Yang Tidak Bisa Ditawar dari Ragam Pilihan Pendidikan bagi Anak

Puluhan orang tua calon murid SMP di Purworejo memadati salah satu SMP negeri di kabupaten tersebut. Pendaftaran calon siswa baru dilayani pada Senin (17/6/2019) akan tetapi orang tua tersebut memilih menginap pada malam harinya. Mereka berharap bisa memperoleh nomor antrian terdepan sebagai salah satu cara agar anak mereka memperoleh satu kursi di sekolah tersebut.

Nun jauh di Depok, Jawa Barat, ratusan orang tua calon siswa SMP di salah satu SMP di Depok berdesak-desakan menanti proses penerimaan siswa baru di sekolah tersebut. Kepada Kompas TV, salah seorang bapak mengaku dirinya sudah datang sejak jam 3 pagi!

Kesan pertama saat menyaksikan dua peristiwa dalam satu tayangan tersebut adalah miris. Pada zaman serba canggih seperti sekarang rasanya sungguh trenyuh proses pendaftaran masih sangat konvensional. Apabila tidak bisa menerapkan proses pengunggahan dokumen secara online setidaknya pihak sekolah memberlakukan antrian online, lengkap dengan perkiraan jam orang tua dan calon murid bisa datang ke sekolah tersebut. Tak lupa pula pihak sekolah sebaiknya memberitahu kuota calon murid yang akan mereka terima untuk tahun ajaran bersangkutan.

Sementara dua sekolah tersebut memperlihatkan potret pendidikan yang kurang sistematis di tempat tersebut, lain halnya dengan pengalaman saya selama libur Lebaran yang baru saja usai. Seperti biasa, setiap kali saya mudik, entah Lebaran atau tanggal lainnya, saya terbiasa menanyakan kabar sekolah ke anak dari adik ayah saya, anak tetangga hingga anak sepupu saya.

Rumah saya memang dikelilingi oleh banyak anak kecil, mulai dari usia balita hingga SMP. Tahun ini saya memperoleh pengetahuan lain dari teman saya yang anak mereka sudah memasuki usia SMP. Ada juga teman saya yang menjadi guru di sebuah SMK. Cukup kaget dari semua informasi yang saya dapatkan ada fenomena lain yang kini terjadi di daerah kami, Kabupaten Karanganyar, kota tenteram di Jawa Tengah.

Ternyata, sudah menjadi tren beberapa tahun terakhir bahwa banyak anak di kalangan orang tua mampu di sini yang memilih sekolah swasta Islam. Sekolah ini menerima anak didik dari jenjang SD. Tak hanya menyediakan kurikulum berbasis Islam, sekolah ini turut memberikan pembelajaran kemandirian, bahkan menyediakan makanan dan minuman.

Walau dibanderol harga yang mahal, sekolah ini laris di kalangan berduit. Dua teman saya bahkan mengaku akan menyekolahkan anak mereka, yang sama-sama mengenyam pendidikan di sini, ke jenjang pondok pesantren untuk SMP mereka nantinya.

Cerita lainnya saya dapatkan dari teman saya yang bekerja sebagai seorang guru SMK. Ibu saya membagikan hal yang kurang lebih sama. Rupanya sudah memasuki tahun ke-3 pihak pemerintah memberlakukan sistem zonasi. Inti dari sistem ini adalah membatasi suatu sekolah hanya menerima murid baru dari lingkungan terdekat. Tujuan awalnya sangat mulia, yakni meniadakan label sekolah favorit serta membuat sekolah tidak kekurangan murid.

Ragam pendapat pun bermunculan. Ada yang menganggap kebijakan tersebut justru membuang sia-sia bibit pintar di luar sekolah favorit hanya karena tidak termasuk ke dalam zona sekolah favorit tersebut. Di lain pihak, ada yang menyebut kebijakan tersebut membuat guru di sekolah favorit bekerja ekstra keras sebab tidak semua bibit murid yang masuk termasuk kategori unggul. Teman saya mengatakan bahwa persaingan tak terbantahkan dalam dunia pendidikan.

Saya tidak hendak mengomentari mana yang benar dan salah dari semua penggalan peristiwa, fenomena dan pendapat yang saya rangkum dari beberapa narasumber di atas. Tak adil untuk memaksakan perbandingan pendidikan zaman sekarang dengan kondisi saya dulu dimana belum ada internet dengan labelisasi sekolah favorit begitu menggema di kalangan orang tua dan calon murid SMP dan SMU waktu itu.

Belum lagi saya menyadari saya belum menjadi orang tua seperti teman-teman saya. Tidak pas rasanya menghakimi pilihan teman-teman saya tersebut tanpa menempatkan diri di posisi mereka. Di sini saya ingin mengomentari saja apa yang saya lihat di media, baik media sosial atau pun internet secara umum. Lalu saya akan mencoba menarik benang merah serta membandingkan pendidikan di bangku sekolah dengan kenyataan yang ada.

