ImageFor years, I’ve been trying to enter a home. I’ve knocked its door. Many times. In many ways.

I have taken some rests. I have done it again. But still… the door is locked. Tightly sealed.

Satu Foto dan Sejuta Kisah Bersama Alessandro Del Piero

Image

Antri ya…

Mudah tidak bertemu dengan Ale? Jawabannya adalah GAMPANG! Jika mengingat betapa ribetnya perjuanganku mengurus visa dll, rasanya geli sendiri karena ternyata untuk bertemu, meminta foto dan tanda tangan dari sang kapten bisa dibilang sangat mudah dan sederhana caranya. Awalnya, aku sudah membayangkan yang aneh-aneh; bahwa akan ada barikade polisi dan semacamnya di tempat Sydney FC berlatih. Ternyata itu semua TIDAK ADA. Ini langkah yang aku lakukan:

Mencari Tahu Jadwal Latihan, Jam Latihan, Durasi Latihan

Image

Plakat Sydney FC di depan paviliun, yang berfungsi sebagai kantor dan ruang ganti pemain

Setelah memastikan tanggal keberangkatanku ke Sydney, aku kembali menghubungi humas Sydney FC yang alamat emailnya sudah aku sebutkan dalam tulisanku yang pertama. Bisa dibilang aku agak bawel urusan ini. Berkali-kali aku mengirim pertanyaan rinci perihal ini. Bagiku, penting sekali untuk “mengamankan” momen latihan ini karena akan sangat sulit bila aku mengandalkan foto  bersama Ale setelah laga Sydney FC Vs Newcastle Jets. Waktu yang ada akan sangat sempit. Belum lagi jika Sydney FC kalah (untungnya menang sih), bisa jadi Ale bête dan lain sebagainya sehingga dia enggan meladeni permintaan foto dan tanda tangan. Namanya juga manusia biasa. Maka dari itu, kebaikan humas Sydney FC ini aku manfaatkan dengan baik. Selama aku tinggal di sana, aku mempunyai dua kesempatan untuk melihat Sydney FC berlatih; Jumat tanggal 29 November 2013 dan Senin tanggal 2 Desember 2013. Aku bertanya tentang jam latihan, durasi latihan, hingga apakah aku harus memenuhi syarat tertentu agar bisa datang melihat latihan mereka. Harap diketahui bahwa Sydney FC ini tidak setiap hari berlatih. Durasi latihan mereka pun cukup pendek, yakni satu jam ketika aku ada di sana. Melalui surat elektronik itu, aku istilahnya “kulo nuwun” terlebih dahulu. Bertanya soal izin dan tata tertib masuk ke tempat latihan Sydney FC penting sekali bagiku karena aku mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan di Jakarta soal ini. Pas humas Sydney FC bilang aku cukup datang saja tanpa perlu mengurus izin dan lain sebagainya, aku kaget. Ah masak iya sih begitu saja langsung boleh masuk? Bukannya aku tidak percaya, hanya terasa terlalu gampang untuk menyaksikan seorang Alessandro Del Piero berlatih dengan cara sesederhana itu. Aku pun bertanya ke mas Pandu, yang pernah beberapa kali bertemu dengan Ale, soal ini. Jawabannya pun sama.

Mempelajari Lokasi Latihan, Rute Kereta, dan Bangun Sepagi Mungkin

Image

Paviliun Blue Barclay milik Sydney FC

Meski Sydney FC berkantor dan bertanding di kawasan Allianz Stadium, Moore Park, tempat latihan tim ini nun jauh di Macquarie University Sports Fields. Bahkan universitas ini tidak masuk ke dalam peta pusat kota Sydney. Walau demikian, mencapai universitas ini tidak susah. Untuk menghemat waktu, aku bahkan sudah mencari tahu rute bus dan kereta untuk mencapai tempat ini jauh sebelum aku ke Sydney. Awalnya aku ingin naik bus tetapi akhirnya aku lebih memilih kereta karena tak banyak gonta-ganti moda transportasi. Kalau naik bus akan lebih sering gonta-ganti kendaraan. Parahnya, Sydney FC berlatih pagi hari, yakni jam 08.30, walau pada kenyatannya agak molor. Karena aku tidak tahu dimanakah tempat itu berada, aku bertekad pergi sepagi mungkin. Walhasil, Kamis malamnya aku tidak bisa tidur karena takut kesiangan. Jam 6an pagi aku sudah berangkat ke King Cross station, sekitar 500 meter dari hostel tempat aku menginap. Rutenya adalah aku naik kereta dua kali. Dari King Cross ke stasiun Town Hall dengan membayar A$3 dan 60 sen lalu dari Town Hall aku naik kereta lagi menuju stasiun Macquarie University dengan membayar A$5. Perjalanan naik kedua kereta ini sekitar satu jam. Nah turun dari stasiun ini lah proses nyasar dimulai. Aku bertanya ke beberapa orang letak tempat latihan tersebut, yang tidak semuanya tahu. Belakangan aku baru sadar aku nyasar karena salah ambil belokan, LOL! Sebenarnya dari stasiun tempat aku turun tinggal lurus dan ambil belokan terakhir. Ancer-ancernya adalah lokasi latihan lumayan dekat dengan Talavera Road. Untuk mencapai lokasi latihan diperlukan proses jalan kaki yang cukup melelahkan karena kontur tanah yang naik turun. Begitu menemukan ada dua halte mungil saling berhadapan, tinggal ambil kanan dan di situlah ada plakat besar dengan logo beberapa klub olahraga yang berlatih di sana, salah satunya adalah Sydney FC. Begitu sudah sampai di lapangan tinggal duduk atau berdiri manis hingga sesi latihan selesai. Mudah kan?

Image

Stasiun Macquarie University

Image

Kalau udah nemu ancer-ancer ini berarti lokasi sudah dekat

ImageHalaman depan paviliun yang tampak asri

ImageBalkon paviliun

Image

Logo klub yang berlatih di tempat ini

Kesan Pertama Bertemu dengan Ale

Jam menunjukkan pukul 8 lebih dan suasana masih terasa sangat sepi. Begitu masuk ke kawasan latihan di kompleks universitas ini, paviliun Sydney FC langsung berada di bagian paling depan. Pas aku sampai ke tempat tersebut, aku sudah melihat beberapa pemain Sydney FC lalu lalang antara tempat parkir dan paviliun tersebut. Aku rada takut dan deg-deg. Selain karena hendak bertemu dengan Ale juga karena aku takut diusir. Meski sudah jelas-jelas boleh masuk, tetap saja hati ini belum tenang. Hanya ada beberapa pekerja yang berada di luar paviliun. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tidak terlalu memperhatikan kedatanganku. Untungnya… Agar tidak terlihat aneh, aku membaca denah di depan paviliun tersebut. Baru sebentar mempelajari denah kompleks tersebut, mataku sontak kaget begitu melihat sosok Ale tiba-tiba muncul di balkon paviliun itu. Hah? Itu Ale bukan sih? Hanya dalam kedipan mata, dia masuk lagi ke dalam paviliun dan aku pun terpana antara kaget dan bahagia.

