Seandainya 3 Peristiwa Monumental Nabi Musa As Ini Dibuat Jadi Film..

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bukan tanpa alasan saat #StoryNightJakarta, Nouman Ali Khan menyebut beberapa kali judul animasi bikinan Hollywood, mulai dari The Lion King hingga Finding Nemo. Beberapa penggalan penting dalam hidup Nabi Musa as memang seperti fiksi saja, sukar masuk dalam nalar pikiran manusia. Berikut aku cuplikkan tiga di antaranya, kesemuanya bersumber dari dakwah Nouman Ali Khan:

  1. Saat bayi Musa dibawa ke hadapan Fir’aun

Yang pertama nggak disinggung oleh Nouman Ali Khan saat di Balai Kartini. Aku mengetahui cerita ini melalui salah satu video, yang mohon maaf, udah lupa judulnya, hehe. Dari cerita bagian ini Nouman Ali Khan membuatku sadar betapa banyak penggalan hidup Nabi Musa As yang seperti adegan film.

Setelah bayi Musa dihanyutkan oleh ibunya sendiri supaya tidak dibunuh oleh tentara Fir’aun, sampailah bayi mungil tersebut ke tangan istri Fir’aun. Pada saat bersamaan, Fir’aun sedang mengumpulkan jenderalnya terkait keinginannya membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Di tengah suasana rapat yang memanas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu masuklah istri Fir’aun dengan membawa bayi Musa yang menggemaskan.

Seketika Fir’aun langsung takjub melihat bayi Musa. Rapat terhenti sejenak lalu Fir’aun menjadi lupa bahwa ia sedang mengumpulkan jenderal untuk membunuh bayi karena melihat bayi Musa yang polos dan lucu.

  1. Saat Nabi Musa as mengkonfrontasi Fir’aun

Dengan pakaian seadanya, Nabi Musa as dan Harun as, saudaranya, memasuki istana Fir’aun. Bangunan megah dengan standar keamanan tinggi mereka lewati demi menyampaikan misi tentang Alloh swt sebagai Tuhan semesta alam dan meminta Fir’aun membebaskan Bani Israil dari perbudakan.

Keduanya nggak membawa senjata, tidak berpakaian berbalut baja atau besi. Tidak membawa kuda gagah atau pengawalan lengkap. Tetapi dua-duanya percaya diri mendatangi seorang tirani dengan reputasi bengis, otoriter dan kuat saat itu. Nabi Musa as datang bukannya tanpa masa lalu yang ia sudah lupakan, yakni pengalaman pahit saat ia tak sengaja membunuh salah satu petugas keamanan Fir’aun. Untungnya Alloh swt sudah memberikan motivasi yang singkat tapi merangkum semua kecemasan nabi Musa as saat itu, yakni QS Asy-Syura ayat 15:

قَالَ كَلَّاۚ فَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

(Allah) berfirman, “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu)! Maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sungguh, Kami bersamamu mendengarkan (apa yang mereka katakan),

Saat Nabi Musa as masuk ke singgasana Fir’aun tampak jenderal dan para pengawal mengelilingi Fir’aun. Tahta yang megah, ruangan yang begitu luas dan fasilitas tirani yang mewah. Sedangkan Nabi Musa as dan Harun as datang “hanya” bermodal mukjizat dari Alloh swt, yakni kata-kata. Secara sekilas, jurang persiapan fisik dan amunisi yang njomplang tampak dari dua kubu ini.

Yang satu terlihat superior dan yang satunya tampak mini, nggak ada apa-apanya. Siapa sangka dari pemandangan yang terlihat jauh perbedaannya ini, kata-kata Nabi Musa as mengungkirbalikkan kekuatan tirani terbesar dunia saat itu.

  1. Dari rencana pertunjukan sihir menjadi dakwah yang disponsori oleh Fir’aun

Bagian ke-3 terjadi setelah Fir’aun mulai kalah oleh Nabi Musa as. Ia memanggil beberapa tukang sihir di Mesir untuk menghadapi Nabi Musa as. Alloh swt mendokumentasikan peristiwa ini dalam surat Asy-Syura ayat 36 hingga 51. Tadinya Fir’aun berfikir para penyihir tersebut akan menang melawan Nabi Musa as sekaligus mematahkan ajaran tauhid yang ia bawa. Tak pelak, Fir’aun mengumpulkan seluruh rakyat Mesir agar mereka tahu secara langsung bahwa Nabi Musa as adalah seorang pembohong. Para penyihir juga menyepakati sebab dijanjikan imbalan uang oleh Fir’aun sendiri.

Nyatanya, keadaaan berbalik 180 derajat. Alloh swt justru memberikan Nabi Musa as panggung pertama sekaligus akbar untuk berdakwah. Nabi Musa as meminta para penyihir untuk melemparkan tali temali dan tongkat mereka. Kemudian Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang lalu memakan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.

Pada akhirnya, para penyihir tersebut malah sujud dan beriman kepada Alloh swt. Susah payah Fir’aun mengumpulkan para penyihir, merendahkan diri dengan segala iming-iming uang dan kekuasaan pada penyihir tersebut, mengumpulkan rakyat berharap mereka masih menganggapnya Tuhan. Hingga pada akhirnya, Alloh swt mengubah momen tersebut menjadi konvensi dakwah Nabi Musa as sendiri tanpa beliau susah payah mempersiapkannya. Fir’aun lah yang melakukan semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s