Saya cukup terkesima dengan pesatnya teknologi yang mendukung di dunia pendidikan. Kids zaman now begitu dimanjakan dengan teknologi yang membuat mereka bisa belajar dimana pun dan kapan pun. Berbekal pulsa saja mereka sudah bisa menikmati konten pendidikan dalam visual yang interaktif melalui situs seperti Quipper atau Ruang Guru. Bayangkan dengan zaman saya yang mengandalkan les offline saja. Bayar lumayan mahal plus jarak jauh ke tempat les. Pffh!

Itu dari segi murid. Segmen orang tua saya menyaksikan fenomena yang lumayan membuat miris. Ada setali tiga uang dari maraknya seminar tentang pendidikan bagi anak usia dini dan pengetahuan orang tua. Di satu sisi, saya mengapresiasi banyaknya cara bagi para orang tua memperbaharui informasi dan “mencuri” ide merawat anak dengan baik. Di lain pihak, mengutip kata-kata teman saya, seminar tersebut menandakan masih banyak orang tua di luar sana yang berharap merawat dan mendidik anak bisa secara instan.

Inilah yang saya rasa cukup mempengaruhi mengapa banyak orang tua modern yang seperti kelabakan ketika memutuskan pilihan pendidikan bagi anak mereka. Salut bagi mereka yang telah mempersiapkan anggaran sedari anak masih bayi. Bagi mereka pendidikan menjadi prioritas terpenting sehingga menabung bagi anak sudah menjadi hukum wajib.

Ada yang mengikuti tradisi pendidikan, seperti yang ditempuh oleh adik dari ayah saya. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka ke SD yang sama dengan SD yang mereka puluhan tahun sebelumnya. Lalu, manakah yang lebih baik? Adakah yang salah dengan pilihan mereka?

Jawabannya tidak ada. Semua pilihan mempunyai sisi positif dan negatif masing-masing. Yang tetap tidak bisa ditawar adalah keterlibatan orang tua dari setiap tahap pendidikan anak mereka, mulai dari jenjang TK hingga universitas. Tidak perlu setiap ayah dan ibu mempunyai kapasitas akademis setara dengan jenjang pendidikan anak. Katakankanlah, ayah atau ibu harus menguasai geometris, matematika atau geografi untuk anak mereka yang ada di bangku SMP atau SMA.

Pada tiap level pendidikan, peran orang tua akan berubah. Saat TK atau SD, orang tua bisa mendampingi anak dalam belajar, mengajari mereka membaca, menulis, dasar berhitung atau membaca Alqur’an. Saat SD menuju SMP atau pada bangku SMP, orang tua lebih berperan sebagai motivator belajar, pendamping, pencari guru les tambahan jika perlu. Jangan lupa untuk konsisten menanyakan perkembangan belajar anak setiap hari. Untuk level SMA, SMK hingga perguruan tinggi, orang tua lebih banyak berperan sebagai teman bercerita dan motivator. Kebiasaan menanyakan kondisi sekolah dan kuliah hendaknya tidak boleh berhenti.

Dari saran tersebut, kunci besar terletak pada kata mendampingi dengan resep utamanya berupa waktu. Pada zaman modern seperti sekarang dengan banyak tuntutan ekonomi, rasanya waktu sangat berharga harganya. Ayah dan ibu sama-sama bekerja mencari nafkah, tidak bisa lagi seperti zaman dahulu dimana ibu bisa tinggal di rumah. Itulah sebabnya tugas menjadi orang tua zaman sekarang terasa lebih berat. Harga barang yang tinggi, naiknya biaya hidup tak pelak menjadi alasan penting banyak orang tua yang sama-sama bekerja sehingga menyerahkan pendidikan ke tangan pihak luar, mulai dari guru di sekolah hingga guru les.

Akan terlalu menggampangkan jika saya menyarankan agar salah satu, entah ibu atau ayah, lebih baik tidak bekerja saja. Kondisi ekonomi setiap rumah tangga yang berbeda-beda menjadi faktor yang membuat saya tidak bisa menyamaratakan antara rumah tangga si A dengan rumah tangga si B.

Beberapa cara yang bisa ditempuh di sini mencakup diskusi panjang lebar dengan pasangan sebelum menikah tentang bagaimana cara membesarkan anak nanti. Jika memang perlu, blak-blakan tentang kondisi keuangan masing-masing, termasuk kemungkinan salah satu akan mengalah dengan tidak bekerja.

Jika menemui kendala biaya sekolah yang tinggi, mungkin pasangan bisa memilih sekolah dengan biaya lebih terjangkau. Toh, kendali pendidikan anak, terutama saat usia dini, lebih ada di tangan orang tua. Menurut saya, tidak ada motivasi terbaik dan pendampingan terbaik melainkan dari orang tua itu sendiri. Ini adalah aspek yang tidak akan bisa diganti oleh uang berapa pun.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan pesan bahwa waktu itu begitu penting. Oleh karena itu, pergunakan waktu sebaik mungkin dengan mengurus, merawat dan mendidik anak dengan sepenuh hati. Sadarilah bahwa titipan Tuhan tersebut tidak bisa digantikan oleh guru, asisten rumah tangga bahkan orang tua kita sendiri. Menyadari ini semua sedari belum menikah akan lebih baik lagi.