Image

lapangan latihan Sydney FC

Image

Ale dari kejauhan. Waktu itu aku nggak ‘zoom’ karena gaptek soalnya kamera (terpaksa) baru beli

Tak berapa lama pemain Sydney FC sudah mulai berlatih di dua lapangan berbeda tetapi aku tak lagi melihat Ale. Akhirnya aku berdiri di depan lapangan yang menghadap ke paviliun sambil tetap merasa was-was takut diusir. Pas aku masih berdiri tiba-tiba aku melihat sesosok cowok muncul. Aku pikir dia pemain Sydney FC tetapi usut punya usut ternyata dia menunggu Ale juga. Kami awalnya menunggu Ale di lapangan tempat pemain Sydney FC berlatih. Ada logo sponsor untuk menandakan bahwa ini adalah lapangan tempat Sydney FC berlatih. Ada wartawan juga saat itu. Ale masih belum nongol lalu aku mengikuti langkah fans tadi kembali ke paviliun. Yang dinanti pun keluar juga. Dengan langkah cepat Ale bergegas menuju ke lapangan untuk bergabung bersama teman-temannya. Meski aku termasuk gigih, aku sebenarnya orangnya nggak enakan. Itulah sebabnya, meski Ale berjalan di sampingku aku tak mengucap sepatah kata pun. Menyapa pun aku tidak berani karena dia sedang tergesa-gesa. Yang aku lakukan saat itu adalah tersenyum dan beberapa kali mengambil fotonya. Dan untung saja aku lebih memilih diam karena Ale tak menggubris omongan fans cowok tadi yang berbicara dalam Bahasa Italia. Ale memang sudah terlambat berlatih pagi itu. Kesan pertama yang aku dapatkan saat bertemu dengan Ale adalah dia jauh dari kata sombong meski pendiam. Kalau aku bilang ramah rasanya kurang pas juga. Karena waktu itu dia nggak senyum kepadaku atau apa. Dia hanya senyum ke cowok tadi karena diajak ngobrol. Kalau senyum ke orang asing kayak aku tanpa inisiatif obrolan rasanya aneh juga sih. Saat itu, dia diam dan berjalan cepat. Pas aku balik ke lapangan tempat Sydney FC berlatih fans sudah mulai ramai. Makin siang makin ramai. Rasanya sungguh menakjubkan saat itu. Tak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan semuanya. Seorang pemain yang selama 13 tahun hanya bisa aku saksikan melalui layar kaca dan membaca beritanya melalui media kini sedang berlatih di depanku. Dan yang membuat segalanya makin luar biasa adalah kita benar-benar bebas melihat mereka berlatih. Lapangan hanya dibatasi oleh pagar yang cukup pendek. Jadi kalau mau jahil, mau melompat pun sebenarnya aku bisa, hahahaha!

Image

Ale banyak melakukan gerakan pemanasan sendirian

Betapa beruntungnya aku. Jika 10 tahun yang lalu aku ke Turin pun, kecil kemungkinan aku bisa menyaksikan Ale berlatih bola sedekat dan sebebas ini. Aku sendiri hanya mengambil foto seperlunya. Aku ingin meresepi momen yang sudah lama aku tunggu ini tanpa gangguan klik kamera. Sensasi kebahagiaan ini tak akan pernah bisa digantikan oleh jepretan kamera mahal sekali pun. Melihat Ale berlari, menendang bola, jongkok, berjalan, melihat dia bercanda… Mempelajari ekspresi muka dan bahasa tubuhnya di pagi yang mendung itu rasanya bak mimpi. Bahkan, hingga sekarang pun aku masih tidak percaya. Andai saja waktu bisa terhenti saat itu saja…

Image

“Our bodies grow old, but class does not” Ale dalam bukunya “Playing On”

Image

Maaf foto agak kabur

Yang aku pelajari dari latihan itu adalah Ale sosok yang sangat serius. Dia memilih melakukan pemanasan sendiri sedangkan yang lain bergerombol sebelum akhirnya semuanya bergabung menjadi satu sesi. Dengan seabreg gelar bersama Juventus dan tim nasional Italia, aku sangat salut karena Ale tetap serius menjalani latihan pagi itu. Maksudku begini. Aku pernah membaca di satu blog bahwa sepakbola bukan olahraga primadona di Australia dan Sydney FC bukanlah klub raksasa semacam Juve atau Madrid tetapi Ale tak pernah menganggapnya remeh. Cara dia memompa semangatnya agar tetap terus mencari tantangan di usianya yang hampir kepala empat benar-benar membuatku kagum. Banyak pemain yang satu era dengan dia mungkin lebih memilih membuka restoran atau menjadi pelatih, tetapi Ale tetap ingin terus bermain… Bagi dia yang terpenting adalah terus bermain bola.

Image

tetap melakukan pemanasan sendiri meski satu lapangan dengan yang lain

Image

Mungkin ini semacam latihan menghindari lawan saat berlari

Dari latihan itu aku juga mengerti mengapa ban kapten Juve bisa awet melekat di lengannya. Ale adalah sosok pemimpin yang bagus. Terlihat jelas dia membantu mengarahkan teman-temannya yang lebih muda untuk menerjemahkan kemauan sang pelatih di lapangan. Jadi dia lebih berfungsi sebagai ‘playmaker’ meski posisi dia sebenarnya adalah penyerang. Oh ya, beberapa kali Ale terlihat kesal dan marah kepada temannya yang kurang sigap. Lumayan membuatku terkejut melihat ekspresi marahnya karena selama ini menurutku dia orang yang lembut.

Image

Kakinya Ale ternyata kecil

Sesi latihan selesai, saatnya aku beraksi. Aku mendekati dia begitu Ale keluar dari lapangan. Lagi-lagi, meski aku yang berdiri paling dekat aku tak berani memulai meminta tanda tangan atau berfoto bersama. Tapi tak perlu cemas. Meski terlihat diam, Ale paham betul ada banyak fans yang menunggu dari tadi. Saat fans yang lain sudah mulai mendekat dia pun mulai melayani permintaan kami. Si cowok Italia yang aku sebut tadi termasuk dapat giliran pertama. Awalnya aku agak cemas tidak kebagian giliran foto. Untungnya aku berada di Sydney bukan Jakarta. Fans di sini sangat tertib dan saling menghormati satu sama lain. Setelah beberapa saat Ale melayani foto ke beberapa fans, dia tiba-tiba sejenak menghentikan aktivitasnya dan membungkukkan badannya ke sebelahku sambil mengarahkan matanya ke kamera yang terlebih dahulu aku kasih ke kakek berpayung. Dan klik! Foto tak lebih dari lima detik yang akan menjadi kenangan paling berkesan dalam hidupku pun tercipta. Makasih Tuhan…. Bahagia bukan kepalang rasanya. Aku bilang “thank you” tetapi Ale tak membalas karena sudah sibuk dengan fans yang lain. Satu per satu dia meladeni kami semua. Ada peristiwa lucu pas Ale mau memberikan tanda tangan. Pas mulai sesi tanda tangan Ale kebingungan karena dari beberapa spidol atau ‘marker’ yang kami sodorkan dia menolak. Aku pun spontan menyodorkan ‘marker’ yang sengaja aku bawa dari Jakarta, eh dia bilang “No.” Tawaran spidol fans yang lain juga dia tolak hingga akhirnya nemu satu spidol yang menurut dia pas. Ada-ada aja nich si Ale. Meski di satu sisi aku sedikit sebel karena ‘marker’-ku ditolak, tetapi di lain sisi interaksi semacam ini sangatlah menyenangkan. Lucu aja pemain sekelas dia perhatian sama yang namanya spidol atau ‘marker’, hahaha. Rasanya seperti tidak melihat Ale sebagai maha bintang saat itu karena dia terlihat dekat dengan kami. Aku pun langsung menyodorkan jersey yang aku pakai untuk dibubuhkan tanda tangan. Dia agak menarik jersey yang aku pakai lalu langsung menandatanganinya. Sudah dapat foto dan tanda tangan pula.  Senangnya…. Aku sengaja langsung memakai jersey Juve dan bukan menggenggamnya karena memang sangat ingin berfoto dengan jersey itu. Dari sekian banyak pilihan jersey, pilihanku jatuh ke jersey tandang musim 1999/2000.

