“Jika Alloh Swt Tahu Segalanya, Mengapa Aku yang Bersalah?”

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

“Bukan pertanyaan yang asing buatku”.
Suatu ketika, ada seorang peserta khutbah yang menanyakan judul tersebut kepada ustadz Nouman Ali Khan. Beliau menceritakan kisah tersebut dalam #StoryNightWhisper di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Jumat, 29 November 2019.

Dalam #StoryNightWhisper itu, ustad Nouman Ali Khan mengangkat kisah turunnya nabi Adam As ke bumi dan sejarah setan menjadi musuh nyata bagi kita. Ada banyak sub tema dari khutbah yang ingin sekali aku tulis. Aku ingin memulai isi khutbah beliau tentang pertanyaan di atas. Alasannya sederhana. Suatu waktu aku pernah menanyakan hal tersebut pada diriku sendiri dan Alloh swt saat rencana tak berjalan sesuai harapanku.

Ustadz Nouman menggunakan surat Al-Mujadilah ayat 11, Al-Baqarah ayat 30, surat Sad ayat 71, surat Sad ayat 72 dan surat Al Araf ayat 12 sebagai pijakan atas dakwahnya malam tersebut.

Menyalahkan Alloh swt seperti judul di atas ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Kesemuanya bermula saat Alloh swt mengadakan pertemuan dengan iblis dan malaikat tentang rencana-Nya menurunkan manusia sebagai khalifah ke muka bumi.

Bumi, binatang, malaikat dan iblis telah ada sebelum Alloh swt menciptakan manusia. Dalam konvensi bersama malaikat dan iblis tersebut, nabi Adam as belum ada.

Alloh swt menciptakan malaikat dari cahaya sedangkan iblis berasal dari api. Malaikat selalu mematuhi perintah Alloh swt dengan tetap mempunyai intelektualitas. Sedangkan iblis mempunyai pilihan berbuat baik atau buruk.

Para malaikat kaget mendengar rencana Alloh swt yang akan mengutus seorang manusia sebagai khalifah di bumi. Mereka menanyakan mengapa Alloh swt menurunkan manusia yang nantinya akan menjadi makhluk yang merusak bumi dan membuat pertumpahan darah.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 30)

Alloh swt pun menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang malaikat tidak pahami.

Alloh swt menambahkan Dia akan menciptakan manusia yang mempunyai empat kualitas; terbuat dari tanah liat, seimbang, indah dan mempunyai ruh.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 71).

Saat itu iblis diam. Dia tidak berkata apa pun, hanya melihat semua yang terjadi. Hingga akhirnya Alloh swt mengumpulkan kita semua, malaikat dan iblis. Saat itu kita berada di surga. Di hadapan malaikat dan iblis, Alloh swt menunjuk nabi Adam as sebagai manusia pertama di muka bumi. Alloh swt mengajari nabi Adam as semua nama, termasuk kita. Setelah itu, Alloh swt meminta malaikat dan iblis untuk bersujud atas terciptanya nabi Adam as dan manusia.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (Alqur’an surat Al-Baqoroh ayat 72).

Malaikat melakukannya. Walau sempat protes di awal, mereka bersujud sebab menyadari kebijaksanaan atas rencana dari Alloh swt. Malaikat juga bersujud sebab mengagumi ciptaan Alloh swt, yakni manusia dengan empat kualitas di atas. Di lain pihak, iblis hanya diam dan seperti yang teman sudah ketahui, iblis menolak bersujud.

Lalu bagaimana kondisi kita saat itu di surga? Kita menyepakati dengan segala kesadaran diri bahwa kita bersedia diturunkan ke dunia. Kita melihat bagaimana indahnya surga yang akan menanti apabila kita telah melewati tes di dunia. Kita mau mengemban amanah sebagai khalifah ke dunia tanpa paksaan.

Di lain pihak, Alloh swt membiarkan iblis mengambil sikap akan menghalangi manusia berada di jalan yang lurus untuk ke surga sebab Alloh swt memang ingin mengetahui hamba-Nya yang berhak memperoleh tiket ke surga.

Terkait judul di atas, saya ingin teman mengelik tautan ini. Ini adalah penggalan khutbah dari Nouman Ali Khan atas tema yang sama. Saya mengambil ini karena menurut saya lebih jelas untuk menjawab persoalan di atas.