 

Advertisements

Human Minds’ 1001 Battles: Lessons Learned from “The Red Badge of Courage”

The Red Badge of Courage (1895) is unlike many popular, high literature novels that I have read thus far. Full of symbol marks one significant attribute for this masterpiece written by Stephen Crane. That leads to the title of the novel itself that chooses red to symbolize bravery, one particular message that the author wishes to highlight.

I found it very hard to comprehend the novel back at early semester during university years in Yogyakarta. Our lecturer selected this story as reading material which quite shocked me as a pupil who didn’t get accustomed to reading heavy content as found in the book. Shortly put, I was completing reading the novel with one profound impression that has filled my mind until today.

The whole story presented me on internal struggle within the heart of the protagonist namely Henry Fleming, a young private of the Union Army who fled from the field of battle. The novel takes American Civil War as the background. Throughout the book, I was invited to witness Henry’s psychological change from cowardice to hero as the novel concluded.

Despite the fact I don’t really like this book, the main message and the protagonist impress me so much. Henry’s experiences resonate, I believe, struggles all human beings as long as they live. Not each of us fights in real war like Henry did. Inner war is so commonplace in each of our heart’s minds and hearts, whether or not we realize it.

Every day we make choices, some are essential ones. From what we are going to eat for lunch to deciding which next holiday destination, we are living our lives based upon choices. I call those instances as easy ones. There are far more difficult selections that we have to decide. As we grow older, we experience many events that leave us scars, unforgettable moments or heartbreaks.

Within split of seconds, all of sudden they come in and out when we take breaks after hectic days at work or in one of the delightful afternoons you always long for. This may cause some hesitate to simply contemplate with no particular thoughts in their minds. When go unnoticed, our minds can be dangerous. Like it or not, it’s a hard fact to accept most of can’t fully just.

Most of us (or all of us) find it hard to put everything at balance. We can get stuck in old memories most of the times. Past moments, good or bad, can drag our feet from moving on. Some can get too absorbed in the moment and forget what their future days will look like. Therefore, they spend too much money for short-time pleasant luxury or say hateful words to others upon trivial matters. They forget each of them may disadvantage them in the near term. On the other hand, some of us think too much about the future that they may neglect the future depends so much on their past and the present time.

As past, present and future can’t live without one another, our minds battle everyday to make choices. Good news is that we can train our minds to come out as a hero. We can be like Henry Fleming in our internal conflicts.

Whether or not you are religious, admitting that you need God for taking care of your minds is an efficient starter. That leads you to understand you don’t have to conquer the battle when all thoughts come rushing through your mind at the same time. That helps you to shift focus not to always win all of the battles when you can’t find peace.

As your relationship with God strengthens, you will easily find tranquility even when messy thoughts attack your mind. At least, you know how to get relaxed or take some seconds of rest. Don’t force yourself to make decisions when your minds aren’t at ease.

As you get used to that, you will come to the point where not all thoughts are worthy of following-up. You will get trained to filter thoughts that must be taken care of for the rest of your life. Sometimes you need to shake them off, as I quoted Taylor Swift’s hit song.

Doing those steps require long process and we may stumble upon them on a daily basis. That leads us back again to God’s help along the way. After our hard struggles within ourselves, we come to believe that what matters most in our life is very simple and concrete. Blurry, unnecessary thoughts, people’ harsh comments will no longer that much influential in our lives anymore. We will reach the point where we need to put forward our future in this world and the hereafter without forgetting what lessons the past teaches us and neglecting our current feelings.

That completely becomes our minute-to-minute or even second-to-second problem even for some of us. We have to start practicing prioritizing things that matter so much in our lives then stick to that. Get used to act like a spectator as you watch your mind battles; between negativity and positivism, complaint versus gratitude, past versus future and many more.

Take a seat, put your glasses on and eat popcorn. Enjoy how your mind wrestles then come out from the arena as a winner by returning to things or people that bring high importance in your life.

 

 

Tujuh Jebakan di Balik Label Hijrah yang Patut Diketahui

Aku pernah secara tidak sengaja melakoni hijrah hingga tiga kali. Pertama terjadi pada November 2011 saat menggunakan jilbab untuk kali pertama. Kedua terjadi pada 2014/2015 sedangkan yang ketiga aku alami mulai Oktober 2017. Setiap proses hijrah memberikan pelajaran berbeda-beda dengan hijrah tahap ke-2 yang paling memberikanku banyak pukulan sekaligus pelajaran tak terlupakan.

Aku bilang tidak sengaja sebab dari setiap proses tersebut aku bahkan nggak pernah berniat untuk hijrah. Sedari dulu aku hanya tahu kisah hijrah Rosululloh Muhammad saw. Baru belakangan aku mengetahui istilah hijrah dapat berlaku untuk level pribadi, yang pada intinya proses menjadi seorang hamba yang lebih baik.