Image

always a boy at his heart

Saking senengnya aku mengucap ‘thank you’ lagi dan lagi hingga Ale sedikit kaget dan menjawab “you’re welcome’ sambil mengedipkan matanya ke arahku. Mungkin dia bingung kenapa aku bilang makasih berkali-kali. Andai dia tahu perjuanganku bertemu dia ya …

Image

Salah satu ekspresi Ale saat sedang kesal

Pemain yang satu ini memang super baik. Bagi fans yang membawa buku atau topi dia menanyakan nama mereka, meminta mereka untuk mengeja nama mereka, menuliskannya lalu menandatanganinya. Waktu itu, aku berbarengan dengan sekelompok siswa berwajah oriental. Ada pendampingnya juga. Ale pun malah mengajak mereka berfoto bersama. Sebenarnya waktu itu aku ingin sekali bilang agar Ale datang ke Jakarta tetapi tidak sempat karena waktu yang mepet sedangkan banyak fans yang menanti. Jadinya ya sudah… aku jeprat jepret dia saja saat itu. Sepertinya semua sudah mendapat apa yang dimau karena aku tidak mendengar keluhan dan semacamnya. Ada peristiwa lucu lagi. Begitu sesi tanda tangan selesai, Ale menyodorkan spidol yang dipakai kepadaku dan yang lain, bermaksud untuk mengembalikannya. Aku bilang “that’s not mine”. Ya ampun, ingat-ingat aja si Ale soal mengembalikan spidol itu… Sesi jumpa fans ‘dadakan’ selesai, Ale pun kembali ke paviliun. Rasa ngantuk, lapar dan dingin yang kurasakan benar-benar terbayarkan sudah saat itu. Empat sifat Ale yang aku pelajari: pendiam, serius, kapten yang tegas dan idola yang sangat baik.

Perasaanku saat itu mungkin seperti anak kecil yang kegirangan setelah mendapat hadiah mainan dari orang tua yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ingin sekali aku melompat tetapi sekuat mungkin aku tahan karena banyak orang, hahahaha. Selama sesi itu aku tersenyum seperti orang gila hingga aku lupa bahwa malam sebelumnya aku tidak tidur sama sekali…

Image

tanda tangan Ale untuk “Playing On”

Jika ada pepatah yang mengatakan kesempatan terkadang tak datang dua kali itu benar adanya. Senin, 2 Desember, aku ke tempat latihan itu lagi. Ketika aku duduk sembari melihat pemain Sydney FC kembali berlatih, ada pria agak tambun mendekatiku dan kami pun mulai bercakap-cakap. Rupanya, pagi yang kali ini lumayan cerah itu kami sama-sama menunggu sosok yang sama. Aku memburu tanda tangan Ale untuk buku “Playing On” yang baru saja aku beli sedangkan ia mengharapkan tanda tangan Ale untuk bola yang ia bawa. Aku pun bertanya padanya: “Apa klub sepakbola favoritmu?” Ia jawab: “Barcelona.” Dengan agak kaget, aku langsung menimpali: “Loh! Kalau kamu suka Barcelona, kenapa kamu mau bertemu dengan Ale?” (karena Ale bukanlah pemain Barcelona). Dengan sederhana ia menjawab yang kurang lebih seperti ini: “Akan menjadi kebahagiaan bagi siapa pun untuk bisa bertemu dengan Del Piero.” Di tengah hebohnya pemberitaan media soal Cristiano Ronaldo dan Lionel Messinya, aku benar-benar bangga magnet Ale masih melekat kuat bagi penggila bola, termasuk fans Barcelona asal El Salvador ini.

Image

Masih untuk “Playing On”

Image

Aku curiga gelang oranye ini sebenarnya milik anaknya, Tobias. Hahahaha!

Image

“Oh Tuhan! Ale menuliskan namaku di topi ini”

Image

Cheers!

Sayangnya, kami kurang beruntung. Jujur saja, aku sedikit kecewa. Untungnya, rasa bersyukurku bisa mengalahkan kekecewaanku karena aku berhasil memanfaatkan kesempatan pertama dari Tuhan dengan sangat baik. Semoga bertemu kembali Ale. Syukur-syukur di Jakarta, amiiiin….

 Image

Seperti diriku, cewek ini gagal move on. Dikiranya Ale masih kapten Juventus, hahahaha!

Image

Lihat Ale dari belakang begini rasanya seperti melihat anak kecil

Image

Taraaaa!!! Tak susah ternyata buat dapat tanda tangan ini. Makasih Tuhan. Sampai bertemu lagi Ale, amiiiin…

 

 

 

 

Aneka Tips tentang Sydney

Image

Katedral St. Mary

Urusan visa aman, aku tak langsung membeli tiket pesawat. Selalu ada pertanyaan yang mengusik benakku tatkala proses teknis pergi ke Sydney aku mulai. “Bagaimana bila aku sudah habis banyak uang tetapi tidak bertemu dengan Ale?” Pertanyaan ini wajar muncul karena pada awal musim ini Ale sempet tidak main karena cedera. Bahkan setelah Ale main penuh pun, aku masih mempunyai pikiran seperti ini, “Bagaimana bila setengah jam sebelum aku bertemu dia, Ale tiba-tiba jatuh kepleset di kamar mandi terus dia tak bisa latihan bahkan bertanding?” Pikiran negatif ini sering muncul dan aku selalu atasi dengan berkata: “yang penting aku sudah berusaha.” Mau sekeras apa pun usaha kita, tetap Tuhan yang menentukan. Doa sangat berperan penting dalam hal ini. Setelah memantau hasil laga dan kondisi Ale yang ternyata bugar dua minggu jelang keberangkatanku, akhirnya aku membeli tiket pesawat.

Image

di depan Sydney Opera House

Tips Mencari Tiket Pesawat

Tanpa bermaksud promosi, aku bahagia sekali begitu tahu AirAsia membuka rute Jakarta ke Sydney dengan transit di Kuala Lumpur. Maskapai murah ini sangat membantu bagi turis super hemat alias ‘backpacker’ kayak aku, hahahaha! Untuk perjalanan pulang-pergi aku habis Rp5.906.000. Harga tersebut sudah termasuk asuransi dan pajak bandara di Sydney. Untuk pajak bandara Soekarno-Hatta masih harus bayar lagi kalau nggak salah Rp150 ribu. Berhubung ini adalah kali pertama aku akan terbang lama, awalnya aku parno banget. Aku banyak menghabiskan waktu mencari informasi soal riwayat pesawat Airbus yang dipakai oleh AirAsia, teknik penyelamatan diri jika terjadi kecelakaan, hingga kejadian kecelakaan pesawat yang menghebohkan dunia. Tapi temen-temen tak perlu sepanik ini ya, hahahaha. Sejak pertama kali meluncurkan rute ini pada awal 2012, AirAsia belum pernah mengalami kecelakaan, dan semoga jangan pernah, amiiiin. Total perjalanan adalah dua jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur terus disambung delapan jam dari Kuala Lumpur ke Sydney. Jadi sekitar 10 jam perjalanan. Tentunya durasi ini belum termasuk antri di imigrasi, pengecekan tas, dll. Alhamdulillah, perjalanan pulang pergi lancar, terutama perjalanan perginya. Lepas landas dan mendarat bisa dibilang sangat mulus.