Di video ini, pak ustadz menyebutkan iblis merasa cemburu saat mengetahui nabi Adam as yang bukan siapa-siapa malah mengemban amanah menjadi khalifah. Baik iblis dan nabi Adam as sama-sama melanggar perintah Alloh swt. Tapi keduanya mengambil sikap yang berbeda karena mempunyai kemampuan untuk memilih.

Dalam ceramah malam itu, ustadz Nouman menggarisbawahi sikap iblis yang diam melihat sesuatu yang mengusik nuraninya. Ini berbeda dengan malaikat yang bertanya langsung kepada Alloh swt.

Pikiran iblis tersebut menggumpal, apalagi setelah iblis mengetahui bahwa Alloh swt menciptakan manusia dari tanah liat. Iblis menganggap tanah liat sebagai tak berharga, tidak seperti dirinya yang terbuat dari api. Mereka menggunakan logika bahwa mereka yang berhak memimpin bumi, bukan nabi Adam as dan kita.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Alqur’an surat Al-Araf ayat 12).

Prosesnya sehingga seperti ini: diam saja →membuat realita di kepala sendiri dalam waktu lama →mengeluh kepada Alloh swt →membangkang.

Nabi Adam as dan Hawa juga berbuat salah yakni memakan buah dari pohon terlarang. Akan tetapi nabi Adam as tidak mengeluh atau menyalahkan Alloh swt mengapa diturunkan dari surga meski pun dia tahu bahwa Alloh swt memang berencana menurunkannya sebagai manusia pertama di muka bumi.

Nabi Adam as tetap melakukan pertobatan sebab bagaimana pun dia melanggar perintah dari Alloh swt.

Ustad Nouman menyebut menyalahkan sesuatu, terutama saat terjadi musibah dan sebagainya, hanya kepada Alloh swt menyerupai sikap iblis. Dan persoalan tentang takdir kita, semuanya berakar pada mau tidak kita bertanggung jawab atas segala kesalahan yang kita pernah lakukan.

The Surprisingly Inspiring Figure I Never Thought Before

If I were not suffering from unrequited love two years ago, I wouldn’t have known Nouman Ali Khan..

My dearest friend introduced me to his name after I told her about the painful romance. At the end of our e-conversation, she brought up his name along with one of his videos about hope.

I thanked her on our dialogue but deep inside, I wasn’t interested at her suggestion. Never in my life did I rely on an Islamic preach to heal scars in my heart. I thought praying to Alloh swt was sufficient to get me along the rough path.

Somehow, I browsed his name on YouTube. The first of his video that I watched wasn’t about the theme that my friend suggested. That didn’t matter though. Because at an instant, I was hooked by his khutbah.

I forgot the title of his sermon but the first impression has been lingering until now. I was attracted to his straightforwardness and humility. He focused on one ayat only. From there, he drew lines from the ayat to everyday fact.

After that, I clicked on the link that was sent by my friend. The video stunned me even more. I’d like to be brutally honest here.

I have been a muslim for my entire life. I was raised in a muslim neighborhood. Ninety-nine percent of my village residents are muslims. Everything was fine until I was 24 years old. When I began experiencing serious problems in my life at 25, my faith was shaken.

I had terrible situations at work till I resigned from the job. Bit by bit, Alloh swt pulled me away from things that were hindering me closer to Him. The first thing was my profession.

I loved my job so much until I didn’t realize it became my other God, figuratively speaking. So, Alloh swt took the job away from me. After that occurred, my emotion was better although I had to move from one job to the other.

There was one thing that shocked me about Him that persisted at least until last year. It was about romance. Shortly put, I underwent devastating love experiences that I questioned Him a lot. Did He know what was happening to me? Why didn’t it work out? Why couldn’t that guy love me back? Was there something wrong with me?

The ongoing problem caused me turning into a naive person. Yes, I was performing sholat, fasting and giving alms. I read articles about the religion but my heart was putting boundaries. Something was missing.

I hadn’t fully trusted Him yet.

For years, the naivete grew larger. I felt like I was having a dual personality thingy. I couldn’t differentiate which were whispers from satan and which were my ruh statements.

I listened to dakwah from Indonesian ustadz but none of stuck onto my heart. Not because of their materials but because I thought I was naïve. I kept rejecting the truths that came from them.

But Alloh swt knew me very, very well. He knew that my ears couldn’t accept good words from Bahasa Indonesia. Yes, I was that very arrogant. Until my friend mentioned the name of ustad Nouman Ali Khan.

His sermon got into my heart right away. Some of his preaches slapped on my face. Hurtful but healing at the same time. For about two years, I watched his videos regularly. The more I watched his sermons, the more I knew that I wasn’t actually a hypocrite. But satan was whispering into my chests so loudly that his voices blocked me from listening to what my ruh said.