Di balik proses hijrah yang bertujuan mulia tersebut, aku merasakan ternyata ada “efek samping” berbahaya yang malah membuatku stres berat. Bahkan pernah ada momen dimana aku merasa sangat takut kepada Alloh swt, merasa Dia sebagai monster yang sangat menakutkan. Aku merasa sholat dan kewajiban lainnya terasa sangat memberatkan. Bagaimana aku bisa merasakan dampak tersebut? Klimaks semuanya terjadi dalam beberapa tahapan selama berbulan-bulan yang seperti aku rasakan di bawah ini:

1. Mengejar Kesempurnaan Ritual

Tentu saja memperbaiki sholat menjadi pintu awal yang tepat bagi siapa pun yang ingin hijrah. Lewat shalat hubungan seorang hamba dengan Alloh swt senantiasa terjaga. Kesalahanku waktu itu terjadi saat aku hanya fokus pada aspek teknisnya saja. Sebagai contoh, aku pernah mengulang sholat karena pikiran kemana-mana. Aku juga pernah mengulang wudhu karena tidak yakin semua sudah terbasuh sesuai petunjuk dari Rosululloh saw. Belum lagi was-was apakah aku buang angin atau tidak. Lucunya, rasa was-was ini terjadi saat wudhu atau sholat saja.

Lalu aku mencari rujukan tentang persoalan di atas. Parahnya, meski sudah tahu bahwa hal-hal di atas tidak membatalkan sholat atau wudhu aku memilih mengikuti rasa ketakutanku. Di sinilah, kesenjangan antara aku dan Alloh swt bermula. Aku tidak memberi ruang dan kesempatan pada diriku sendiri untuk mengenal Alloh swt sebagai Maha Pemaaf. Bahwa Dia pasti sudah tahu sholat aku akan sangat susah untuk sempurna. Bahwa wudhuku pasti akan kekurangan ini dan itu. Aku lebih fokus mengejar kesempurnaan ritual tapi melupakan tujuan paling utama dari seluruh ritual tersebut, yakni mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan hati yang ikhlas dengan segala ketidaksempurnaan yang aku miliki.

2. Terlalu Meributkan Halal dan Haram serta Najis

Ada momen dimana aku begitu fokus pada halal dan haram hingga mencari informasi tentang produk halal dan haram dari situs luar negeri selain BPOM dan MUI. Di satu sisi hal tersebut membuatku sadar akan produk krim wajah yang ternyata mengandung zat berbahan dasar babi tetapi aku terlalu fokus tentang hal ini. Hasilnya banyak waktu terbuang sia-sia mencari tahu tentang hal ini hingga untuk produk yang belum berlabel halal, aku langsung meninggalkannya karena condong menganggapnya haram.

Aku hanya mendasarkan pada rujukan artikel yang ada di internet. Aku melupakan sifat Alloh swt yang Maha Tahu dimana Dia yang tahu pasti apakah yang meragukan atau abu-abu itu betul-betul haram atau halal. Aku tidak mengimplementasikan sifat-Nya yang Maha Pemaaf yang akan memaafkan ketidaktahuanku jika ternyata aku kurang sepenuhnya membersihkan najis usai buang air kecil atau besar meski merasa sudah membasuh bagian tubuh yang dimaksud.

3. Sibuk Menghitung dan Mengejar Pahala Saja

Masih inget nggak lagu dari Ahmad Dhani dan almarhum Chrisye, yang liriknya berikut ini: “Jika surga dan neraka tidak pernah ada, masihkah kita akan menyembah-Nya?”

Poin ke-3 ini pas banget dengan penggalan lagu di atas sekaligus terkait dengan butir pertama artikel ini.

Sebab sibuk mengejar kesempurnaan ritual, aku tak sadar menjadi rakus pahala saja. Ibadah lama kelamaan berasa “di permukaan”, nggak sampai ke dalam jiwa dalam artian memperkuat hubunganku dengan Alloh swt. Aku benar-benar menjadi hamba yang transaksional. Nouman Ali Khan pernah membahas tentang manusia yang Alloh swt ibaratkan sebagai makhluk untung dan rugi dalam videonya “A Loan to Alloh”. Ceramah beliau cukup menggambarkan kondisiku saat itu.

Puncaknya aku pernah nggak percaya bahwa seorang hamba baru bisa masuk surga jika Alloh swt mengampuni kesalahannya. Dengan kata lain, seseorang masuk surga bukan karena amal ibadahnya melainkan ampunan dari Alloh swt. Aku pernah sombong dengan merasa amal ibadahku cukup menjadi tiket ke surga nantinya. Alhamdulillah, sekarang tersadar berapa pun amal ibadahku nggak akan pernah bisa membalas kebaikan Alloh swt selama ini untukku. Bahkan aku bisa beribadah dan beramal baik itu atas izin-Nya.

Terkait pertanyaan bernada retoris di atas aku kini mempunyai jawabannya setelah sekian tahun aku tidak tahu apa jawabannya. Apakah aku akan menyembah Alloh swt jika surga dan neraka nggak pernah ada? Jawabanku: sudah pasti karena aku berterima kasih atas segala yang Dia beri, termasuk yang bikin pahit dan sedih sekalipun.