Ada juga JetStar, anak usaha Qantas Airlines. Ini juga murah, lebih mahal dikit dari AirAsia, tetapi masih terjangkau menurutku. Waktu itu aku tidak memilih JetStar karena harus transit dua kali. Jika mau langsung ke Sydney dari Jakarta, sekitar tujuh jam perjalanan, teman-teman bisa naik Garuda Indonesia atau Qantas. Tetapi ya itu, mahal banget untuk ukuranku. Bisa habis puluhan juta hanya untuk tiket pesawat. Sayang saja sih menurutku karena untuk durasi hanya terpaut tak lebih dari lima jam. Tetapi, tentunya fasilitas di Garuda dan Qantas lebih baik. Semuanya tergantung kantong masing-masing.

Image

kios bunga mungil nan cantik ini obyek jepretan favoritku di Sydney. Foto aku ambil di dekat Eddy Avenue, Central Station

Tips Mencari Hostel

Hotel dan hostel itu berbeda. Memesan di hotel berarti memesan kamar, sedangkan memesan di hostel berarti memesan tempat tidur saja. Jadi beda jauh. Untuk urusan ini aku membuat kesalahan fatal. Jujur saja. Awalnya, aku memesan satu tempat tidur di sebuah hostel di daerah King Cross. Setelah membaca ulasan beberapa pengguna, aku pikir tempatnya bagus. Ternyata, beberapa hari sebelum aku terbang ke Sydney, aku baru tahu bahwa King Cross merupakan kawasan malam di Sydney. Kaget banget! Bukan masalah hiburan malamnya yang membuatku resah, tetapi aku takut akan terjadi transaksi narkoba atau tindak kriminal pas aku tinggal di sana. Akhirnya, buru-buru aku batalkan dan saat mencari hostel baru, sudah agak terlambat. Aku menemukan hostel yang sebelumnya aku pernah bilang agak kotor dan stafnya kurang ramah tadi. Selain itu, ada beberapa hostel yang sayangnya sangat jauh. Yang lain tinggal hotel mahal. Jadi saranku, selain hostel pelajari juga wilayah hostel itu berada. Jika memperoleh hostel ‘backpacker’ di daerah Central Station akan lebih baik karena kemana-mana enak banget tinggal jalan kaki. Atau jika ada uang berlebih, bisa tinggal di hotel sehingga lebih privat. Catatan saja, tarif hostel ‘backpacking’ di Sydney bisa mulai Rp300an ribu per malam, tergantung lokasi Lumayan murah menurutku. Sebenarnya, hostel yang aku tinggali ada keuntungannya juga. Strategis dan kemana-mana dekat. Dengan berjalan kaki, aku bisa mengunjungi kawasan Opera House dan Circular Quay berkali-kali. Keuntungan tinggal di hostel ramai-ramai adalah bisa kenal banyak orang dari berbagai negara. Waktu itu, aku mempunyai kenalan cewek-cewek asal Jerman yang bela-belain lulus SMU langsung kerja sebagai pelayan restoran atau staf mall demi memperoleh uang dan pengalaman hidup di Sydney. Ada pula yang setahun bekerja di peternakan di Selandia Baru. Salut!

IMG_0152

toko mewah bergaya kuno namun megah ini banyak dijumpai di pusat kota Sydney, terutama kawasan George Street.

Sholat

Tentunya sangat sulit menemukan masjid di Sydney. Ya iyalah, hahahaha! Untuk menentukan kiblat, teman-teman bisa membeli penunjuk Kabah mini di toko buku. Harganya murah, sekitar Rp30an ribu. Waktu itu aku belinya di toko buku Gunung Agung. Untuk memastikan jadwal adzan, situs seperti ini http://www.islamicfinder.org/prayerDetail.php?city=Sydney&state=02&country=australia&lang bisa membantu.

Cuaca

Saat aku ke sana, akhir November dan minggu awal Desember, cuaca di Sydney adalah musim panas. Tetapi jangan dibayangkan akan sepanas di Jakarta ya. Suhu di Sydney sekitar 20an derajat Celsius. Jika hujan, tentunya suhu akan lebih dingin. Suhu di pagi hari bisa sangat dingin, menurutku. Yang membuat Sydney terasa dingin bahkan di suhu seperti itu adalah anginnya. Untuk bulan lain, maaf aku tidak tahu karena tidak mengalaminya sendiri. Mungkin bisa dicari di situs lain. Yang pasti, saranku sih selalu bawa jaket kemana-mana. Buat yang pakai jilbab bisa pakai manset. Terus, aku selalu membawa pasmina. Syal juga bisa. Kaos kaki jangan lupa. Hal ini untuk mengantisipasi angin yang lumayan dingin atau hujan yang bisa datang sewaktu-waktu. Secara keseluruhan, aku suka cuaca saat ini di Sydney karena terasa sejuk meski ya kadang dingin. Tak ada polusi. Langit masih terlihat biru bersih. Asyik pokoknya.

Image

Darling Harbour

Suasana Siang dan Malam

Lagi-lagi karena ini adalah kali pertama aku ke negara bermusim empat, aku rada kaget menemukan bahwa waktu malam di Sydney sangat pendek sedangkan waktu siang terasa sangat panjang pas aku tinggal sebentar di sana. Jam 5 pagi, cahaya matahari sudah terlihat terang sedangkan jam 8 malam langit masih terasa seperti jam 5 sore. Jam 7 malam aja aku masih asyik main di taman.

Makan

IMG_0159

Kingsford. Kawasan sesepi ini masih di Sydney. Pusat makanan Asia, termasuk Indonesia.

Ini adalah kendala terbesarku selama enam hari di sana. Awalnya aku pikir aku bisa tahan makan a la Barat, seperti roti atau burger, selama berada di Sydney. Kenyataannya, baru hari pertama saja perutku sudah memberontak. Aku nggak tahan lama-lama makan roti. Mana roti di sana rasanya aneh. Bumbunya kurang berasa. Untuk kawan-kawan yang biasa makan makanan Barat, katakanlah spaghetti atau pasta, ini bisa sangat membantu untuk berhemat. Sayangnya aku tak bisa hidup tanpa nasi. Jadi, hari kedua aku bela-belain pergi ke daerah bernama Kingsford, yang jauh dari pusat kota. Di daerah ini ada beberapa restoran masakan Indonesia. Setiap kali ke sini, aku berasa pulang ke rumah karena menemukan nasi dan makanan khas nasional lainnya. Selain merogoh kocek buat naik bus, makanan di sini harganya lumayan mahal. Rata-rata bisa habis A$10 dolar untuk sekali makan. Tetapi ada juga restoran yang harganya di bawah itu. Biasanya aku makan dua kali. Satu untuk makan siang di tempat, satunya lagi untuk dibungkus untuk makan malam. Tetapi, jangan bayangkan rasanya seenak di Indonesia ya. Contohnya, aku pernah beli nasi goreng yang harganya A$10. Porsi emang besar tetapi rasa kalah jauh dari buatan abang nasi goreng deket kos. Huhuhu, seumur-umur baru kali ini makan nasi goreng harganya yang bila dikurs-kan adalah Rp110 ribu… Kalau makan di McD, harganya bisa di bawah A$10 untuk sekali makan, tergantung menu yang kita pesan.