From his dakwah, I began looking for my own vision in life. I started learning to trust Alloh swt for smallest things He gave and gives still. Ustad Nouman is such a brilliant speaker. He really implements what the Alqur’an wants to teach. The simple, timeless guidance that answers all human being problems.

My favorite from his khutbah is when ustadz Nouman invites people to exercise pondering over Alloh’s ayat through everyday objects, including our bodies. Gazing at the stars, bird, sky, moon and sun now becomes fun experiment to replace my addiction to smartphone.

Above all else, I really admire his invitation to us coming back to the Qur’an. I got very used to the Qur’an that I didn’t think of benefiting myself from the book. I thought the book was just for knowledge. But the ustadz always reminds us to make efforts connecting to the book. By heart, not by mind.

This year, I got another terrible experience, again about love. Alhamdulillah that I survived from the heartbreak solely because of His love, forgiveness and caring. After the test, alhamdulillah Alloh swt allowed me joining #IDW2019 and #StoryNightWhisper with the ustadz.

Hang around for a bit for more details about the events. I closed the post by thanking each and every one of you who read the post. May Alloh swt grant us higher Jannah, amiin ya robbal’alamiin..

 

 

Mengapa Alloh swt Terkadang Bersumpah dalam Alqur’an?

Tak jarang kita jumpai Alloh swt bersumpah melalui sesuatu. Ambil contoh surat Al’Asr. Dalam surat ini, Dia bersumpah demi waktu atau masa. Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa sumpah secara umum mempunyai fungsi, yakni untuk mengekspresikan kemarahan, meyakinkan seseorang atau bersaksi di pengadilan. Dalam masyarakat Arab kuno, bersumpah berfungsi untuk memperoleh perhatian khalayak dan memberikan bukti.

Terkait dalam surat Al’Asr, beliau menjelaskan bahwa Alloh swt menjadikan waktu sebagai bukti kerugian umat manusia. Kita bisa menjaga uang kita tetapi tidak akan bisa menggenggam waktu yang terus bergulir.

Sembilan Tema dalam Struktur Surat Albaqarah

Hal semacam ini yang paling saya suka setiap kali mendengarkan ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Beliau sering berbagi ilmu yang tidak terdeteksi oleh muslim minim ilmu seperti saya.

Sebagai contoh, beliau berbagi struktur surat Albaqarah saat #IDW2019. Saya ikut tertarik tentang struktur suatu surat setelah mendengarkan penuh surat Maryam yang beliau bagi melalui akun Facebook-nya.

Selama ini setiap membaca Alqur’an rasanya hanya sebatas wejangan, larangan atau kalimat motivasi saja. Ternyata dalam ceramahnya tentang surat Maryam, saya jadi paham sedikit bahwa surat tersebut mempunyai organisasi pemikiran yang mengagumkan.

Begitu halnya, dengan surat Albaqarah. Surat terpanjang dalam Alqur’an ini oleh pak Nouman terbagi ke dalam sembilan aspek:

  1. Orang beriman, orang yang tidak beriman dan orang munafik
  2. Kisah nabi Adam as, manusia terpilih
  3. Kisah Bani Israil, bangsa terpilih
  4. Kisah nabi Ibrahim
  5. Ka’bah
  6. Bagaimana orang muslim menghadapi cobaan
  7. Hukum dalam Islam, seperti puasa, perceraian
  8. Ketamakan
  9. Sholat

Dari poin pertama hingga terakhir kesemuanya saling berkaitan dimana pusat dari surat ini ada pada bagian Ka’bah. Urutannya seperti ini: Nabi Adam as dan Bani Israil mewakili perjuangan muslim menghadapi cobaan semasa hidup mereka.

Dalam kasus nabi Adam as, beliau gagal melawan bujuk rayu setan akan tetapi berhasil menebus kesalahannya hingga akhirnya kembali menghuni surga. Nasib berbeda dialami oleh Bani Israil yang gagal menebus kesalahannya.

Setelah bisa mengalahkan bisikan setan, nabi Adam as merintis Ka’bah yang dilanjutkan oleh nabi Ibrahim as. Setelah umat muslim selesai bertarung melawan cobaan, ia dihadapkan dengan hukum halal dan haram. Satu penyakit yang ditekanan di sini adalah kerakusan umat muslim.

Mengapa Alloh swt Terkadang Menyebut Dirinya “We” dan “He”?