4. Mempelajari Alqur’an Seperti Buku Buatan Manusia

Tanpa bermaksud mengesampingkan tujuan saat Ramadan tiba yakni khatam Alqur’an, aku menyarankan untuk nggak hanya mengejar berapa kali khatam Alqur’an dalam bulan tersebut saja. Aku pernah khatam termasuk membaca artinya dengan perlahan. Tetapi aku merasa Alqur’an tak ubahnya seperti buku biasa. Tak jarang membaca Alqur’an dengan kalimat-kalimat begini di dalam hati: “Ah isinya begitu saja. Tentang sholat, surga, neraka, takwa, tawakal dan lainnya”.

Aku nggak merasa Alqur’an sebagai kitab dari Alloh swt yang bisa menyembuhkan hati yang terluka, penenang jiwa dan pengajak kembali ke jalan yang lurus. Yang aku baca hanya sekadar pengingat mati dan aspek ritual yang semuanya sudah aku ketahui. Alhamdulillah, sejak hijrah tahap ke-3, Alloh swt memberikanku rezeki sehingga bisa benar-benar merasakan Alqur’an memang pembawa kabar gembira bagi mereka yang beriman dengan terhubung secara emosional dengan kitab ini. Untuk poin ke-4 ini aku sangat berterima kasih pada ustad Nouman Ali Khan.

5. Banyak Membaca, Hampa di Hati

Masih ingat dulu di kantor yang lama aku sampai membuat daftar apa saja dalam sehari yang sudah aku baca. Mulai dari ritual hingga apakah Yesus itu nabi Isa as atau bukan. Debat muslim dan Nasrani pernah aku lahap. Referensi bacaan dari dalam dan luar negeri. Sebelum puasa aku menyempatkan diri membaca panduan puasa dan ibadah sunah seputar puasa dan bulan Ramadan.

Adakah yang salah dengan hal tersebut? Tentu saja tidak. Sebagai seorang muslim, menuntut ilmu adalah hal yang wajib. Hanya caraku salah besar. Karena aku mulai menggali informasi dari blog atau situs yang ditulis oleh manusia. Aku nggak terpikir memulai dari Alqur’an dan sunah Rosullulloh saw. Tak heran meski melahap banyak berita, hati terasa hampa. Kembali Islam terasa “hanya permukaan”. Aku nggak tahu bagaimana menjadi muslim membuatku bisa keluar atau setidaknya menangani masalahku dengan lebih bijak.

6. Merasa Diri Lebih Baik dari yang Lain

Akibat proses melahap ilmu dengan awal yang nggak pas akhirnya aku malah tumbuh menjadi muslim yang sombong dan egois. Otakku yang kadung terkotak hitam dan putih dan mengandalkan nalarku yang dangkal menjadikan Alloh swt sebagai Yang Maha Mengetahui tak punya tempat di hidupku.

Aku cepat menghakimi orang baik dan buruk dari ritual mereka semata. Memang tidak pernah terucap melalui tulisan atau perkataan langsung tetapi dalam hati sikap tersebut sangat menggelora. Bermula dari situ, aku mudah marah jika membaca berita yang menyudutkan Islam. Aku juga sulit menerima pendapat orang lain yang kritis tentang Islam atau muslim.

7. Hanya Menyandarkan Ilmu pada Ustad Idola

Saat hijrah ke-2, aku beberapa kali mengikuti pengajian dengan bintang tamu yang memang sedang tren di media sosial, mulai dari artis yang hijrah hingga ustad dengan pengikut terbanyak di media sosial.

Nggak ada yang salah dengan mengikuti acara tersebut. Salahku terletak pada kecenderunganku yang berhenti pada ustad atau artis tersebut. Aku nggak mencari ilmu di tempat atau sumber lain. Parahnya lagi, aku nggak mempelajari Alqur’an dan tafsir dari mereka yang memang sudah menjadi rujukan banyak ulama, seperti tafsir Ibnu Katsir.

Aku bisa keluar dari situasi tersebut setelah tak tahan lagi dengan ketakutan yang seharusnya tidak ada. Aku mengakui diriku yang serba tidak sempurna dan melepaskan segala belenggu yang aku ciptakan sendiri. Alhamdulillah, perlahan aku bisa kembali menikmati ibadah, yang meski nggak sempurna, tidak membuatku merasa terbebani.

Sekitar dua tahun dari hijrahku yang ke-2, baru aku sadar melalui ceramah Nouman Ali Khan bahwa setan dapat menganggu mereka yang sedang bersemangat hijrah. Jika tidak hati-hati, mereka malah bisa terjerumus ke dalam lembah kesombongan, yang justru menjauhkannya dari Alloh swt itu sendiri.

Tentunya setan hanya bisa mengganggu jika kita tidak sigap menangkalnya, bahkan tidak menyadarinya. Satu-satunya cara agar bisa sebenarnya hijrah adalah dengan mengingat Alloh swt lalu meminta agar dijauhkan dari sifat tersebut.