IMG_0210

Penampakan nasi goreng seharga Rp110 ribu *tepok jidat*

IMG_0153

Kios bunga lagi. Kali ini diambil di daerah sekitar Queen Victoria Building.

Panduan Berlalu-lintas

Pejalan kaki

Enak sekali berjalan-jalan di Sydney. Cuaca yang sejuk seringkali membuatku lupa bahwa aku belum makan siang atau bahwa aku sudah berjalan sangat jauh. Setiap kali mau menyeberang si pejalan kaki harus memencet tombol yang ada di setiap tiang tempat mau menyeberang. Ada pula jalan kecil yang tak ada tombolnya, nah ini berarti bisa tinggal jalan tanpa perlu memencet tombol semacam itu.

IMG_0155

Natal akan segera tiba. Masih di sekitar Queen Victoria Building.

Naik bus

Ini adalah kunci segala informasi mengenai transportasi umum di Sydney http://www.transportnsw.info/. Lengkap banget dan akurat. Mau kemana, rutenya bagaimana, ongkos berapa, beli tiket dimana ada di situ semua. Saking banyaknya informasi yang ada, aku sampai bingung sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya saja ke penjaga loket kereta api dan penjual bus setiap kali aku hendak naik. Secara umum, informasi transportasi di Sydney adalah sebagai berikut:

  1. Tarif bus umum di Sydney lumayan mahal dan dibagi berdasarkan ‘section’ atau jarak. Intinya, penumpang hanya membayar sebanyak jarak yang akan kita tempuh. Tetapi, tetap saja mahal menurutku. Sebagai contoh, untuk jarak terdekat yakni hingga 1,6 km tariff bus sekali naik A$2 dan 60 sen. Untuk kereta harganya adalah A$3 dan 60 sen. Hitung aja ke rupiah. Maka dari itu, aku hanya naik bus dan kereta hanya jika jarak jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki.
  2. Bus dan kereta di Sydney sangat nyaman. Untuk bus, ada dua pintu. Naik harus dari pintu depan. Kalau turun bisa dari pintu depan atau pintu tengah. Sebagai catatan, bus di Sydney dibagi menjadi dua. Ada yang “Prepay” dan ada yang nggak. “Prepay” maksudnya kita harus membeli tiket di toko atau lokasi yang menjual tiket bus. Ada tandanya biasanya. Dan jumlahnya banyak meski tak selalu dekat dengan halte tempat kita naik. Kita nggak boleh membeli tiket sama supir. Ada pula bus dimana tiket bisa dibeli sama supirnya. Nanti tiket tinggal dimasukkan ke dalam mesin gitu di dalam bus. Bus tidak selalu berhenti di setiap halte. Bus hanya berhenti bila ada penumpang yang ingin naik. Tiap kali mau turun, tekan tombol STOP yang ada di dalam bus. Kalau kereta lebih nggak ribet. Tiket bisa dibeli di mesin atau sama petugasnya langsung. Dan nyaman banget kereta di Sydney. Aku mendamba Jakarta bisa mempunyai transportasi seenak itu.

ImageThe Rocks, kawasan bersejarah yang masih tertata dengan sangat apik dan bersih.

Biaya

Hampir setiap teman yang mengetahui niatku ke Sydney akan selalu mengatakan begini: “Sydney kan mahal En?” Hahahaha! Pendapat mereka memang betul tetapi aku sudah menyiapkan jurus untuk mengatasinya. Tentunya sebelum aku ke sana segala faktor, apalagi uang, sudah sangat aku pertimbangkan dengan masak. Biaya hidup di Sydney memang sangat mahal. Sebagai contoh, air mineral semacam Aqua 600 ml harganya bisa mencapai Rp30an ribu jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs saat ini. Makan bisa Rp100 ribu setiap kali masuk ke restoran. Tetapi, jangan mikir rupiah melulu. Bisa stres sendiri. Ada teman yang pernah bilang, “Wah duitmu banyak dong En?” Uangku nggak yang sampai beratus-ratus juta kok. Aku mengandalkan uang tabungan hasil kerja kerasku sekitar tujuh tahun bekerja di Jakarta. Dan bukan berarti harus mengumpulkan duit selama tujuh tahun loh. Waktu pertama kali bekerja aku nggak pernah kepikiran akan menghabiskan banyak uang di Sydney. Urusan uang, aku selalu berprinsip untuk selalu mengutamakan kebutuhan dan jangan mudah tergoda membeli barang yang kurang perlu. Jika ternyata tabunganku akan kupakai buat ke Sydney itu semua adalah rencana Tuhan. Sebenarnya, aku baru benar-benar kerja keras bahkan saat akhir pekan setahun terakhir ini. Sabtu-Minggu sering aku habiskan dengan menerjemahkan buku atau dokumen pesanan orang. Sangat membantu sekali untuk biaya selama di sana. Otak udah mau membeku karena kupakai kerja hampir setiap hari. Istirahat pun kurang. Demi Ale… hal ini pun aku tempuh. Berapa biaya untuk ini semua? Di atas Rp10 juta tetapi masih jauh di bawah Rp20 juta. Pasnya berapa aku tidak menghitung secara pasti. Total biaya di sana masih aman dari zona normal tabunganku jadi aku tak mau ambil pusing lagi. Biaya itu sudah termasuk membeli tiket bola, membayar tiket pesawat, hal-hal kecil hingga aku kembali ke Jakarta. Banyaknya sumber pendapatan setiap bulan memang penting tetapi menurutku cara kita mengelola uang jauh lebih menentukan.

Tips Berhemat

IMG_0171

Numpang narsis di depan katedral St. Mary, hehehe.

Selalu ada celah untuk berhemat di tengah tingginya biaya hidup di Sydney:

  1. Fokus pada tujuan
    Mulai dari museum, kebun binatang, pantai, Sydney mempunyai banyak tempat wisata. Ada yang gratis tetapi banyak pula yang harus membayar puluhan dolar Aussie untuk bisa masuk. Saat di sana, ada dua tempat wisata yang aku lewatkan: Featherdale Wildlife Park dan Bondi Beach. Sedikit nyesel terutama yang kebun binatangnya karena aku ingin ketemu sama penguin tetapi ya sudahlah. Praktis, aku hanya membayar tiket bola yang sudah lunas bahkan saat aku belum ke Sydney. Lainnya adalah GRATIS! Enaknya, Sydney ada banyak tempat wisata yang gratis dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki; Opera House, Harbour Bridge, The Rocks, Hyde Park, Royal Botanic Garden, dll. Letaknya pun berdekatan. Yang terpenting adalah fokus bahwa ke sana adalah ingin bertemu dengan Ale dan nonton bola! Lainnya bisa disambangi kapan-kapan lagi.
  2. Stamina

Salah satu kesalahan yang aku lakukan adalah aku suka lupa makan saking asyiknya menggelandang di Sydney. Bagi pecinta sejarah dan taman seperti aku, Sydney ini bak surga. Setiap sudut kota terasa indah karena banyak bangunan kuno yang masih terawat dengan sangat baik. Untungnya, meski sering melewatkan sarapan, aku selalu membawa air putih. Ini kunci ampuh melawan dehidrasi dan membuatku kuat jalan meski berjam-jam tidak makan. Jika stamina bagus enak bisa menghemat uang transpor karena Sydney ini kecil menurutku. Jalan-jalan di sini enak. Kalau lelah bisa melipir ke taman kota yang sejuk. Bisa tiduran di atas rumput yang segar dan bersih. Fantastis!