Saya pernah berpikir Alloh swt berjenis kelamin laki-laki sebagaimana melihat terjemahan Alqur’an yang terkadang menuliskan sebagai “He”. Ternyata ada orang yang bukan penutur bahasa Arab sependapat dengan saya.

Dalam #IDW2019, ustadz Nouman Ali Khan menyebutkan bahwa “He” dalam bahasa Arab mempunyai arti lain yakni tidak bergender selain merujuk pada jenis kelamin laki-laki. Pak Nouman menjelaskan oleh sebab itulah kebingungan apakah Alloh swt berjenis kelamin laki-laki atau tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bukan penutur bahasa Arab.

Selain itu, terkadang dalam terjemahan bahasa Inggris, Alloh swt disebut sebagai “We”. Apa itu artinya Alloh swt lebih dari satu? Atas pertanyaan ini, ustadz Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata “We” lazim digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan otoritasnya. Biasanya kata “We” dipakai dalam kalimat formal dan meski yang mengucapkannya satu saja. Dengan demikian, kata “We” tidak ada hubungannya dengan jumlah Alloh swt yang lebih dari satu melainkan lebih merujuk pada sifat unik-Nya yang Maha Kuasa.

Belajar Bareng Ustadz Nouman Ali Khan yang Sulit Tapi Bikin Ketagihan

Kamis, 21 November 2019

Pukul 20.00 WIB

Suhu pendingin ruangan di ruang Nusa Dua Theatre, Balai Kartini, Jakarta Selatan, mulai menusuk tulang. Kaki dan tangan saya mulai membeku. Hati kecil ingin segera meninggalkan ruangan ini mumpung tempat duduk saya di bagian atas, hanya beberapa meter dari pintu keluar yang kebetulan terbuka.

Kepala saya saat itu turut pusing. Tidak tahu akhwat di sekeliling saya bagaimana bisa dengan cepat menghafalkan kata-kata muslimun, muslimaan, muslimatin dan sebagainya. Sebelum mengikuti sesi hari ini saya telah membaca catatan yang dikirimkan oleh pihak Bayyinah. Saya pikir itu cukup sebagai bekal mengganti materi di hari pertama yang tidak saya ikuti karena harus bekerja.

Ternyata, walau sudah membaca catatan tersebut pun, saya masih plonga-plongo seperti anak kerbau. Berulang kali saya ingin cepat-cepat angkat kaki dari ruangan itu tetapi niat tersebut urung terlaksana sebab pak ustadz mengeluarkan jurus andalannya yang selama ini selalu saya nantikan di tiap ceramahnya.

Seolah gayung bersambut. Pada hari pertama tersebut, cerita sisipan yang lucu pak Nouman paling banyak jika dibandingkan pada sesi Jumat dan Minggu. Beliau mengambil analogi deskripsi tentang broken plural dalam bahasa Arab dengan pengalamannya menjadi murid profesor Wang yang mengeluhkan bahasa Inggris beliau sedangkan pada saat yang bersamaan sang profesor mengeluhkan broken plural bahasa Inggris.

Ketegangan yang awal menyusup otak saya perlahan mulai santai. Sepertinya pak Nouman mempunyai alasan mengapa harus memasukkan cerita yang beberapa agak ngalor ngidul demi menurunkan level kebingungan di otak saya ini. Alhamdulillah, sesi belajar pertama bisa saya lalui tanpa meninggalkan ruangan lebih awal. Buat saya ini menjadi prestasi tersendiri.

Jumat, 22 November 2019

Agar tidak sok tahu seperti hari Kamis, saya menghabiskan Jumat pagi sampai sore dengan menghafal kata-kata dalam kertas kecil yang dibagikan relawan pada bagian registrasi. Ditambah pula saya menghafalkan pronoun. Malu bila kepala kosong seperti hari Kamis. Karena saya sudah bisa menebak gaya pengajaran dari ustadz Nouman, kali ini saya lebih santai dan tenang.

Hanya saja, cara bicara pak ustadz yang memang terkenal cepat membuat otak saya bekerja cukup keras. Peralihan dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab terasa melelahkan sehingga keluar dari ruangan kepala terasa pusing.

Minggu, 23 November 2019

Untuk hari ini, sesi dibuka mulai dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore dengan jeda makan siang selama satu jam. Setelah membahas tentang kata, beliau mulai membedah soal fragmen. Walau hingga sekarang pun, saya masih berjuang menghafal rumus linguistik bahasa Arab, saya sangat terbantu dengan metode pengajaran beliau.