Hidup di Negeri Penghamba Status

Tahun ini aku mendapat pertanyaan yang cukup membuat dag-dig-dug. Bukan pertanyaan soal kapan nikah yang sudah biasa aku terima beberapa tahun ke belakang. Melainkan pertanyaan seputar dimana aku bekerja sekarang, berapa lama mengambil cuti dan sebagainya. Sementara pertanyaan kapan nikah hanya dilontarkan oleh mereka yang masih saudara, lain halnya dengan status pekerjaanku.

Siapa saja yang mengenalku bisa menanyakan hal tersebut. Awal kali aku terpaksa menjadi pekerja lepas, aku juga menghadapi sensasi seperti di atas di lingkungan kost. Bahkan, sampai sekarang ibu kost masih bertanya, “Masih belum ngantor ya, mbak?” Sementara itu, mbak dan mas penjual warteg dekat kost sudah langsung paham dengan pekerjaanku yang sekarang.

Agak susah mencari jawaban logis saat menemui tetanggaku yang di desa ini. Penduduk di desa kami bekerja sebagai petani, pedagang, karyawan pabrik, penjahit hingga buruh. Sedikit yang menempuh karir sebagai pegawai negeri, polisi atau tenaga pemerintahan. Jadi saat ditanya aku kerja dimana, aku jawab saja bahwa aku kerja di rumah atau di kost. Rata-rata terdiam sejenak. Ada yang memberi kode meminta penjelasan bagaimana maksudnya kerja di rumah. Ada yang sengaja aku jelaskan tanpa mereka minta begitu aku menangkap sinyal wajah mereka yang antara bingung atau cuek.

Singkat kata, aku biasanya bilang bahwa aku kerja di dunia internet. Pekerjaanku sekarang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan ada sinyal internet. Saat libur Lebaran tahun ini pun aku sebenarnya masih mengerjakan beberapa judul artikel. Kepada saudara sepupuku beberapa hari yang lalu, aku menjelaskan lebih lanjut bahwa pekerjaanku sekarang mirip seperti penjahit. Sementara penjahit menerima pesanan baju dalam bentuk kain mentah atau memperbaiki baju yang sobek, aku dalam bentuk tulisan.

Cukup lama aku mencari analogi yang mudah dipahami seperti penjahit di atas. Aku paham betul konsekuensi menjadi pekerja lepas yang hidup di tengah masyarakat dengan kondisi ekonomi seperti Indonesia, khususnya di desaku ini. Pekerjaanku bukan hal yang lazim. Meski sama-sama jualan, yang aku jual adalah pemikiran dan kreativitas. Bentuknya adalah tulisan, bukan baju, makanan, sepatu dan hal yang nyata lainnya.

Untungnya mereka biasanya tidak menindaklanjuti pekerjaanku saat ini. Antara cukup paham, nggak paham atau masa bodoh, yang pasti aku senang nggak ditanya-tanya lagi.

Posisiku sendiri sekarang bukan yang murni pekerja lepas melainkan in-house content writer untuk sebuah  blog desain interior. Alhamdulillah, Alloh swt memberikanku klien yang baik dan amanah dengan tawaran honor yang pantas. Jadi meski secara fisik aku hanya di kost atau di rumah, aku sudah sangat sibuk.

Sejak menulis untuk blog ini, aku sudah setop mengirim lamaran. Aku pernah menerima panggilan sebagai penerjemah tetapi aku tidak menseriusi saat tes tertulis setelah aku mengetahui gajinya. Setelah aku pikir uangnya tidak terlalu jauh dengan penghasilan yang aku bisa dapat dari menjadi pekerja lepas, aku memutuskan untuk mundur.

Aku nggak bilang menjadi pekerja lepas itu selalu bergelimang keenakan. Bisa kerja tanpa keluar rumah, ambil libur kapan pun dan memanfaatkan waktu sesuka hati untuk mencari nafkah. Itu dampak positifnya. Tantangannya jauh lebih banyak. Mencari klien, negosiasi tarif, tarik ulur tenggat waktu (jika perlu) hingga menagih pembayaran menjadi bumbu dalam dunia freelancing.

Tidak jarang kalau kepepet aku mesti menerima bayaran di bawah standar. Awalnya syok dan stres tetapi setelah beberapa bulan akhirnya aku memahami bekerja dimana pun akan mempunyai konsekuensi tersendiri. Aku pernah merasakan bekerja di perusahaan besar tetapi memilih mengundurkan diri karena tidak tahan dengan perlakuan yang kurang adil terhadapku.

Aku jadi teringat dengan salah satu mantan rekan kerjaku dulu yang memilih mundur lalu merintis usaha sendiri. Waktu itu dia bilang sudah saatnya mandiri di umurnya yang ketika itu 30an tahun. Temanku ini dari dulu sudah hobi jualan, mulai dari kaos hingga rumah. Tak berapa lama, aku yang nyemplung ke dunia ini meski dengan cara terpaksa.