IMG_0175

Taman kota Hyde Park. Terletak di jantung pusat kota Sydney.

3. Makan

Buat yang gemar makan ‘junk food’ enak sekali karena makan di McD bisa jauh menghemat. Kalau aku, ya seperti yang aku bilang tadi, agak susah karena harus makan nasi, hehehe.

Keramahan warga Sydney

IMG_0179

Berani mengalahkan kakek-kakek ini? Hehehe. Masih di Hyde Park.

Tak perlu canggih dalam berbahasa Inggris untuk bisa menikmati Sydney. Aku pernah bertemu dengan dua cowok asal Jepang yang pernah aku minta tolong untuk memfoto diriku di depan katedral St. Mary. Mereka minim sekali berbahasa Inggris tetapi tetap terlihat sangat menikmati waktu mereka. Hal yang paling menyenangkan dari Sydney adalah warganya sangat ramah, terutama terhadap turis. Kota ini sangat multi budaya. Penduduk dari berbagai bangsa ada di sini. Penduduk di sini juga suka tersenyum, bahkan sama orang asing. Kata-kata seperti “how are you” setiap kali masuk toko adalah hal yang sangat lumrah. Biasanya seusai mengucapkan “thank you”, aku mengucap “have a good day”. Di Sydney, ungkapan semacam itu sangat mudah ditemukan. Jika mau nanya arah, nyasar, hingga minta foto tak perlu ragu untuk meminta tolong ke warga yang kebetulan lewat. Asal sopan dan tersenyum, mereka pasti mau membantu. Sudah sering aku buktikan selama di sana, hehehe.

IMG_0197

Bangunan macam ini membuatku lupa kalau aku sedang kelaparan, hahaha. Di depan Circular Quay

Baiklah, ini tulisan keduaku. Tulisan ketiga, mungkin yang terpenting soal bagaimana bertemu sang kapten, akan segera menyusul… Makasih yang udah baca…

 IMG_0198

Circular Quay, salah satu jantung wisata di Sydney. Berdekatan dengan Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge.

IMG_0203

Salah satu ikon di Macquarie Square, tempat nongkrong orang kantoran di Sydney saat makan siang.

IMG_0135

Queen Victoria Building. Di dalamnya adalah pusat perbelanjaan barang-barang mewah yang harganya tak bisa kujangkau, hohoho.

Repotnya Ingin Bertemu Alessandro Del Piero

Image

Meski aku hanya bertandang ke Sydney selama enam hari, perjalanan ke kota cantik tersebut memerlukan persiapan yang sangat panjang dan matang. Setahun lebih aku sudah bersiap mengumpulkan segala sesuatunya untuk ke sana. Sekadar informasi, aku melakukan dan mengurus segala sesuatunya sendiri. Mulai dari paspor, kartu kredit, visa, hingga soal hostel dan pesawat. Stres, bingung hingga nyasar di Sydney pun aku nikmati dan jalani sendirian. Hahahaha. Bagiku, bepergian untuk menemui sang kapten sekaligus menjadi tantangan bagiku untuk menguji nyaliku sendiri; seberapa kuat aku hidup di tempat asing dan seberapa sabar aku mengurus hal kecil yang dulu tak pernah terbayangkan sebelumnya. Oke, aku akan membagi tulisan ini ke dalam beberapa bagian.

Persiapan

Mungkin terdengar sepele, tetapi aku sudah banyak membekali diri dengan informasi soal Sydney jauh sebelum aku ke kota tersebut. Aku membaca banyak sekali blog, terutama soal visa, yang aku tahu susah untuk didapatkan. Di satu sisi, aku mendapat banyak informasi yang mendukung perjalananku. Tetapi, di sisi lain, aku awalnya sempat patah arang karena menurut beberapa artikel yang aku baca, aku harus melampirkan surat rekomendasi dari warga negara Australia untuk kedatanganku ke Sydney. Aku bingung sekali soal ini. Dan inilah penghalang terberatku. Beberapa blogger di tulisan mereka menyatakan setiap pelamar visa, meski hanya berkunjung, wajib menyertakan scan, kalau perlu, surat dari warga negara Australia yang mengajakku untuk tinggal di Sydney. Dan, parahnya, ini harus dari warga Australia. Aku sendiri ada beberapa teman yang menikah dengan orang Australia tetapi rasanya kurang enak meminta rekomendasi mereka. Aku sebenarnya juga mempunyai banyak teman di Australia, tetapi sifat mereka sementara, bukan warga negara Australia permanen. Belum apa-apa, aku sudah mau menyerah duluan. Lama sekali aku menimbang soal ini, dan jujur saja, aku awalnya sudah tidak mau mencoba sama sekali. Untungnya, aku mempunyai teman2 baik yang membuatku kembali bangkit. Aku berterima kasih kepada Triwik Kurniasari dan Sri Jatmiko S. Aji karena berkat informasi dari mereka aku tak perlu menjadikan soal rekomendasi warga negara Australia sebagai penghambat. Mereka bilang tak perlu surat semacam itu jika hanya berwisata ke Sydney. Makasih banyak ya Triwik, Aji, dan temennya Aji, Ario untuk info soal ini.

Persoalan kedua yang tak kalah beratnya adalah soal surat keterangan kerja dari kantor. Ketika berita hengkangnya Ale ke Sydney FC muncul, aku baru beberapa bulan berada di kantorku yang sekarang. Dengan kata lain, aku harus menunggu satu tahun terlebih dahulu untuk bisa mengambil cuti dan memperoleh surat rekomendasi kantor untuk kepergianku ke Sydney. Dan melewati setahun pertama di kantorku sekarang bukanlah perkara yang mudah. Ada empat bulan masa “neraka” yang sempat membuatku sangat stres. Ada satu kondisi pekerjaan yang teramat sangat membuatku tidak betah hingga aku pernah mencoba untuk berpindah pekerjaan. Aku melamar ke beberapa tempat. Ada yang dipanggil tetapi pekerjaan kurang sreg. Ada yang tidak dipanggil sama sekali. Waktu itu aku mikir hal yang sangat sayang bila aku pindah adalah aku harus menunggu satu tahun lagi bekerja di tempat yang baru baru bisa memperoleh cuti dan surat rekomendasi. Tetapi, aku memang sudah sangat tidak betah, jadi ya mau gimana lagi? Ternyata Tuhan berkata lain. Aku mencoba bersabar dan usahaku terbayar sudah. Masa empat bulan akhirnya lewat dan Alhamdulillah aku nyaman di tempatku yang sekarang. Proses teknis pun kembali dimulai, dan pada saat itu musim pertama Ale di Sydney FC sudah berakhir. Itulah cerita mengapa aku baru pergi saat Ale menjalani musimnya yang kedua bersama Sydney FC.

