetahui, katakanlah, kata umpatan dalam bahasa Inggris, cukup diketahui saja loh, ya. Ditulis dalam tulisan berisikan “sampah” tersebut lalu lebih baik dibuang jika hati sudah tenang kembali. Jadi dalam menulis pun hati harus tetap bisa memegang kendali.

Menulis itu Memberikan Perlakuan yang Baik ke Otak

Pernah terpikir tidak memperlakukan otak dengan baik? Atau lebih tepatnya “memberi makan otak” dengan hal yang positif? Ada yang bilang menulis itu makanan yang terlampau berat. Hidup dibikin asyik aja, bisa nggak sih, En?

Dulu saya sempat terpikir hal tersebut ada benarnya. Saya sempat merasa bersalah terlalu suka membaca novel atau artikel panjang karena memang membuat otak hanya beristirahat saat tidur.

Tetapi sekarang, saya ingin menulis kembali sebab saya prihatin membaca tulisan yang serba viral dimana banyak di antaranya yang cenderung kurang bermanfaat dan terasa dangkal. Inilah sebabnya saya ingin menghidupkan blog ini kembali.

Otak itu ibarat otot. Alloh swt menganugerahkan kita otak yang Masya Alloh mempunyai kemampuan dan kapasitas yang di luar nalar ilmuwan sekalipun. Otak berkembang atau tidak tergantung perlakuan kita.

Menulis dalam bahasa Inggris mengajak otak kita berpikir lurus, logis dan kreatif. Hal ini disebabkan sifat alamiah bahasa Inggris yang mengedepankan fokus pada rentetan kata yang sistematis dan berurutan. Bahkan penulis klasik bahasa Inggris, semacam Charles Dickens pun, masih bisa menjaga fokus novel tetap pada jalurnya meski dia memasukkan banyak tulisan samping tentang tokoh minor dalam novelnya. Hal itu hanya bisa tercapai sebab dia bisa menjaga fokus.

Nah, pengalaman saya selama belajar menulis bahasa Inggris adalah mengatur logika berpikir. Selama menulis, saya akan bertanya pada diri saya sendiri, “Ini penting nggak ya? Butuh data nggak ya?”

Hal semacam itu yang membuat otak saya lama-lama jadi belajar fokus dan berpikir kritis. Apabila sudah terbiasa maka otak akan bisa mengarahkan kita dalam membaca berita atau peristiwa. Latihan ini membantu banget loh pada era serba teralihkan seperti sekarang ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu bagaimana agar bisa memulai menulis dalam bahasa Inggris? Jangan lupa klik tautan ini, yuk, hehe..

Terima kasih telah membaca. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.