Aku dan beberapa teman yang lain dipecat dari kantor kami karena masalah keuangan. Walau sedih, aku bersyukur karena merasa di kantor yang lama aku nggak berkembang. Pada akhirnya aku jalan sendiri dengan kemampuan dan koneksi terbatas di sekitarku. Melihat ke belakang rasanya kondisi sekarang ini berbalik 180 derajat.

Dulu waktu kuliah aku ingin bekerja tetap di perusahaan besar layaknya cita-cita mahasiswa tanah air pada umumnya. Aku pernah mencoba tes CPNS beberapa kali tetapi gagal. Ternyata setelah masuk ke kantor impian, kenyataan tidak semanis impian. Entah aku yang tidak sabar, kurang bersyukur atau apa pun itu, yang jelas pergumulan di dunia kerja pada akhirnya menempatkan aku pada dua pilihan penting: mantap berada di kantor yang sekarang atau memilih mandiri.

Dari 1,5 tahun ke belakang, ternyata Alloh swt membukakan jalan ke jalur freelancing, yang setelah aku pikir-pikir cocok dengan sifatku yang keras kepala dan selalu penasaran akan banyak hal ini. Walau tak lagi mengenyam THR atau bonus, hidupku baik-baik saja. Menjadi pekerja lepas membuatku melihat rezeki dari banyak sudut pandang. Dulu hidupku benar-benar habis untuk bekerja. Sekarang aku jadi mempunyai waktu untuk mengurus keluarga, kehidupan sosial hingga komunitas.

Yang tak terbantahkan menjadi freelancer mengajarkanku rasa lega tidak terkira bisa berdiri di kaki sendiri. Walau masih merasa deg-deg an ditanya “kerja dimana”, aku lantas lega bisa melewati fase pertanyaan status tersebut. Dari situ aku belajar, tidak perlu semua pertanyaan orang aku gubris. Terkadang mereka hanya basa basi, jarang yang benar-benar serius.

Hidup di negeri ini memang agak sulit untuk seperti slogan “yang penting aku bahagia, masa bodoh apa kata orang”. Aku rasa dengan pekerjaanku yang sekarang aku bisa belajar bisa tetap bersyukur dan puas tanpa harus menutup kuping atas apa omongan orang. Aku rasa itu cukup.

 

 

 

 

Igniting the Long-Rested Passion

Although I work as a professional content writer on a daily basis, I don’t consider that as a hobby. Alhamdulillah (Thanks to Alloh swt) that I have been writing for an interior design website for almost two months. I am so fond of home interior designing despite very little technical knowledge about it. I prefer home interior designing to culinary. That stems from my opinion that beauty can come from our own space.

After that many weeks, I got a holiday. I was enjoying four or five days off from the day-to-day job so I returned to this blog. From that occupation, I learned one profound thing. That I have to separate between writing or blogging as a hobby and writing as a professional blogger.

As such, despite the fact that I write every day, I don’t regard this as doing my hobby. One clear reason for this lies on writing privilege. As a pro writer, of course I can’t write whatever I wish. I have a good client who orders me writing good pieces of article with a handful of keywords.

In the long holiday, I forced my fingers to type things that led me re-embracing things that I love most which refers to writing on simple issues. Since I hadn’t read again high literature novels I wouldn’t be writing about it this time around. I let my fingers keep writing for channeling what went inside my brain.

In addition to busy working schedule, I have been very selective reading materials. This habit has been around for some months. As a matter fact, I have been limiting myself to read fiction, canon literature is no exception. I have been guarding my emotion since I have committed to retouch my faith or iman as a moslem.

Somewhere between that long hiatus, I couldn’t deny something had been missing. I couldn’t dismiss my long-time fondness over literature and blogging. I believe speaking out for things that I deem important, beneficial (at least for myself) are necessary. Thus, I decided to visit some websites that sparked joy in reading for various affairs, from international politic to literature.

My favorite websites were BBC.co.uk, Lithub.com and The Atlantic. They never fail reconnecting me to once beloved areas when I was working as a journalist. After some deep reading to various articles, I gained energy and bravery to sort of putting into words in this blog again.

Like an athlete (though I don’t see myself as a pro one) who takes long rest, he or she can’t perform at top level at once. That applies to some articles that I will write in this blog later on. In case you find the articles slightly head nowhere or bring no points, please bear with me for more writing exercises.

That hopes to yield better outcomes in pieces to come.

Finding Our Way Back to the Right Path

Our own life is sweeter than fiction. We only need to look inward.

If our lives were home made of bricks, have you ever thought how many bricks it would require? Strong, well-arranged bricks will certainly lead to solid house that stays tall against heavy rainfall or lightning. The type of bricks doesn’t come in easy. For each brick, there requires dense clay that later undergo careful molding. After being put in square-shaped blocks, the clay are exposed to burning sun. Then, the clay turn into red bricks, ready to shape a robust and resilient house.

From the flabby clay to the tough house, our journey undergoes similar process. A weak baby each of us was, Alloh swt allowed us to have grown into well-built human being. With that physical development, emotional and spiritual experiences have accompanied our growth.