Bisa dimulai dari catatan lengkap yang pertama kali dikirimkan melalui surat elektronik masing-masing peserta dimana di situ tergambar bagaimana upaya beliau menyederhanakan tata bahasa Arab menjadi sangat sistematis dan singkat. Beliau membuat alasan-alasan aturan tata bahasa Arab dengan bahasa yang populer. Seperti “ya karena orang Arab bilang begitu” atau “tidak bisa berhubungan jarak jauh alias no long distance relationship” untuk mengacu pada kata-kata harus berdekatan.

Mungkin hingga akhir #IDW2019 pun, saya belum bisa menghafalkan semua rumus dan kata-kata dalam ilmu nahw. Namun sulitnya belajar linguistik ini membuat otak saya kenyang. Seperti ada teriakan, “aku mau lagi dan lagi. Ayo kasih makan aku terus seperti ini.”

Saya jadi ingat dulu saat belajar Pragmatik dan Linguistik bahasa Inggris saat kuliah betapa saya dan teman-teman takjub dengan diagram pohon linguistik bahasa asing itu. Kami kagum ternyata bahasa Inggris bisa seperti matematika. Hal ini berlaku juga untuk bahasa Arab yang harus saya akui lebih kompleks dari bahasa Inggris.

Sayangnya, untuk saat ini saya belum akan menseriusi linguistik bahasa Arab lantaran otak yang sudah penuh dengan urusan pekerjaan dan pribadi. Yang pasti, baru tiga hari belajar bersama pak Nouman saja saya sudah bisa melihat Alqur’an sebagai bahan eksperimen selanjutnya yang nggak akan pernah habis buat digali. Maaf jika bahasa saya kurang sopan. Berhubung saya orang yang penasaran, sungguh ajaib kali ini rasa penasaran saya jatuh kepada Alqur’an sebab selama ini rasa penasaran saya didominasi oleh ilmu sastra, media dan sejarah. Apakah saya sudah hijrah? Entahlah.. sebab buat saya tidak ada ilmu yang sia-sia meski ada yang mengecapnya sebagai ilmu duniawi sekali pun.

Berbisnis Waktu Luang

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Saya paling “tersengat” oleh hadis dari Rosululloh Muhammad saw di atas. Saya sering merasa bersalah jika saya tidak melakukan hal berarti setiap kali ada waktu luang. Seperti harus ada kewajiban melakukan sesuatu yang menghasilkan. Entah sejumlah uang tertentu, tulisan di blog ini atau membaca halaman. Segalanya harus terukur, ada angka atau jumlah.

Saya tidak sadar saya telah mengikuti arus utama di masyarakat zaman sekarang yang mengaitkan prestasi dengan kuantitas. Pergi ke suatu tempat, meraih sekian jumlah followers atau meraup angka penjualan tertentu. Slogan waktu adalah uang itu sungguh seperti racun yang menggurita.

Setiap kali saya mudik, rasanya aneh melihat bapak dan ibu saya yang terkadang duduk santai di teras rumah. Mereka tidak melakukan apa pun. Memandang ke jalan sambil mengamati kendaraan yang lewat. Aneh bagi saya yang seorang makhluk serba sok sibuk. Tapi hal yang wajar bagi orang tua saya yang menghabiskan banyak waktu tanpa teknologi.

Saya pernah mendengar ada nasehat yang mewanti-wanti agar manusia jangan terbiasa melamun sebab di situlah setan bisa masuk. Mungkin karena itulah banyak yang memilih membuat otak terbanjiri oleh banyak hal. Agar nggak nganggur, singkat katanya demikian. Apalagi dengan ponsel super pintar di tangan, rasanya aneh melihat ada orang yang di kendaraan umum tidak memegang ponsel pintar atau tidur. Hampir di semua kendaraan umum, mayoritas orang melihat ponsel pintar mereka.

Sadar nggak sih kita bahwa waktu luang yang kita miliki kini menjadi bisnis yang menggiurkan saat ini? Para pengembang ponsel pintar setiap tahun senantiasa memperbaiki dan atau menambah fitur baru di seri ponsel pintar buatan mereka. Tujuannya biar kita sebagai konsumen senantiasa terhibur, tergantung hiburan yang kita suka.