Mengurus Paspor, Kartu Kredit, dan Membeli Tiket Bola

Usai musim 2012/2013 berakhir, aku rajin mengirim email ke humas Sydney FC di info@sydneyfc.com. Aku bertanya soal jadwal latihan dan penjualan tiket ke humas ini. Aku sangat terbantu dengan humas Sydney FC. Mereka sangat tanggap dalam menjawab pertanyaanku. Cepat lagi dan dijawab semuanya. Jadi kalau teman2 butuh info soal Alessandro, coba tanya aja ke alamat email tadi. Insya Alloh dibalas karena aku sudah membuktikannya. Musim 2013/2014 dimulai 11 Oktober 2013 dan tiket baru dijual 20 September 2013. Itulah info yang aku dapat. Waktu itu libur A League masih lama jadi aku masih punya banyak waktu untuk bersiap. Aku memulai dengan membikin paspor. Waktu itu aku bahkan belum punya paspor loh, hehehe. Butuh waktu sekitar seminggu untuk membuat paspor baru. Urusan paspor kelar 1 Juli 2013 lalu aku beralih ke urusan kartu kredit. Awalnya, rada takut juga sih ngurus kartu kredit mengingat betapa banyak kasus negatif soal ini. Tetapi kartu kredit ini sangat bermanfaat bagi siapa pun yang mau keluar negeri, terutama untuk membeli tiket, jadi ya sudah aku memberanikan diri untuk melamar kartu kredit dengan batas kredit yang kecil terlebih dahulu. Butuh waktu agak lama juga hingga kartu kredit di tangan karena terpotong libur Lebaran tahun ini. Paspor dan kartu kredit beres, aku masih harus menunggu waktu pembukaan penjualan tiket. Aku sempat bertanya langsung ke Ticketek, agen penjualan resmi tiket A League, soal bisakah tiket dikirim langsung ke Jakarta dan makan waktu berapa lama? Bersyukur sekali Ticketek langsung membalas pertanyaanku. Waktu itu dia bilang pengiriman bisa 14 hari kerja. Trus ada pilihan apa gitu, sori lupa, dimana kita bisa memperoleh tiket secara instan. Waktu itu karena aku ragu-ragu, ya akhirnya aku tetap memilih agar tiket dikirim ke Jakarta. Setelah menilik harga tiket pesawat sana sini dan perkiraan proses pengurusan visa, aku memutuskan untuk membeli tiket untuk laga tanggal 30 November antara Sydney FC Vs Newcastle Jets. Oh ya, ini alamat situs Ticketek.. http://premier.ticketek.com.au/default.aspx. Mungkin ada yang bertanya kenapa sih aku malah membeli tiket terlebih dahulu? Ada dua alasan penting 1) untuk meyakinkan kedutaan bahwa aku memang ada acara yang akan aku datangi di Sydney 2) untuk meyakinkan pihak HRD tentang tanggal cutiku. Aku beli seharga A$40 atau sekitar Rp440 ribu. Menurutku sih termasuk murah karena tiket yang aku beli ini termasuk kelas bagus. Tempat duduk di tengah dan lumayan dekat sama lapangannya. Masih kalah malah dari harga tiket konser artis luar negeri di sini kan? Ditambah biaya ongkos dan biaya administrasi kartu kredit, aku membayar sekitar Rp560an ribu untuk ini semua. Selesai dibayar, aku memulai masa deg-degan menunggu tiket ini. Datang atau tidaknya tiket ini menentukan keberangkatanku ke Sydney. Kenapa? Aku tak akan memulai langkah kedua jika tahap pertama belum selesai. Kenapa mesti repot ngurus visa jika tak yakin bisa lihat Ale main bola apa nggak? Seminggu, dua minggu tiket belum nyampe ke kantor dan aku masih bisa tenang. Minggu ketiga tiket belum juga sampai dan aku pun mulai panik. Awalnya, aku sudah patah arang (lagi) hingga di suatu Jumat pagi, ada amplop sudah duduk manis di meja kerjaku. Akhirnya sang tiket pun nongol juga. Ada bukti pembayaran segala.. senang sekaligus panik karena mepet. Ini terjadi sekitar 5 minggu dari tanggal pertandingan bola yang akan aku tonton. Sempet nggak ya ngurus visa dll?

Mengurus Visa yang Lumayan Bikin Stres

Buat yang belum tahu, aku akan memperkenalkan tentang VFS Global, ini adalah rekanan Kedutaan Australia di Indonesia, yang mengurus soal administrasi tentang permohonan visa, termasuk visa turis. Ini alamatnya http://www.vfs-au-id.com/. Baca-baca aja semuanya, termasuk syarat2nya. Staf di sini baik2 kok, jika ada pertanyaan telepon aja. Insya Alloh akan dibalas. Pertama kali muncul, langsung baca soal bagian VISA SEMENTARA.. SUB CLASS 600. Oke, aku langsung bahas satu per satu tentang persyaratannya:

  1. Formulir visa. Ambil yang bagian turis stream — formulir 1419. Formulir ada di bagian bawah, download aja. Jangan panik ya kayak aku pas pertama kali baca isi formulirnya. Awalnya, aku udah stres aja lihat 17 halaman dengan segitu banyak informasinya, hahahaha. Kenyataannya, hanya sedikit bagian yang aku isi kok. Lain2 hanya info umum saja. Ada beberapa pertanyaan di formulir ini yang agak membingungkan bagiku waktu itu. Jika ada yang bingung, bisa bertanya ke aku.
  2. Biaya permohonan visa. Biaya visa ini berubah dua kali dalam setahun, Januari dan Juli, mengikuti pergerakan kurs. Pas aku ke sana, biaya yang harus aku bayar adalah A$130 dan ditambah biaya logistik jadinya Rp1.560.000 per orang. Untuk visa jenis lain aku kurang tahu harganya berapa. Untuk yang pergi tahun depan, kemungkinan harga akan berubah. Jadi cek terus alamat VFS yang aku kasih tadi. Ada beberapa cara pembayaran. Waktu itu, karena jarak dari kost ke kantor VFS tidak terlalu jauh, jadi aku datang langsung ke kantor VFS dan aku bayar tunai di tempat.
  3. Fotokopi paspor. Yang wajib difotokopi adalah bagian biodata, perubahan, dan stempel visa dan imigrasi JIKA ADA. Waktu itu, aku foto copi semuanya buat jaga2 yang akhirnya sama staf VFS dibuang karena belum ada stempel imigrasi. Aku emang belum pernah ke luar negeri sih, hahaha. Jadi buat yang sama sekali belum keluar dari Indonesia, tak usah khawatir aplikasi visa akan ditolak. Itu sama sekali tidak berpengaruh.
  4. Pas poto ukuran paspor. Ini buat ditempel di bagian formulir visa tourist stream tadi. Biasanya tukang foto udah tahu ukuran paspor seperti apa. Waktu itu aku bawa formulirnya langsung ke tukang foto sih biar jelas. Fotoku berwarna, latar foto terserah cuman waktu itu aku pakai putih mengikuti saran si mbak tukang fotonya. Buat yang pakai jilbab, Alhamdulillah nggak perlu buka jilbab buat kelihatan telinganya. Aku sudah memastikan ini ke VFS. Jadi bisa melampirkan foto dengan jilbab yang kita kenakan.
  5. Foto kopi KTP dan KK. Cukup difotokopi, tak perlu dilegalisir, tak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku sudah bertanya ke VFS soal ini. Apa adanya saja.
  6. Formulir 956/956A aku nggak pakai karena memang aku tidak menguasakan pihak ketiga.
  7. Bukti pekerjaan. Berupa selembar surat keterangan dari kantor tentang posisi kita di kantor, lama bekerja, gaji yang kita terima setiap bulan, lama cuti, siapa yang membiayai perjalanan kita, kapan waktu cuti. Jangan lupa menyertakan nomor paspor, nama lengkap dan alamat lengkap kita. Bisa ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Aku sudah bertanya soal ini ke VFS. Jika ada yang masih bingung, bisa bertanya kepadaku. Aku masih ada template-nya kok. Waktu itu aku melampirkan yang dalam Bahasa Inggris. Jangan lupa tanda tangan manajer HRD, nama manajer HRD tersebut, dan cap perusahaan ya. Bagiku surat ini sangat penting. Di formulir tersebut memang ada poin bila si pelamar tidak bekerja dsb. Tetapi, aku mati-matian bertahan di kantorku yang sekarang karena surat ini sangat penting. Sekadar informasi, Australia adalah surganya pencari suaka. Jadi surat ini berfungsi untuk menjamin bahwa kita akan kembali ke Indonesia bukan untuk mencari suaka di sana. Ada kantor yang menjamin bahwa kita akan kembali bekerja di tanah air. Kita ke sana adalah benar untuk liburan bukan untuk menetap.
  8. Dukungan dari orang lain. Nah ini yang aku bilang tadi soal rekomendasi dari warga negara Australia. Harap melampirkan ini JIKA memang ke sana atas ajakan dan dukungan dari warga Australia di sana. Bagaimana jika tidak? Cukup dengan melampirkan bukti booking hotel atau hostel tempat kita menginap berikut foto copy tiket perjalanan PP kita. Waktu itu aku pakai situs ini www.booking.com Ada banyak hostel khusus “backpacker” dengan harga lumayan murah. Aku dapat di daerah pusat kota dengan tariff 200an ribu per malam. Cuman aku tidak merekomendasikan tempat ini karena kurang bersih dan staf hostel yang kurang ramah. Namanya juga murah, hehehe. Di sinilah kartu kredit berperan penting. Di situs tinggal pilih hotelnya lalu booking pakai kartu kredit kita. Gratis kok. Cuman harap diingat, jika ingin membatalkan kunjungan kita harus dilakukan maksimal H-2 dari tanggal booking. Jika tidak, kartu kredit kita akan kena “charge.” Trus soal tiket pesawat PP, JANGAN DULU MEMBELI TIKETNYA. Bagaimana triknya? Izin ya Triwik buat berbagi info soal ini soalnya ini sangat bermanfaat. Hehehe. Aku ke kantor Anta Tour. Bisa ke agen perjalanan lain, sama saja menurutku. Niat awal sih meminta staf Anta Tour untuk mem-booking tiket pesawat PP untuk mengurus syarat visa. Biasanya staf langsung tahu bahwa print-out tiket PP ini hanya formalitas jadi NGGAK BAYAR. Kalau ada yang ngotot mau kasih charge, bilang aja ini hanya printout semata dan belum tentu visa akan diterima. Nah biar nggak malu, aku ke sana buat beli asuransi perjalanan sekaligus. Lagipula, setiap pelancong harus dibekali dengan asuransi. Aku habis Rp300an ribu untuk asuransi selama 8 hari di sana. Asuransi juga penting untuk menekankan ke kedutaan bahwa kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan serius.
  9. Soal dana. Nah ini juga agak simpang siur tentang berapa dana deposit yang harus dilampirkan saat kita melamar visa. Waktu itu, dana di tabunganku Rp36an juta. Ada yang di blog bilang Rp20 juta sudah cukup kok asal kita nggak berlama2 di sana. Jika hanya seminggu, dana yang aku lampirkan akhirnya tembus dan diterima oleh kedutaan. Bagaimana jika kurang? Aku belum pernah mencoba trik ini tetapi mungkin bisa dicoba, hehehe. Bisa ngutang, hahahaha. Cuman harus cerdik. Jangan sampai ada transfer 100 juta masuk ke rekening temen-teman seminggu sebelum mengajukan visa. Sudah pasti akan ditolak. Pihak kedutaan pasti curiga ada dana sebesar itu masuk saat mau ke Aussie. Jadi,kalau mau ngutang transfer jangan mendadak dan jumlah bisa dicicil. Jangan langsung Rp50 atau Rp100 juta sekaligus, hahahahhaa. Begitu kira2 uang cukup, langsung ke bank dan minta transkrip transaksi tiga bulan terakhir. Mereka udah pasti paham. Oh ya, usahakan tabungan kita aktif ya maksudnya ada transaksi keluar masuk. Soalnya ada tabungan yang khusus buat menabung. Ini sebagai bukti kecukupan dana kita selama di sana. Biar kedutaan yakin kita nggak bakal kelaparan di sana, hahahaha.
  10. Soal tes kesehatan, jika umur teman-teman masih di bawah 75 tahun tak perlu ada tes kok.
  11. Dokumen lainnya waktu itu aku melampirkan foto copy kwitansi pembelian tiket bola. Terbukti ampuh. Sekalian foto copy asuransi perjalanan.
  12. Oh ya, sebagai formalitas aku memasukkan kontak kenalan WNI yang di Melbourne. Yang bahkan orangnya aja aku belum pernah ketemu, hahahaha. Terbukti! Nggak ngaruh sama sekali tuh. Lega banget rasanya.. emang bener. Nggak perlu harus ada rekomendasi warga negara Australia cuman buat berkunjung ke sana.

Syarat sudah lengkap dan aku pun ke kantor VFS di Jakarta. Ngantri cepet, bayar selesai dan tibalah aku ke saat mendebarkan. Si mbak staf VSF bilang proses bisa tiga minggu. Duh mepet banget dari jadwal bolanya. Dia juga memberikan cara untuk melacak proses aplikasi kita. Australia tidak mengeluarkan visa stempel ya. Sistemnya sudah elektronik. Jadi kita tinggal menunggu email yang akan memberitahu apakah permohonan kita diterima atau tidak. Karena tiga minggu, aku tidak membuka inbox karena masih lama dari tanggal pengumumannya. Lima hari setelah pengajuan aplikasi, siang hari ada telepon dari staf kedutaan. Ia bertanya soal kesiapanku ke Sydney, kontak di sana, mengapa aku sendirian ke sana, dll. Dan saat ditanya mengapa aku ke Sydney, dengan jujur aku bilang bahwa aku ingin sekali bertemu dengan Ale. Mungkin terdengar norak, cuman ini adalah kesempatan baik untuk mengutarakan maksud kedatanganku sekaligus membujuk si mbak kedutaannya gitu, hehehe.

Senin paginya, iseng aku buka inbox trus spam… dan aku langsung tersenyum lebar. Sudah ada surat keterangan visa grant notice dua halaman di email-ku. CUKUP SEMINGGU UNTUK MEMPEROLEH KETERANGAN APAKAH VISA DITERIMA ATAU TIDAK. CEPET BANGET!!! Subhanalloh… bahagianya diriku. Aku print dan dengan dua lembar surat ini aku telah memegang izin ke benua Kangguru dan siap bertemu dengan Ale. Nggak sia-sia perjuanganku setahun terakhir lebih ini… makasih ya Alloh swt. Sekian dulu ya tulisanku. Masih akan ada tulisan lain lagi soal Sydney.. jika ada pertanyaan, bisa menghubungiku ke ein_nie02@yahoo.co.id. Makasih….