Each of us is His perfect creation that gains strength through physical, spiritual and physiological trials and tribulations. Yet, we don’t sometimes notice the loopholes and thorns that once sting our skin and tear us apart. We forget how we once cry ourselves to sleep with heart completely broken. We can’t seem remind ourselves how tears rolling down our cheeks with eyes staring at bus window.

We let our mind remember more on problems, not on how we manage to survive. We count our lives on people’ supports not on Alloh swt and our own soul. We thank friends and relatives on their helps. We send emojis for their time listening to our problems. We forget that even before we open our mouth or type the words, Alloh swt is listening and knowing.

We rely on His creations because He is the Unseen. We can’t talk to Him face-to-face. We can’t get His written message or hear His words that straightly answers our problems. We run to self-help books, positive quotes, hadists, songs, movies and friends because they are visible.

Until there comes the time when the books no longer satisfy our hearts. The quotes convey the same messages. We read the same hadists over and over again. The songs and the movies don’t feel good anymore. And we realize our friends are mere human beings who get bored with our same stories. And that they can get exhausted just to reply our message with sweet emoticons.

The already painful scar hurt us even more with unmet expectations. We can’t believe we feel completely alone. There’s no one who can listen to us as we expect them. In the darkness, suddenly we feel there’s a helping hand that pushes us going up from the hole of a tunnel that bury us under. A ray illuminates at tunnel’s end that encourages us to just keep going. And once we take small steps, our feet get lighter to trod on.

The tunnel is now lost and nowhere as our eyes look forward. Unlike previous misery that leaves us with void hole in the hearts, we recognize something different. We get refreshed and purified. The hole in the hearts is now completed. We now hold on unwavering grip.

Bismillahirohmanirrohim, ya Alloh swt please help us not losing this unexpected gift. Assist us to hang on it as life gets harder to live by, amiiin..

 

Is He really number 1 in our lives? (Inspired by Nouman Ali Khan)

Agreeing that Alloh swt is the Creator of the universe is easy. Accepting that He is the One who decides outcome of our attempts and organizes our lives is not that simple, for some believers.

During pre-Islam era, doing syirk was visible. Idols, statues, trees, animals, sun, among others, were gods for certain tribes or nations. Sometimes we thought that after Islam came, syirk was no longer present among us in modern time. But syirk remains exist and this may not be realized for some believers. I myself was one of them. Alhamdulillah, Alloh swt saved me. He gave me time to have realized that I had some other gods. Through very painful experiences, He handed a very precious gift that the more I am holding to it tightly, the more I am so blessed to be His slave. That gift was coming back to Him sincerely.

Alloh swt presents each and every of His slave unique experience through which he or she can hopefully understand what goes wrong in his or her life. My story? It relates to my romance life. I had been falling with some men since I was a university student. Lately, I realized that Alloh swt brought these amazing men into my life to have taught me that I had very weak iman (faith) on Him. It was very easy for me to have made these men into my other gods.

I depended how my days looked like upon my interactions with them. My mood was based on their attitudes to me. Fighting for their love, acceptance became my number one goal. Alloh swt was mostly nowhere. I believed I would be happy if I won their love and attention.

This pattern occurred several times until one day Alloh swt met me with another man who eventually from him Alloh swt forced me to have learnt about what true iman is in hardest way ever. So confusing that I had no one to have turned to, but Alloh swt. At that time, I left my problem to Him then learnt to reduce my expectation on people. Alhamdulillah, that was the time when I completely reinforced my iman and has been clasping it through ups and downs.

Some may encounter different ways. There are people who devote most of their lives for money, health, travelling, spouses and even children. When they do, they may indirectly make His creations into their other gods. The indications are they only remember Alloh swt during salah. What occupy their minds most are their problems or His creations.

Some think mostly how to reduce how many kilograms within certain weeks or months. Others focus on how to earn this or that much money within targeted time. Others revolve their lives around their kids’ successful lives. Worse, there are some who don’t realize they make their egos as other gods. They force upon things or people so that they do or say as they wish them to. They justify their behaviors. They believe they are better than others and don’t take critics. Those are the times when they no longer make Alloh swt as the top priority in their lives.

When that happens, their intentions are not for Alloh swt. When they perform salah, they wish for certain things or people. When they pray, they beg Alloh swt for realizing their wishes. While as a matter of fact, as a humble servant, we must know our position. We can ask for certain things or people but not beg Him to grant our wishes. Because it is only Alloh swt who knows best and what will go unjust in our lives if we persist on demanding the same things or people.

For myself, maintaining iman and khusnudzon to Allloh swt is very difficult task in times when everything demands visible or written evidence. Add to that is public’ expectations, stereotypes and “normalcy” and seemingly endless problems that come into my life. Alhamdulillah, again, I have been learning to no longer relying upon myself alone. I have been internalizing His guidance in Alqur’an as a stick or solid rope in this life. With that said, I hope I am on the right track to always make Alloh swt is my number 1.

Reference: “Master and Slaves”, a video by Nouman Ali Khan by Bayyinah Institute.