Salah satu yang paling digemari adalah bermain game. Kini semakin banyak ponsel pintar yang memuat aplikasi mobile game dengan RAM semakin mumpuni dan harga kian terjangkau. Indonesia merupakan salah satu pasar empuk di Asia Pasifik. Menurut Newzoo, nilai industri game nasional mencapai US$882 juta pada 2017. Apalagi saat ini, semakin banyak kompetisi esport dengan hadiah fantastis. Mungkin tinggal menunggu waktu Olimpiade fisik yang selama ini kita kenal akan tergantikan pamornya oleh Olimpiade esport yang diselenggarakan juga empat tahun sekali.

Sementara mengikuti perkembangan zaman itu hal tak terbantahkan, ada baiknya kita mengamati dampak buruk bermain game atau media sosial terlalu lama. Sebagai informasi saja, sejak 2016, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Cisarua, Jawa Barat, telah menangani 209 pasien yang kecanduan bermain ponsel pintar, seperti bermain video game, browsing internet dan aplikasi lainnya. Mereka berusia 5 hingga 15 tahun, ada yang menjalani rawat jalan hingga rawat inap.

Memanfaatkan waktu luang memang menarik buat dikaji. Dari masa ke masa, ada jenis hiburan yang dilakukan orang zaman lampau yang buat saya sukar dinalar. Sebagai contoh, kaum Romawi kuno doyan menikmati aksi gladiator menaklukkan gladiator lainnya, binatang buas hingga kriminal, meski harus bertaruh nyawa. Aksi gladiator ini berlangsung hampir seribu tahun hingga mencapai puncaknya antara abad ke-1 dan 2 SM.

Lain halnya dengan warga Inggris zaman Victoria alias yang hidup di abad ke-18. Hingga akhir abad tersebut, undang-undang setempat mengizinkan eksekusi tahanan di depan publik. Momen eksekusi mati, seperti digantung, menjadi hiburan bagi si kaya dan si miskin. Sebagaimana diambil dari capitalpunishmentuk.org, ada yang rela membayar mahal lokasi tertentu biar bisa menyaksikan momen eksekusi mati secara paripurna.

Bagi manusia modern seperti kita, hiburan semakin terasa privat dan beraneka rupa. Menghabiskan banyak waktu di depan layar ponsel pintar memang tidak membuat kita menyaksikan banjir darah seperti tarung antar gladiator atau tidak bisa tidur gara-gara bergulat dengan sensasi eksekusi mati yang baru saja disaksikan.

Tetapi banyak yang hidup sangat bergantung dengan ponsel pintar. Sampai-sampai bisa panik luar biasa apabila daya ponsel pintar habis lalu tidak membawa bank daya atau menemukan colokan.

Bagi yang belum terbiasa, akan terasa membingungkan, misalnya, berada di kendaraan umum selama satu jam, tanpa membuka ponsel pintar atau berbincang dengan sesama penumpang. Pikiran bisa tak menentu arah, membawa ke masa lalu yang menyedihkan atau mencemaskan masa depan.

Dalam situasi ini, biasanya saya memanfaatkan momen semacam itu untuk berbicara dengan diri sendiri atau melihat pola pikir saya. Apakah pikiran saya hanya memunculkan hal buruk tentang saya atau sebaliknya. Jika pikiran mulai mengarah ke hal yang mayoritas negatif atau pesimis, saya mulai berdzikir.

Saya pernah membaca berdzikir itu membuat konsentrasi kembali ke saat ini alias khusyuk. Ternyata belakangan saya menemukan fakta bahwa berdzikir bisa mengalihkan pikiran hingga emosi dari negatif menjadi positif. Biar nggak bosen, saya beralih dari berzikir ke bersyukur. Saya menyebut segala kebaikan dari Alloh swt hari itu. Mulai dari nikmat sehat, bisa makan makanan halal, meminum air tanpa kendala hingga bisa bekerja dengan maksimal.

Buat saya, bersyukur seperti itu malah membuat saya ngobrol dengan Alloh swt. Pikiran pun tak lagi kosong. Sekarang aktivitas tersebut perlahan membuat waktu di depan layar ponsel pintar mulai berkurang. Sebelumnya, saya mulai kecanduan ponsel pintar yang membuat saya gampang cemas. Ternyata latihan sederhana tersebut memberi dampak positif yang signifikan.

Jadi, jika teman mulai merasa tidak nyaman tanpa ponsel pintar, coba matikan lalu alihkan ke ngobrol sama Alloh swt dengan mendaftar nikmat dari-Nya hingga saat ini. Percaya deh. Waktu menunggu macet atau di kendaraan umum satu jam tidak akan terasa karena siapa sih yang bisa menghitung kebaikan dari Alloh swt secara tuntas?